Breaking News:

News

Warga Tiga Kampung di Sumba Timur Kangen Listrik tak Tahan Lagi Hidup Gelap, Ini yang Mereka Lakukan

Karena tak ingin hidup terus dalam kegelapan, belasan perwakilan warga setempat mendatangi Kantor Bupati dan Kantor DPRD Sumba Timur, Senin (27/1)

Penulis: Robert Ropo | Editor: Benny Dasman
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Puluhan warga sedang berbicang dengan Asisten III Sekda Sumba Timur, Lu Pelindima 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Robert Ropo

POS KUPANG, COM, WAINGAPU - Sembilan puluh tujuh kepala keluarga (KK) warga Kampung Kamaru, Kamangi dan Matawai Karungu, Desa Tana Manang, Kecamatan Pahunga Lodu, Sumba Timur, hingga saat ini belum menikmati listrik.

Karena tak ingin hidup terus dalam kegelapan, belasan perwakilan warga setempat mendatangi Kantor Bupati dan Kantor DPRD Sumba Timur, Senin (27/1) siang, menyerahkan proposal perluasan jaringan listrik PLN ke Desa Tana Manang.

Saat tiba di kantor bupati, warga tidak menemui Bupati Gidion Mbilijora karena masih bertugas di luar daerah. Warga diarahkan bertemu Asisten III, Lu Pelindima, dan menyerahkan proposal ke Bagian Umum Setda Sumba Timur.

Di kantor DPRD, warga menyerahkan proposal di Bagian Sekretariat Dewan (Setwan), tidak bertemu pimpinan DPRD, hanya bertemu anggota DPRD Sumba Timur, Yosua Katanga Maujawa, untuk menyampaikan aspirasi.

Hapu Umbu Andung (44), warga Tana Manang, mengakui hidup tanpa listrik sangat menderita. Umbu Andung mengatakan, jarak dari jalan Nasional Waingapu-Baing yang sudah dilalui jaringan listrik ke tiga kampung itu hanya 800 meter lebih.

"Kami sudah mengajukan usulan perluasan jaringan listrik ke PLN, juga melalui musrenbang, namun belum terealisasi," ujar Umbu Andung.

Karena belum ada jawaban, lanjut Umbu Andung, mereka mengajukan secara resmi melalui proposal untuk perluasan jaringan listrik PT PLN kepada Pemda dan DPRD Sumba Timur. "Harapannya melalui proposal itu aspirasi kami cepat dikabulkan mengingat kami sudah sangat rindu listrik," tutur Umbu Andung.

Warga lainnya, Kalukur Lijang (53) menambahkan, selama bertahun-tahun mereka hidup gelap gulita di malam hari. Mereka menggunakan lampu pelita sebagai penerangan malam.

"Pakai lampu pelita kalau tertiup angin padam, anak-anak belajar sangat terganggu, kita mau aktivitas usaha juga tidak bisa," keluh Lijang. "Kami siap biaya pasang meteran listrik dan siap menjadi pelanggan setia. Besar harapan usulan kami segera terjawab," tambah Lijang. *

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved