Breaking News:

Hak Atas Tanah Gua Bitauni dan Sekitarnya Sah Milik Gereja Katolik Keuskupan Atambua

majelis Hakim Pengadilan Negeri Kefamenanu Kelas II akhirnya memutuskan menggugurkan gugatan para penggugat, Gregorius Taneo, Gabriel Anunut, dan Niko

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI/
Kuasa Hukum Keuskupan Atambua, Yoseph Maisir, SH.   Area lampiran 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU-Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kefamenanu Kelas II akhirnya memutuskan menggugurkan gugatan para penggugat, Gregorius Taneo, Gabriel Anunut, dan Nikolaus Naikofi terhadap hak kepemilikan atas tanah Gua Bitauni dan sekitarnya.

Oleh karena majelis hakim telah memutuskan gugur, maka seluruh rangkaian persidangan selesai dan konsekwensinya bahwa tanah yang menjadi obyek sengketa yakni Gua Bitauni dan sekitarnya yang digugat oleh para penggugat, sah milik tergugat yakni Gereja Katolik Keuskupan Atambua.

Kuasa Hukum Keuskupan Atambua, Yoseph Maisir, SH mengatakan hal tersebut kepada wartawan usai mendengar sidang putusan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Kefamenanu pada, Selasa (28/1/2020).

Setiap  Malam di UGD RSUD Maumere Dibludaki Penderita DBD

Maisir mengungkapkan bahwa, sidang yang dijadwalkan, Selasa (28/1/2020) tersebut seharusnya beragendakan replik. Tapi karena para penggugat telah dipanggil tiga kali secara sah dan patut sesuai dengan hukum acara juga tetap tidak hadir.

Karena para penggugat tidak menghadiri persidangan, maka majelis hakim memutuskan untuk bermusyawarah. Sidang diskors sekitar setengah jam dan setelah selesai bermusyawarah, sidang dilanjutkan, dan majelis hakim membacakan putusan.

"Putusannya adalah gugatan para penggugat itu digugurkan. Memang dari sisi hukum acara, putusan dari pengadilan itu sudah menjawab ketentuan hukum acara kita. Sehingga dengan putusan gugurnya gugatan para penggugat, dengan sendirinya tanah obyek sengketa dalam hal ini, Gua Bitauni dan sekitarnya sah milik Gereja Katolik Keuskupan Atambua," ungkapnya.

Daftar Formasi Garang Arema FC Liga 1 Musim 2020, Ada Aua Persib Bandung, SIMAK Bursa

Maisir menjelaskan, putusan menggungurkan gugatan dari para penggugat tersebut memang belum sampai menyentuh substansi dari kasus. Namun putusan itu berarti perkara telah selesai dan berakhir sampai dengan pembacaan putusan.

"Sehingga konsekuensinya, para penggugat kehilangan haknya dan para tergugat memiliki haknya atas tanah itu. Sebab faktanya sampai saat ini, penguasaan terhadap obyek sengketa itu ada di pihak tergugat, dalam hal ini Gereja Katolik Keuskupan Atambua," pungkasnya.

Maisir menyatakan, pihaknya sangat kecewa dengan sikap dari para penggugat yang tidak dapat mengikuti persidangan sampai dengan selesai. Namun sebagai warga negara yang baik, pihaknya menghormati keputusan dari majelis hakim tersebut.

Maisir mengungkapkan, proses persidangan tersebut memberikan pembelajaran yang berarti kepada seluruh masyarakat, bahwa jika nantinya ingin melakukan gugatan maka harus serius terhadap gugatan tersebut.

"Jangan Kemudian asal menggugat. Ya hasil seperti ini. Gugat lari-lari. Menjadi cacatan buruk. Jadi kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita gugat," tegasnya. (mm)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved