Pemdes dan Masyarakat Diminta Cari Solusi Terkait Ternak yang Berkeliaran Bebas
Gedung yang biasa digunakan untuk kegiatan pentas seni dan kegiatan kemasyarakatan tersebut tampak menjadi "kandang" Kambing
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
Pemdes dan Masyarakat Diminta Cari Solusi Terkait Ternak yang Berkeliaran Bebas
POS-KUPANG.COM | MBAY -- Gedung sanggar seni di Desa Bidoa Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo dipenuhi kotoran Kambing, Minggu (26/1/2020).
Gedung yang biasa digunakan untuk kegiatan pentas seni dan kegiatan kemasyarakatan tersebut tampak menjadi "kandang" Kambing oleh warga diseputaran gedung tersebut.
Sejumlah warga meminta Pemerintah Desa (Pemdes) bersama masyarakat duduk bersama mencarikan solusi terbaik untuk mengatasi hal ini. Selain itu, menertibkan hewan yang berkeliaran di jalan raya terlebih khusus di simpang tiga Aegela yang sudah menjadi icon Desa Bidoa.
Warga Bidoa, Kanisius Bai, mengaku hal tersebut terjadi sejak lama. Gedung tersebut seolah-olah sudah menjadi kandang oleh pemilik ternak karena Kambing dilepar liarkan.
"Sudah biasa itu kambing-kambing !tidur di tribun. Bahkan, aanggar seni yang dibangun dengan anggaran ratusan juta dijadikan kandang kambing dengan fasilitas mewah beralaskan keramik dan lampu yang terang," ujar Kanisius.
Kanisius mengaku di Desa Bidoa hanya bisa melahirkan ide-ide dan menghadirkan program, sedangkan pemanfaatan dan pemeliharaan hampir-hampir tidak ada.
"Jadi hal itu yang membuat masyarakat di sini merasa kesal. Sangat mengherankan para aparatur desa satu hari full bekerja di ruangan kantor. Pokoknya sudah bekerja maksimal seperti ASN. Tujuan pelayanan mereka di kantor itu buat apa? Kira-kira mereka melayani siapa? Kalau mereka adalah pelayan masyarakat, kenapa harus di kantor terus," ujar dia.
Kanisius berharap Pemerintah Desa segera melakukan kunjungan di setiap Dusun maupun RT untuk bertemu langsung dengan masyarakat, sekaligus mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam penertiban ternak dan sebagainya.
Tokoh muda Desa Bidoa, Vhian Dallu, mengaku, berawal dari banyaknya keluhan masyarakat tentang hewan ternak liar seperti Sapi dan Kambing yang kerap merusak tanaman di pekarangan atau ladang milik warga ataupun "berkantor" dalam fasilitas umum seperti perkantoran maupun sarana fasilitas sanggar seni, dirinya sebagai orang muda Desa Bidoa berharap ada solusi dari keluhan masyarakat.
"Sebaiknya Kades, perangkat, serta masyarakat menggelar musyawarah membahas solusi terbaik atas keluhan tersebut. Saya rasa kalau hal itu terus dibiarkan saja tentu dapat menimbulkan konflik perpecahan antar warga. Oleh sebab itu seluruh ternak wajib dikandangkan atau dilarang berkeliaran. Sanksinya bagi yang melanggar pemerintah desa harus berikan denda," ujar Vhian.
• Luna Maya Curhat ke Ashanty & Anang Pernah Diajak Nikah Sang Mantan, Siapa?
• Penjelasan PT. Setia Jaya Nirwana Terkait Persoalan Upah Dengan Lukas Tamo Ama
Lanjut Vhian, selain sebagai solusi dari keluhan masyarakat, Perdes ternak harus diterapkan sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam rangka penertiban ternak liar di permukiman masyarakat yang selama ini masih belum maksimal dijalankan.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sanggar-seni-desa-bidoa.jpg)