Harga Garam Rakyat Jatuh Hingga Rp300 per Kg

Harga garam rakyat saat ini antara Rp300 per kg sampai dengan Rp600 per kg. Tahun lalu harga garam antara Rp1.000 per kg sampai dengan Rp1.200 per kg.

Harga Garam Rakyat Jatuh Hingga Rp300 per Kg
Dok Humas Setda Kupang
Bupati Kupang, Korinus Masneno bersama pejabat lainnya pada panen garam di Bipolo, Kecamatan Sulamu, Rabu (16/10/2019). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Rencana pembukaan kembali keran impor garam, membuat harga garam rakyat jeblok.

Apalagi saat ini produksi garam cukup tinggi. Harga garam rakyat saat ini antara Rp300 per kg sampai dengan Rp600 per kg. Tahun lalu harga garam antara Rp1.000 per kg sampai dengan Rp1.200 per kg.

Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko mengatakan ada hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan harga garam antara lain mewajibkan industri menyerap garam rakyat.

"Impor memang perlu karena masih kurang untuk industri ini. Tapi paling tidak kewajiban teman-teman importir ini juga adil dalam menyerap garam dalam negeri," katanya di sidang Komisi IV DPR Senayan Jakarta Pusat, Selasa (21/1).

BP Jamsostek Tegaskan Dana Investasi yang Dikelola Aman

Indonesia Kenalkan Kopi dan Topi NTT dalam Pertemuan Tahunan WEF

Ia mengatakan industri sebenarnya bisa menggunakan garam rakyat atau garam PT Garam persero dalam produksinya. Misalkan saja dalam industri aneka makanan, tekstil dan banyak lagi.

"(Produk) PT Garam pun bisa untuk sosis, bisa untuk kecap. Kita tidak anti-impor. Impor memang perlu karena masih kurang untuk industri ini. Tapi paling tidak kewajiban teman-teman importir ini juga adil dalam menyerap garam dalam negeri," ungkapnya.

Ia mencontohkan, industri kertas yang misalkan memproduksi 250 ton per tahun, maka industri bisa mengambil 10 persen sampai 20 persen dari garam lokal. Selanjutnya untuk aneka pangan yang misalkan memproduksi 500 ribu ton, maka bisa mengambil garam 25 persen dari produksi.

"Masa yang makanan juga mengganggu terhadap peralatan produksi mereka? Kan enggak. Buktinya PT Garam juga kirim ke Sumatera Utara itu juga sebagian untuk kecap, saos, sosis, cake, roti dan sebahainya," ungkapnya.

Serapan Garam Menurun

Budi Sasongko mengatakan, serapan garam rakyat oleh PT Garam (persero) tahun 2020 jauh turun dibandingkan tahun lalu. Penurunan hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Ia menyebut tahun ini perusahaan hanya mampu menyerap 15.000 garam rakyat.

"Tahun 2020 mungkin hanya cukup untuk (penyerapan) 15.000 ton. Tahun sebelumnya 29.000 ton," kata Budi.

Disebutkan alasan penyerapan tahun ini turun, karena sisa dana PNM tahun 2020 yang hanya tersisa Rp14 miliar. Untuk meningkatkan penyerapan garam rakyat, maka butuh dana Rp500 juta sampai dengan Rp600 juta lagi.

"Kalau mungkin sekarang itu serapan garam rakyat buffer stock anggaplah kira-kira 500.000 ton (serapan garam) kalikan dengan harga rakyat yang layak. Kalau saya lihat kan rakyat minta Rp1.000 per kg sampai Rp1.200 per kg. kalikan saja itu," jelasnya. (kompas.com)

Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved