Breaking News:

Berita Cerpen

Cerpen Riko Raden: Ibu Siti Sedang Dirundung Duka

Cerpen Riko Raden: Ibu Siti Sedang Dirundung Duka. Langit menjadi gelap, guntur bergemuruh dan hati menjadi gundah malam itu.

pos kupang
Cerpen Riko Raden: Ibu Siti Sedang Dirundung Duka 

"Tetapi ibu selama ini tidak memberitahukan kepadaku bahwa ayah telah meninggal dunia."
"Maafkan aku anak. Ibu sangat bersalah. Tapi jangan lagi berbuat seperti tadi. Aku tidak ingin engkau juga pergi meninggalkan ibu seorang diri."

"Iya ibu. Aku berjanji tidak akan terulang lagi perbuatan tadi."
Sebagai seorang ibu yang baik, ibu Siti memeluk dan mencium kepala anaknya. Ia sangat mencintai putrinya ini bak tumbuhan mencintai air dan sinar matahari.

Ia ingin agar putrinya bertumbuh menjadi gadis yang selalu dikagumi oleh kaum adam.

Forum Sahabat Literasi NTT Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Ryant Kopling

Kemudian pada suatau hari, ibu Siti sedang berada di kebun ingin menanam padi. Ia pergi ke kebun tanpa ditemani anaknya itu. Karena ia tahu anaknya sudah besar. Ibu Siti membiarkan anaknya bermain bersama teman-temannya.

Ketika ibu Siti sedang asik beristirahat sambil menikmati seteguk demi seteguk kopi Manggarai, tiba-tiba suara batinnya berbisik agar ia cepat pulang ke rumah. Ketika suara batinnya seperti itu, ia bergegas dan kembali ke rumah.

Ia melihat rumahnya sangat sepi. Barangkali anakku sedang bermain di rumah tetangga atau mungkin sedang tidur. Katanya dalam hati. Kemudian ia pelan-pelan membuka pintu lalu masuk ke dalam rumahnya. Ia memanggil anaknya dengan nada halus. Tetapi anaknya tidak menjawab.

"Anakku, apa yang kau lakukan?" Tanya ibu Siti yang melihat anaknya sedang berada di dalam kamar tidur ingin melakukan bunuh diri seperti hari kemarin.

Anaknya langsung menoleh. Tak merespon dengan kata-kata ibunya,lalu kembali memandang ke atas melihat tali. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya.

"Anakku, jangan lakukan. Itu sangat bahaya sekali." Kata ibu Siti dengan nada sedih.
"Aku ingin bunuh diri ibu. Aku lebih baik mati daripada hidup tanpa seorang ayah." Jawab anaknya. Lagi-lagi ia ingin bunuh diri dengan alasan ayahnya tidak ada. Barangkali ia ingin agar ibu dengan jujur kalau ia lahir tanpa seorang ayah.

Pemkot Kupang Tata Ulang Tiga Kawasan, Adrianus Tali Ingatkan Masyarakat Tidak Boleh Dirugikan

"Anakku. Suara ibu Siti sangat halus dan pelan. Jangan lakukan itu. Ayahmu meninggal dunia karena sakit. Waktu dia pergi, aku masih mengandungmu. Nak. Jangan lakukan itu. Aku mohon." Air mata ibu Siti sudah membasahi pipi yang sudah tidak awet lagi.

"Aku tidak percaya sama ibu kalau ayah meninggal dunia karena sakit. Ketika aku pergi bermain di rumah tetangga, mereka cerita kalau aku lahir tanpa seorang ayah. Artinya ibu mengandung aku dengan seorang lelaki anonim, hasil hubungan gelap. Aku merasa diasingkan sekali ketika mereka cerita seperti itu ibu.
Apakah ini benar ibu?" Tangannya sambil mengambil tali yang sudah disediakan di depan matanya.

"Anakku. Aku telah membesarkan engkau dengan sederhana. Merawat dirimu hingga tumbuh menjadi putri yang cantik. Aku mohon, jangan percaya cerita dari tetangga kita. Dari dulu mereka ingin menghancuri hidup ibu, tetapi ibu tetap kuat dan terus membesarkan dirimu. Aku mohon, jangan lakukan itu.

Anakku, percayalah pada ibu bahwa ayahmu meninggal dunia karena sakit." Ibu Siti pelan-pelan menghampiri anaknya.
"Tidak ibu. Aku tetap tidak percaya kalau ayah meninggal dunia karena sakit. Aku lebih baik mati daripada terus menjadi bahan olokan tetangga. Maafkan aku ibu."

Bupati TTS dan Kepala OPD Keroyokan Bantu SD Negeri Oetimu

"Annnnaaaaaakkkkkkkkkkkuuuu! Teriakan ibu Siti melihat anaknya telah gantung diri pada depan tali yang berada dekat leher anaknya itu. Ia terlambat menghampiri anaknya untuk menyelamatkan anak semata wayangnya ini.

Seketika itu ibu Siti pingsan tak sadarkan diri berjam-jam. Ia pun tidak sadar ketika tetangga datang menurunkan anaknya dari atas gantungan lalu pergi bawa ke rumah sakit. Di sana anaknya dimandikan kemudian dibawa pulang menggunakan ambulan.

Ketika ibu Siti sadar, mayat anaknya sudah ada di depan pintu. Ibu Siti mendekati mayat anaknya sembari menangis merasakan kesedihan yang mendalam. "Kenapa kau jadi seperti ini anak. Kau satu-satunya anak ibu yang berharga di dunia ini. Mengapa kau tinggalkan ibu?"

Sedih, menangis tersedu-sedu sambil memeluk mayat anaknya. Tangisan ibu Siti semakin keras ketika dia mengingat kembali perjuangan hingga anaknya tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik.

Kini, dunia ibu Siti terasa gelap dan kosong. Ia hidup seorang diri tanpa ditemani orang-orang yang dicintainya. Barangkali ini rencana Tuhan dalam hidupku. Kata ibu Siti dalam hatinya.
(Riko Raden, mahasiswa STFK Ledalero. Suka menulis puisi dan cerpen. Tinggal di Unit St. Rafael Ledalero).

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved