30 Orang Anak Di Ende Berususan dengan Hukum, Ini Persoalannya

Selama tahun 2019 tercatat ada 30 orang anak di Kabupaten Ende berurusan dengan hokum baik sebagai pelaku dan korban juga s

30 Orang Anak Di Ende Berususan dengan Hukum, Ini Persoalannya
POS-KUPANG.COM/ROMUALDUS PIUS
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende, Marmi Kusuma 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM,ENDE—Selama tahun 2019 tercatat ada 30 orang anak di Kabupaten Ende berurusan dengan hokum baik sebagai pelaku dan korban juga saksi.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende, Marmi Kusuma SH mengatakan hal itu kepada Pos Kupang.Com, Minggu (19/1/2020) di Ende.

Marmi mengatakan sesuai dengan data yang ada baik dari kepolisian dan kejaksaan tercatat bahwa sebanyak 30 orang anak di Ende berurusan dengan hokum selama tahun 2019.

Menurut Marmi ketika ada anak yang berurusan dengan hokum baik sebagai pelaku maupun korban dan juga saksi maka pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Ende guna memberikan pendampingan kepada anak yang bersangkutan.

Hal itu dilakukan agar anak yang bersangkutan tidak terganggu secara mental ketika menghadapi proses hokum terutama yang menjadi korban seperti kekerasan seksual maupun kekerasan fisik lainnya.

“Dari Dinas Sosial menyiapkan pendamping untuk mendampingi anak bersangkutan baik pada saat penangaan di kepolisian maupun pada saat persidangan di pengadilan,”kata Marmi.

Bahkan pada saat persidangan selain digelar secara tertutup juga hakim yang menyidangkan perkara anak juga tidak mengenakan toga agar memberikan ketenangan kepada anak pada saat proses persidangan,”kata Marmi.
Marmi mengatakan bahwa dari 30 anak yang berurusan dengan hokum pada umumnya adalah korban kekerasan seksual serta pelaku pencurian.

Oleh karena itu pihaknya meminta peran serta semua pihak terutama orang tua agar memperhatikan keberadaan anak-anak mereka agar tidak menjadi korban maupun pelaku tindakan kejahatan.

Menurut Marmi, anak-anak kerap berurusan dengan hokum baik sebagai pelaku maupun korban disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orang tua sehingga memungkinkan anak-anak melakukan berbagai aksi kejahatan yang melanggar hokum.

Apalagi saat ini ujar Marmi dengan era keterbukaan apabila tidak ada control dari orangtua maka anak-anak bias mengakses maupun bergaul dengan sesamanya yang belum tentu baik untuk tumbuh kembang anak baik fisik dan mentalnya.

Area lampiran

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved