Opini Pos Kupang

Bukan Perak, Bukan Emas Pula (Belajar dari Kesalahan Argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Baca Opini Pos Kupang: bukan perak, bukan Emas pula (belajar dari kesalahan argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Bukan Perak, Bukan Emas Pula (Belajar dari Kesalahan Argumen-argumen Politik Anies Baswedan)
Dok
Logo Pos Kupang

Dalam masa kepimpinannya sebagai Gubernur Jakarta peminggiran pluralisme oleh radikalisme berbau amis agama dan etnosentrisme semakin menjadi-jadi. Ini menjadi probelm sosial negara. Teori asal usul untuk mengafirmasi dan mempertajam radikalisme etnis dan agama tertentu menjadi bumerang kehidupan bersama.

Dengan mengabaikan kehadiran dan keberadaan dari kelompok, etnis, ras dan agama lain memiskinkan hakekat dasar negara Pancasila. Ini adalah kemiskinan sosial. Kita masih minim akan pengetahuan tentang pluralisme.

Kita belum mampu melihat bahwa pelangi Indonesia dengan keragaman warna memperindah Sabang sampai Merauke.

Tentang kenyataan ini penulis teringat celotehan klasik ala Gus Dur: , .di Indonesia, antara yang dibicarakan dan yang dikerjakan beda". Berbicara tentang kemajuan negara ternyata gampang-gampang susah. Alasanya sederhana: pemikiran-pemikiran cerdas ditarik mundur oleh nafsu-nafsu memimpin tanpa kualitas.

Memang berbicara bukan emas. Bicara hanya perak. Namun perludi ingat berbicara memiliki pertautan erat dengan kebebasan manusia. Sehingga kita perlu berbicara. Tentunya berbicara dengan bobot. Bukan berbicara minus kualitas ala Baswedan.

Mengapa? Kita tidak hidup dalam kediktaturan. Indonesia adalah negara demokrasi dan bukan negara agama. Sehingga pembicaraan dalam tingkat politik seyogyanya bisa mengayomi pluralitas. Politik berupaya semaksimal mungkin berpihak pada realitas masyarakat.

Alasan lainnya bahwa kadang diam juga bukan emas! Ketika kita tidak mampu membicarakan sesuatu yang perlu untuk dibicarakan. Persoalan-persoalan konkrit dalam masyarakat didiamkan.

Di situ diam menjadi senjata-senjata ampuh bagi pemimpin seperti Gubernur Jakarta. Diamnya masyarakat ibu kota terutama kelompok-kelompok radikal pendukung Pak Anies Baswedan menjadi peluang untuk beliau bisa berbicara.

let's be honest !kita sebagai rakyat membutuhkan pemimpin. Di satu sisi, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya bisa berbicara dan menata kata-kata. Di sisi lain kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya mampu mendiamkan persoalan urgen dengan kebohongan.

Kita juga tidak membutuhkan retorika lip service seorang pemimpin. Alasannya jelas, bicara yang bukan perak dan bukan emas pula akan menciptakan sampah-sampah verbal. Tumpukan sampah verbal akan menimbulkan penyakit sosial.*

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved