Opini Pos Kupang

Bukan Perak, Bukan Emas Pula (Belajar dari Kesalahan Argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Baca Opini Pos Kupang: bukan perak, bukan Emas pula (belajar dari kesalahan argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Bukan Perak, Bukan Emas Pula (Belajar dari Kesalahan Argumen-argumen Politik Anies Baswedan)
Dok
Logo Pos Kupang

Membaca realitas merupakan sebuah proses intelektual: melihat, memahami, melihat kembali, direfleksikan dan dimemorikan (kalau bisa ditulis). Kemudian kalau perlu baru berbicara.

Berbicara dalam tahapan intelektual berarti seorang pemimpin tidak harus mengatakan semuanya apa yang dia/ia ketahui namun betul-betul mengetahui dan memahami secara baik apa yang dia/ia katakan. Memalukan kalau seorang pemimpin mudah sekali mengatakan sesuatu tentang apa yang dia/ia tidak tahu dan tidak paham.

Membaca dalam arti sesungguhnya juga adalah sebuah proses perjumpaan dialektis dengan realitas. Dengan membaca kita bisa tertantang untuk mampu mengeritisi diri sendiri.

Dalam arti bahwa saya mengetahui apa yang saya tahu dan mengetahui apa yang saya tidak tahu. Sekaligus mampu untuk mengatakan apa yang saya bisa buat.

Dengannya saya secara jujur mengatakan tidak untuk apa yang saya tidak bisa buat. Oida ouden eidos, kata Sokrates, saya tahu bahwa saya tidak tahu. Sehingga membaca adalah sebuah proses filosofis. Memilah dan jujur pada realitas. Realitas dilihat sebagai kenyataan. Bukan menjadi bahan untuk diandai-andaikan.

Sebagai pemisal kebanyakan warga masyarakat Jakarta miskin. Hidupnya seperti telur di ujung tanduk. Namun karena sang Gubernur hidupnya seperti kutilang dalam sangkar emas sehingga beliau melihat semuanya emas. Dengannya, ketika ditanyai tentang solusi serius mengenai persoalan banjir dengan sangat entengnya beliau menjawab: tuh, anak-anak senang bermain kalau ada banjir".

Banyak pakar politik, sosial dan ekonomi mengomentari agar beliau melepaskan jabatan. Namun mereka lupa bahwa Pak Baswedan past imalu mau melepaskan jabatannya. Untuk mendapatkan jabatan gubernur saja susah, masa dengan mudah untuk melepaskannya.

Demi mendapatkan pangkat, jabatan dan harga diri sebagai pemimpin beliau berani memilih perang dengan pendukung Ahok. Mana mungkin dan mana tahan beliau secara damai melepaskannya. Nanti dibilang pedang makan tuannya.

Di sinilah kecerdasan masyarakat ibu kota negara dipertanyakan. Jakarta itu luas namun sempit. Sempit ketika dipenuhi oleh masyarakat pendukung-pendukung kecerdasan dan smart ala Baswedan.

Viralisasi statement-statement politik Baswedan sama saja menghilangkan harga diri masyarakat. Ini racun mematikan bagi rasionalitas. Jakarta memang ibu kota negara tetapi sepertinya asing sekali dengan demokrasi.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved