Opini Pos Kupang

Bukan Perak, Bukan Emas Pula (Belajar dari Kesalahan Argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Baca Opini Pos Kupang: bukan perak, bukan Emas pula (belajar dari kesalahan argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Bukan Perak, Bukan Emas Pula (Belajar dari Kesalahan Argumen-argumen Politik Anies Baswedan)
Dok
Logo Pos Kupang

Baca Opini Pos Kupang: bukan perak, bukan Emas pula (belajar dari kesalahan argumen-argumen Politik Anies Baswedan)

Gabriel Adur, Penulis Pastor Peminat Masalah Sosial dan Kemiskinan Global
Bekerja di Keuskupan Agung Freising-Jerman

POS-KUPANG.COM - BERBICARA adalah perak dan diam adalahemas. Orang yang tidak banyak bicara bahkan tidak mengatakan sesuatu memiliki pengaruh menarik (positif) bagi orang lain. Benarkah demikian?

Bukan meragukan kebenaran pepatah di atas, bagi penulis orang yang tidak menemukan kata-kata tepat pada situasi dan kondisi tepat seharus menutup mulut. Jangan sampai hanya menghasilkan pembicaraan tidak bermutu dan merugikan waktu para pendengar.

Tanggungjawab Bersama Terhadap Taman

Apalagi kalau waktu adalah uang dan uang adalah hasil kerja. Mendengarkan juga bagian dari kerja (kerja intelektual). Mendengarkan kata-kata minim kualitas sama saja membuang waktu. Membuang waktu berarti membuang rejeki. Rejeki adalah hasil kerja dan anugerah.

Kata-kata dari ketidakmampuan berpikir positif tentang realitas sering berakibat fatal. Apalagi ketika apa yang dibuat bertolak belakang dengan apa yang diucapkan. Ini sama seperti orang sakit jantung dibawah ke dokter gigi. Giginya dicabut jantungnya tetap akut!

Anies Baswedan, kita ambil sebagai contoh. Cerdas dan smart? Benar beliau cerdas menurut versi pribadi. Apalagi didukung oleh pendukungnya yang fanatik. Cerdas menata kata-kata. Bahkan untuk meredam bahaya banjir di Jakarta pun beliau hanya menyiapkan kata-kata manis. Tujuannya untuk berdialog dengan air.

Forkoma dan PMKRI Berkumpul di Labuan Bajo, Ini yang Dibicarakan

Alih-alih ingin berdialog dengan air. Berdialog dengan rakyat saja terlihat monolog plus menggurui. Air tak terpisahkan dari alam masah dinaturalisasikan lagi? Beliaunya meski belajar membaca tanda-tanda alam. Kalau betul-betul cerdas siap menerima tantangan-tantangan alam seperti banjir melanda ibu kota negara saat ini.
Berbicara pada tahapan seperti pak Baswedan hanyalah aliran kata-kata tak bermakna. Dengannya tidak mengatakan sesuatu.

Anis memang smart. Terlihat jelas bahwa beliau pandai merayu. Rayuan maut sehingga terpilih menjadi Gubernur. Isu SARA pun dimainkan. Beliau juga suka genit dan menebar pesona diri. Menjual tampang! Saking sering menjual tampang dan menebar janji beliau melupakan esensi dari persoalan. Rasanya mati dan asanya tak berdaya.

Dalam arti tertentu rasionya kurang berfungsi. Gairah menutup rasa malu beliau bisa-bisa meminggirkan kehadiran rasio. Kealpaan rasionalitas dalam tindakan politis membuatnya tidak mampu membaca realitas.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved