Amerika dan Iran Sudah Mulai Perang, Ini Kekuatan Iran yang siap Menghadapi Pasukan Donald Trump
Amerika dan Iran Sudah Mulai Perang, Ini Kekuatan Iran yang siap Menghadapi Pasukan Donald Trump
Amerika dan Iran Sudah Mulai Perang, Ini Kekuatan Iran yang siap Menghadapi Pasukan Donald Trump
POS KUPANG.COM -- Amerika Serikat dan Iran secara terbuka sudah mulai melancarkan serangan militer yang menandai perang kedua negara.
Amerika melancarkan serangan rudal yang menewaskan jenderan Iran Qasem Soleimani yang diusebut pembalasan atas tewasnya warga Amerika, Iran langsung merespon dengan menembakan rudal-rudal ke pangkalan militer Irak yang digunakan oleh militer Amerika
Amerika Serikat baru saja menabuh perang dan Iran sudah membalasnya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tidak terjadi baru-baru ini saja, tapi sudah lama.
Ketegangan itu bahkan melibatkan presiden masing-masing negara.
Dalam beberapa kesempatan, Presiden AS Donald Trump kerap terlibat twitwar dengan Presiden Iran Hassan Rouhanie.

Salah satunya yang terjadi pada Juli 2018 lalu.
"Damai dengan Iran adalah ibu dari semua perdamaian, dan perang dengan Iran adalah ibu dari semua perang."
Begitu salah satu cuitan Presiden Iran yang sangat menohok.
Cuitan tersebut tentu saja memicu amarah Donald Trump dan ia pun membalasnya dengan huruf besar dan mengatakan:
• Demi Betrand Peto, Pipi Sarwendah Sampai Melepuh, Ruben Onsu Kaget dan Bilang Ini
• Intip Potret Gemas sang Bayi Anak Ahok dan Puput Nastiti Devi Lahir, Mirip Siapa?
• Tagar Hari Patah Hati Nasional Kembali Trending! Isyana Sarasvati Terima Lamaran Dokter Muda
• Sering Tampil Seksi, Nikita Mirzani Banjir Pujian Saat Bersama Putrinya Berhijab Syari saat Umrah
"Untuk Iran dan Presiden Rouhani: JANGAN PERNAH, JANGAN PERNAH LAGI MENGANCAM AMERIKA, ATAU KAU AKAN MENERIMA KONSEKUENSI SEPERTI YANG TERJADI DALAM SEJARAH."
Ungkapan tersebut telah memancing spekulasi besar terhadap ketegangan dua negara ini.
Pada tahun yang sama, para ahli sudah memprediksi Iran kemungkinan besar akan digempur Amerika pada akhir tahun ini.
Kemungkinan tersebut didasarkan pada kemungkinan buruk yang dilakukan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, untuk mengakhiri hubungan nuklir dengan Eropa, seperti diwartakan Dailystar.