Keracunan Makanan di OeEkam TTS

Begini Kronologi Kasus Keracunan di TTS Yang Terjadi Saat Tutup Tahun

panitia menyediakan makanan dengan menu, nasi, mie kuning, daging babi kecap dan kerupuk yang disajikan di dalam kotak nasi.

Begini Kronologi Kasus Keracunan di TTS Yang Terjadi Saat Tutup Tahun
POS KUPANG/ISTIMEWA
Kepala puskesmas noebeba (kanan) dan dokter dari Puskesmas Noebeba sedang berdiri di antara para korban kasus keracunan makanan di Desa Oe'ekam, Kecamatan Noebeba. 

Begini Kronologi Kasus Keracunan di TTS Yang Terjadi Saat Tutup Tahun

POS-KUPANG.COM|SOE -- Kasus keracunan kembali terjadi di Kabupaten TTS, tepatnya di Kecamatan Noebeba, Desa Oe'ekam. Kasus keracunan ini bermula ketika kaum bapak, wanita GMIT dan pemuda Gereja Fatububut, Desa Oe'ekam menggelar Natal bersama Senin (30/12/2019) pukul 20.00 WITA.

Dalam perayaan Natal bersama tersebut, dihadirinya sekitar 300 lebih jemaat.

Dalam perayaan Natal bersama tersebut, panitia menyediakan makanan dengan menu, nasi, mie kuning, daging babi kecap dan kerupuk yang disajikan di dalam kotak nasi.

Usai ibadat bersama, acara dilanjutkan dengan santap malam bersama. Acara Natal bersama tersebut baru bubar sekitar pukul 24.00 WITA.

Keesokan hari, Selasa (31/12/2019) pagi, warga yang mengikuti perayaan Natal bersama mulai mengalami gejalah keracunan. Warga yang mengalami gejalah tersebut lalu melaporkan hal tersebut kepada tenaga kesehatan desa.

Oleh tenaga kesehatan desa, warga yang mengalami gejala keracunan lalu dikumpulkan di gedung lama Gereja Fatububut. Informasi adanya kasus keracunan tersebut, lalu dilaporkan kepada Kepala Puskesmas Fatububut, Niczon Atopah pada Selasa Siang.

Pada Selasa Sore, Kapus Noebeba bersama tenaga medis langsung turun ke Desa Oe'ekam guna melakukan penyisiran.

Dari hasil penyisiran, ditemukan adanya 53 warga Desa Oe'ekam yang mengalami gejalah keracunan.

Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, tenaga medis dari Puskesmas Noebeba lalu mendirikan Posko Penanganan Kasus Keracunan di gedung Gereja Fatububut.

Dari 53 warga yang mengalami gejalah keracunan. Setelah melihat gejalah para korban, 13 korban diinfus sedangkan 40 lainnya hanya dilakukan observasi.

" Awalnya, Selasa siang itu kita dapat laporan hanya empat orang yang menjadi korban keracunan makanan, namun jumlahnya bertambah menjadi 13 orang pada Selasa sore. Akhirnya kita memutuskan untuk melakukan penyisiran. Dari hasil penyisiran kita temukan 53 orang mengalami gejalah keracunan," ungkapnya.

Dari 53 korban tersebut, diketahui, 5 korban masih dibawah usia 4 tahun, 7 korban berusia 5 sampai 9 tahun dan 41 korban lainnya berusia di atas 9 tahun, dimana salah satu korban diketahui tengah hamil.

Saat ini, Rabu (1/1/2020) korban keracunan yang dirawat di pos penanganan kasus keracunan hanya tersisa 13 korban. Sisanya telah dijinkan pulang. 13 korban tersebut sempat diinfus, namun setelah diperiksa tidak lagi mengalami gejalah keracunan maka infusnya dilepas pada pukul 08.00 WITA pagi.

Dari 53 Korban Keracunan, 40 Sudah Dijinkan Pulang dan 13 Masih Dirawat di Posko

Gubernur NTT Sebut Kalau Pemimpin Bodoh, Pasti Daerah Bodoh

" Sekarang yang masih dirawat hanya yang sempat diinfus saja. Saat ini kita Sementara observasi, kemungkinan sore sudah bisa kita pulangkan," ujarnya. (Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Dion Kota)

Penulis: Dion Kota
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved