Kasus Novel Baswedan

Penggunaan Pasal Pengeroyokan, Benarkah Kasus Novel Sesederhana Itu? Ini Tanggapan Kuasa Hukum

Tim Kuasa Hukum Novel baswedan menilai penggunaan pasal pengeroyok merupakan upaya polisi tutupi aktor intelektual. Sesederhana itukah Kasus Novel?

Penggunaan Pasal Pengeroyokan, Benarkah Kasus Novel Sesederhana Itu? Ini Tanggapan Kuasa Hukum
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/ABDUL WAHAB
Pelaku penyiraman air keras Penyidik KPK Novel Baswedan dibawa petugas untuk dipindahkan ke Bareskrim Mabes Polri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (28/12/2019). Polisi berhasil mengamankan dua pelaku yang merupakan anggota Polri aktif dengan insial RM dan RB. 

Tim Advokasi Novel Baswedan menilai ada upaya untuk membangun opini bahwa tersangka RB dan RM adalah pelaku tunggal.

Penyidik Polri, menurut tim advokasi, seharusnya dapat menyertakan Pasal 55 KUHP meskipun belum ada tersangka lain.

Politisi Wanita Ini Puji Pelaku Penyerangan Novel Baswedan dan Ingin Bertemu untuk Tanyakan Hal Ini

 Penyerang Penyidik KPK Novel Baswedan Ditangkap, dari Janggal, Prihatin Sampai Ucapan Selamat

Hal ini pernah dilakukan Polri saat mengenakan Pasal 55 kepada Pollycarpus sebagai tersangka pembunuh Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib.

"Dalam kasus Munir dibentuk Tim Pencari Fakta Independen yang mengungkap adanya keterlibatan petinggi lembaga negara dan penyidik pun melakukan penyidikan tidak sampai hanya pelaku lapangan saja," kata Asfinawati.

Sebelumnya diwartakan,  Karo Penmas Divisi Human Polri Brigjen Argo Yuwono menyatakan pasal yang menjerat kedua tersangka penyerang Novel adalah Pasal 170 KUHP subsider Pasal 351 ayat 2 KUHP. Ia menyebut tersangka terancam hukuman 5 tahun penjara.

"Lima tahun," kata Argo, Minggu (29/12/2019).

Pasal 170 KUHP berbunyi:

(1) Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Yang bersalah diancam:

1. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, jika ia dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka;

2. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, jika kekerasan mengakibatkan luka berat;

Halaman
12
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved