Turunkan Angka Stunting Butuh Keberpihakan Anggaran dan Regulasi

Percepatan pencegahan stunting membutuhkan keberpihakan anggaran dan regulasi. Tanpa keduanya, target penurunan stunting hanya sekedar wacana.

Turunkan Angka Stunting Butuh Keberpihakan Anggaran dan Regulasi
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Kepala Bappelitbangda NTT, Lecky Koli,S. TP, M.Si , Kannadi Hari Janto dari TP2AK Setwapres RI, Kadis PMD NTT, Drs. Sinun Petrus Manuk pose bersama pada acara Semiloka implementasi kemitraan dalam penanganan konvergensi stunting di NTT. Kegiatan ini berlangsung di Swiss Belinn Kristal , Rabu (4/12/2019). 

Turunkan Angka Stunting Butuh Keberpihakan Anggaran dan Regulasi

POS-KUPANG.COM|KUPANG -- Percepatan pencegahan stunting membutuhkan keberpihakan anggaran dan regulasi. Tanpa keduanya, target penurunan stunting hanya sekedar wacana.

"Hingga saat ini sudah ada 260 kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai daerah prioritas pencegahan stunting. Sebagian besar sudah menandatangani komitmen, tapi kalau dalam implementasinya tidak didukung anggaran dan regulasi yang memadai maka komitmen tersebut tidak ada artinya," ujar Partnership Coordinator, Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) Sekretariat Wakil Presiden, Karnadi Harijanto dalam Semiloka Impelementasi Kemitraan Dalam Penanganan Konvergensi Stunting di Provinsi NTT.

Semiloka ini berlangsung di Siwss Belinn Kristal, Jalan Timor Raya, Kota Kupang, Rabu (4/12/2019).

Semiloka ini dihadiri sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dari tiga kabupaten yakni Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Karnadi berharap seluruh kabupaten/kota prioritas memiliki keberpihakan anggaran dan regulasi untuk percepatan pencegahan stunting. Penting, lanjutnya, karena Presiden Joko Widodo hingga tahun 2024 mendatang menargetkan prevalensi stunting turun hingga angka 14 persen dari total angka kelahiran anak.

"Butuh konvergensi program seluruh OPD agar tidak tumpang tindih. Dengan begitu seluruh program terencana dan hasilnya pun terukur," tuturnya.

Karnadi menjelaskan, ada lima pilar penting yang harus dilakukan agar semua program pencegahan stunting bisa sukses berjalan yaitu komitmen pemimpin, kampanye perubahan perilaku, konvergensi program, akses pangan bergizi, pemantauan dan evaluasi program.

Dia mengaku optimis jika kelima pilar tersebut berjalan dengan dukungan anggaran dan regulasi maka target penurunan stunting sesuai arahan presiden bisa tercapai. Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia masih berada pada angka 30,8 persen.

Dalam kesempatan tersebut Karnadi juga mendorong pemanfaatan berbagai bahan pangan lokal untuk menambah asupan gizi ibu hamil dan ibu menyusui. Selain murah, panganan lokal menurutnya mudah di dapatkan di daerah.

Artinya, asupan makanan yang dikonsumsi tidaklah harus mahal, tetapi berkualitas dan tentunya kaya akan gizi.

"Bahan pangan lokal juga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi sehingga pemanfaatannya perlu lebih dimaksimalkan untuk pencegahan stunting. Di Kupang sendiri contohnya pemanfaatan daun kelor," ujarnya.
Kepala Bappelitbangda NTT, Lecky F. Koli, S.TP, M. Si mengatakan, untuk mencegah stunting perlu dilakukan semua pihak.

Dikatakan, langkah yang dikakukan saat ini, yakni upaya pencegahan dengan cara anak remaja putri diberi vitamin Fe , agar memastikan alat reproduksi mereka baik.

"Untuk wanita usia subur mendapat pembekalan dari lembaga keagamaan bahwa setelah menikah, hamil harus mengkonsumsi makanan sehat. Khusus bagi ibu hamil perlu meriksakan janin, kemudian mendapat asupan gizi yang baik sehingga anak yang dikandung terjamin sehat, " kata Lecky.

Sumba Timur Rendah Kepatuhan Standar Pelayanan Publik, Gidion : Siapkan Perangkat Daerah Punya SPM

Peduli Korban Puting Beliung di Sumba Timur, Mahasiswa Galang Dana

Semua ibu melahirkan, harus melahirkan di fasilitas kesehatan memadai.

Sedangkan soal ASI ekslusif ia mengatakan, ASI haris diberikan kepada anak yabg baru lahir sampai enam bulan pertama.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved