News

Saksi Kasus Pelemparan Sekolah, Siswa-siswi SMA Sint Pieters Waikabubak 'Serbu 'Polres Sumba Barat

Ratusan siswa-siswi dan para guru SMA Swasta Katolik Sint Pieters Waikabubak, Sumba Barat, 'menyerbu' Polres Sumba Barat, Rabu (27/11/2019).

Saksi Kasus Pelemparan Sekolah, Siswa-siswi  SMA Sint Pieters Waikabubak 'Serbu 'Polres Sumba Barat
POS KUPANG/PETRUS PITER
Ratusan siswa siswi dan guru SMA Katolik Sint Piters mendatangi Polres Sumba Barat, Rabu (27/11/2019) yang bersedia menjadi saksi utk memberi keterangan atas kejadian pelemparan sekolah tanggal 6 Nopember 2019. Siwa siswi meminta jangan hanya 6 orang yang dipanggil tetapi mestinya semua siswa karena kejadian itu spontan dan dilakukan masa siswa siswi. 

 Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Petrus Piter

POS KUPANG, COM, WAIKABUBAK - Ratusan siswa-siswi dan para guru SMA Swasta Katolik Sint Pieters Waikabubak, Sumba Barat, 'menyerbu' Polres Sumba Barat, Rabu (27/11/2019).

Mereka menyatakan siap menjadi saksi atas kasus pelemparan sekolah setempat, 6 November 2019 lalu.

Kedatangan ratusan siswa-siswi dan guru tersebut terjadi karena enam siswa SMA Sint Pieters pada hari yang sama menjalani pemeriksaan di Polres Sumba Barat. Enam siswa tersebut diduga melempar sekolah karena kecewa atas pergantian kepala sekolah oleh ketua yayasan dari kepala sekolah lama Romo Arnold kepada kepala sekolah baru, Bulu Kalumbang.

Menurut para siswa, semua siswa, termasuk para guru tidak setuju keputusan sepihak ketua yayasan mengganti kepala sekolah.

Hal itu karena siswa dan guru menilai meskipun baru enam bulan menjadi kepala sekolah, Romo Arnold telah membawa banyak perubahan di sekolah itu.

Dan, selama itu sekolah berjalan baik-baik saja. Namun setelah terjadi pergantian kepala sekolah kepada Bulu Kalumbang, suasana sekolah tidak kondusif, kegiatan belajar mengajar tidak lancar.

Menurut siswa-siswi, kepala sekolah baru dinilai terlalu arogan. Selama enam bulan memimpin telah memecat enam orang guru dan mengembalikan tiga orang guru, dua tenaga kontrak provinsi, satu ASN.

Selain itu, siswa-siswi menolak kebijakan kepala sekolah menaikan uang SPP dari Rp 125.000/bulan menjadi Rp 175.000/bulan. Bila terlambat membayar, siswa siswi dikenakan denda Rp 5.0000/bulan.

Menurut siswa-siswi, kedatangan mereka ke Polres Sumba Barat untuk mempertanyakan mengapa hanya enam yang dipanggil untuk diperiksa, seharusnya semua siswa dipanggil memberikan keterangan.

Hal itu karena kejadian tanggal 6 November 2019 terjadi secara spontanitas dilakukan siswa-siswi yang tidak merasa puas dengan jawaban kepala sekolah, Bulu Kalumbang, pada saat pertemuan berlangsung.

Karenanya jangan hanya panggil enam siswa saja tetapi harus memanggil semua siswa, biar semua beres.

Pantauan Pos Kupang di Polres Sumba Barat, Rabu (27/11/2019), tampak enam siswa diperiksa secara terpisah oleh penyidik.

Sementara ratusan siswa lainnya membubarkan diri setelah mendapat penjelasan dari kepolisian bahwa pemanggilan enam siswa itu untuk diambil keterangan atas peristiwa pelemparan sekolah, 6 November 2019 lalu.

Dan, tidak menutup kenungkinan akan ada pemanggilan saksi berikutnya. *

Penulis: Petrus Piter
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved