Seminar Nasional Dorong Pembangunan SDM Era 4.0 Untuk Generasi Bebas Stunting

Permasalahan gizi yang dihadapi oleh Indonesia adalah gizi kurang, gizi lebih, dan gizi mikro. Jika permasalahan terjadi pada 1000 hari pertama kehidu

PK/Fransisca Mariana
Suasana Seminar Nasional Kesehatan dengan tema Paradigma Sehat 4.0 di Aula BAAKPSI Undana, Sabtu (30/11/2019) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM Fransiska Mariana

POS-KUPANG.COM-KUPANG-"Permasalahan gizi yang dihadapi oleh Indonesia adalah gizi kurang, gizi lebih, dan gizi mikro. Jika permasalahan terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan, maka anak-anak akan lahir dengan stunting." Demikian diungkapkan Eko Prihastono, S.KM.,MA dari Direktorat Gizi Masyarakat Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI yang mewakili Menteri Kesehatan dalam acara Seminar Nasional Kesehatan di Aula BAAKPSI Undana, Sabtu (30/11/2019).

Eko dalam materi pembukanya menjelaskan tentang strategi pemerintah pusat dalam penanggulangan stunting. Kesehatan adalah keadaan sehat secara fisik, mental, sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Pembangunan kesehatan harus dilaksanakan oleh seluruh komponen. Sumbangan pelayanan kesehatan hanya sebesar 20%, dan sisanya adalah lingkungan dan sebagainya, sehingga kesehatan harus ditanggulangi oleh berbagai sektor. Untuk stunting sendiri, Indonesia menempati urutan ke 5 dunia. Oleh karena itu, program gizi menjadi sangat penting.

Salah satu indikator untuk menilai keberhasilan peningkatan SDM adalah Human Capital Index. Indonesia berada di urutan 87 dunia dan terlihat bahwa anak Indonesia yang lahir 18 tahun kemudian hanya mampu mencapai 53% dari potensi produktivitas maksimumnya. "Artinya kalau anak-anak kita stunting, dia akan berpengaruh pada tingkat Human Capital Index Indonesia di mata internasional atau di negeri sendiri," jelas Eko.

Demi 5 Besar, Pelatih Maung Bandung Ingin Pemain Bangkit, Catatan Tak Terkalahkan Persib di Angka 7

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Artinya, tidak terjadi tiba-tiba melainkan berproses mulai dari janin hingga anak balita atau yang lebih dikenal dengan nama 1000 hari pertama kehidupan. Akibat dari stunting adalah anak menjadi lebih pendek dari usianya.

Hal tersebut baru bisa diketahui sejak anak berusia 2 tahun. Stunting merupakan permasalahan yang multidimensi penanganannya, tambah Eko. Oleh karena itu beberapa hal harus dilakukan antara lain mengubah praktek pengasuhan anak. Selain itu, upaya yang dilakukan adalah meningkatkan layanan kesehatan masyarakat, akses makanan bergizi, dan akses air bersih dan sanitasi.

Dampak anak stunting adalah gagal tumbuh karena kekurangan gizi kronis. Ketika dewasa pun anak akan beresiko mengidap penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, obesitas, dan lain-lain. Jika tidak dihindari, anak akan kesulitan berkompetisi karena anak stunting memiliki gangguan kognitif atau kecerdasan.

Eko pun menambahkan, berdasarkan olahan data, beberapa hal yang menyebabkan anak menderita stunting karena anak tidak diberi ASI Eksklusif, kelahiran prematur, kurangnya akses pada layanan kesehatan, pendidikan ibu yang rendah, dan status sosial-ekonomi.

Untuk menangani permasalahan kesehatan tersebut maka Presiden Joko Widodo sudah membuat strategi penanggulangan stunting yang melibatkan sekitar 13 kementerian dan lembaga. Peran dan kewenangan Kementerian Kesehatan pun antara lain promosi dan konseling pemberian makanan bayi dan anak; promosi dan konseling menyusui; meningkatkan kesehatan Ibu hamil, Ibu menyusui, bayi, dan balita; pelayanan imunisasi, pemberian obat cacing; surveilans gizi, pemantauan dan promosi pertumbuhan dan perkembangan balita; pemberian suplementasi tablet tambah darah pada Ibu hamil dan remaja, serta pemberian vitamin A; penanganan masalah gizi dengan pemberian makanan tambahan Ibu hamil dan balita; dan tatalaksanan gizi buruk dengan suplementasi gizi khusus.

Halaman
123
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved