Polres SikkaTurun Tangan Bangun SDN Kepiketik di Sikka

setelah viral di media sosial beberapa waktu yang lalu menyorot kondisi bangunan sekolah dan honor guru non ASN,

Polres SikkaTurun Tangan Bangun SDN Kepiketik di Sikka
Foto/humas polres  sikka
Aparat Polsek  Waigete  dan Tagana  Dinas Sosial  Kabupaten  Sikka, Pulau Flores, Rabu  (27/11/2019) membangun  gedung  SDN Kepiketik,  31  Km arah  timur  Kota Maumere.   

POS-KUPANG.COM, MAUMERE---Setelah viral di media sosial beberapa  waktu yang  lalu menyorot kondisi  bangunan  sekolah dan  honor guru  non  ASN, aparat  Polsek  Waigete,   Kepolisian  Resort  Sikka  bersama  Tagana  Dinas  Sosial dan  aparat    Dusun  Pigang    turun  tangan mulai  membangun ruang  kelas  baru di sekolah itu,  Rabu  (27/11/2019).

Kapolres  Sikka, AKBP Rickson Situmorang, S.IK, menjelaskan, pembangunan dua  ruangan itu  dilakukan karena   SDN Kepiketik hanya  punya  dua  ruangan kelas yang disekat  menjadi  empat  ruangan.  Pembangunan  ini  mendapat  bantuan  usuk dan seng  dari  Bank NTT Cabang Maumere.

“Pekerjaan dimulai dengan pemasangan tiang, dinding dan atap seng. Sedangkan  lantai semen masih menunggu bantuan pasir,” kata Rickso  Situmorang.

19 Maret 2020, Uskup Ruteng Ditabhis di Gereja Katedral, Ini Yang Dilakukan Keuskupan Ruteng

Pembangunan ini melibatkan enam personil  Polsek   Waigete dipimpin  Kapolsek Ipda Razes  Pernando Manurung, S.Tr.K,tujuh anggota  Tagana dan  Kepala  Dusun  Pigang.

Meski  berstatus  sekolah negeri, 31   murid   menjalani  pendidikan   pada  bangunan  yang  tidak layak  dijadikan kegiatan  belajar mengajar  berlokasi  Desa Persipan Mahe Kelan,  Kecamatan  Waigete, 31  Km arah   timur  Kota  Maumere.

 Dua  ruang kelas,  4 dan  5   tidak  layak menjadi  kegiatan  belajar  mengajar.  Bangunan  darurat   nyaris rubuh.  Atap seng  telah bolong,  lantai tanah dan  dinding  pelupu (bambu  cincang)  dimakan  usia hanya bisa digunakan  untuk   KBM  ketika musim panas.

Guru kelas   V SDN Kepiketik, Martah Metrona,  kepada pos-kupang.Jumat   (8/11/2019) menuturkan kondisi kedua ruang kelas ini sudah ada selama empat tahun.

“Musim panas kami bisa pergunakan untuk belajar mengajar,  tapi   musim  hujan   air masuk  dan becek. Kami   tidak  lakukan  KBM,” kata  Martha Matrona.

Bila  hujan turu, KBM  kelas   4 dan kelas 5 digabung di ruangan kelas 6 dan ruangan kepala sekolah  yang  memiliki   ruang permanen dinding tembok, atap  seng  dan lantai  semen. Murid  kelas 1 dan  kelas  3  tidak  ada dari  total  31 murid.

Ruangan permanen disekat   untuk  KBM kelas  6.  Sedangkan ruangan kelas 2 juga  disekat untuk ruang guru, kepala sekolah dan perpustakaan dan  UKS.

"Murid kelas 2 hanya  lima orang.Kelas 4 ada sebanyak enam orang kelas 5 ada 10 orang dan 13 orang murid kelas 6,” kata Martha Metrona.

Meski   berstatus  sekolah  negeri, Martha Metron, mengakui belum ada  perhatian  Dinas  Pendidikan  Pemuda   dan  Olaharga  Sikka  membenahi sekolah ini dan  rumah  para guru. Sebab  mereka  berasal dari  luar  kampung  berjarak  jauh dengan sekolah.  (laporan wartawan pos-kupang.com, eginius mo’a).

 

 
 

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved