Batu Nisan Raja Pejuang Integrasi Merah Putih Disimpan di Tenda Darurat di Belu

batu nisan Raja Alexandrino Borromeu, juga dibawa batu nisan dan tanah kubur permaisuri Maria Sequiera da Carvalho Borromeu

Batu Nisan Raja Pejuang Integrasi Merah Putih Disimpan di Tenda Darurat di Belu
POS KUPANG/TENI JENAHAS
Batu Nisan dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo dipampang di tempat tinggal Ratu Azia Borromeu di Maktaen, Desa Rimbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Rabu (27/11/2019). 

Batu Nisan Raja Pejuang Integrasi Merah Putih Disimpan di Tenda Darurat di Belu

POS KUPANG.COM| ATAMBUA----Batu Nisan dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo dibawa dari Denpasar-Bali oleh anak kandungnya Ratu Azia Borromeu.

Saat ini, batu nisan tokoh pejuang integrasi merah putih itu disimpan di tenda darurat, tempat tinggal Ratu Azia Borromeu di Maktaen, Desa Rimbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

Selain batu nisan Raja Alexandrino Borromeu, juga dibawa batu nisan dan tanah kubur permaisuri Maria Sequiera da Carvalho Borromeu.

Ratu Azia Borrome sebagai anak kandung raja Alexandrino Borromeu mengatakan hal itu kepada Pos Kupang.Com, Rabu (27/11/2019).

Dikatakannya, ia menggambil batu nisan dan tanah kubur kedua orang tuanya sebagai bentuk aksi protes terhadap pemerintah Indonesia yang dinilai telah menelantarkan dirinya selama ini.

Katanya, selama 20 tahun ia kurang mendapat perhatikan dari pemerintah Indonesia bahkan sampai ia tinggal di tenda darurat. Padahal, ia adalah ratu
dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo.

Azia Borromeu yang dikenal sebagai Ratu Alas ini mengatakan, ia sengaja menggambil batu nisan dan tanah kubur kedua orang tuanya dari bali dan dibawa pulang ke Kabupaten Belu karena dinilai pemerintah tidak memperhatikan nasibnya. Bila dilihat dari sejarah yang juga diakui negara Indonesia, peran orang tuanya sangat besar dan berpengaruh bagi negera Indonesia. Karena ayahnya adalah pejuang integrasi dan tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo yang membawahi 13 kabupaten.

Namun jasa orang tuanya itu seolah-olah dilupakan oleh pemerintah Indonesia yang dibuktikan dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pewaris dari Raja Alexandrino Borromeu dan permaisuri Maria Sequiera da Carvalho Borromeu.

Untuk itu, Azia Borromeu menuntut pemerintah Indonesia untuk segera memberikan perhatiaan kepada dirinya sebagai pewaris raja Alexandrino Borromeu.

"Saya menuntut sampai pemerintah segera tangani kasus 20 tahun kami diterlatarkan di dalam NKRI. Kalau pemerintah masih diam dan masa bodoh, maka tindakkan anakis yang nanti saya lakukan", tegas Ratu Azia Borromeu.

Terobos Hujan Bikin Bule Cantik Ini Kesemsem Berat pada Pemuda Flores,Saya Lihat Matanya Penuh Cinta

Gagal Lewati Tanjakan, Angkot Tujuan Desa Satap TTU Terjungkal Ke Jurang

Lanjut Azia, setelah batu nisan dan tanah kubur orang tuanya sudah tiba di Belu, ia akan melakukan ritual adat bersama dengan masyarakat pejuang integrasi. Ia akan mengundang presiden, Menkopolhukam, Prabowo, Bupati Belu dan masyarakat pejuang integrasi dari 13 kabupaten yang saat ini berdiam di Indonesia. (Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved