Breaking News:

Berita Cerpen

Cerpen Maria Hebi: Oh Love of My Life

Oh Love of My Life. Ah, Angie manisku. Mampukah aku melupakanmu dengan kebebasanku yang kian terpenjara ini?

pos-kupang.com
Oh Love of My Life 

Keberanianku terlampau dibungkus oleh tradisi warisan tentang kegagahan seorang lelaki yang tak boleh latah mengeksplorasi perasaan. Aku dibelenggu oleh prestise warisan para penakluk wanita dalam hikayat purba.

Dan kini, haruskah aku menyisakan separuh dari air mataku untuk menyesali apa yang telah aku lewatkan. Aku berpikir bahwa akulah yang mesti menunjukkan jalan pada cinta yang telah kupelihara ini, namun aku keliru.

Sebab ternyata kini, cintalah yang menghantarku kembali kepadanya. Oh Love of My Life don't leave me. Aku telah mencuri hatimu dan kini aku akan menghantarnya kembali bersama remah-remah cinta yang kukumpulkan dari amuk rasa yang tak pernah berhenti berteriak.

Dulu Sering Bertengkar dengan Guru, Ketua DPD REI NTT: Ada Satu Guru Spesial Buat Saya

Oh, gadisku yang manis. Aku tahu kini betapa dalam rasa yang telah kukubur, bukan untuk melupakanmu, namun untuk menjaganya agar dia dapat tumbuh dan terus bertunas.

Cintamu yang tulus telah kujumpai dalam setiap ruas kata yang kau ucapkan di senja merah. Parasmu elok seperti kepingan hati yang hidup. Kau bahkan telah meberikan isyarat tentang kebenaran cinta yang telah kau bangun.

Maka semestinya aku menelusurinya, meski harus menemui jalan yang terjal dan curam. Sebab cinta adalah pancaran indah kilau mahkota. Seperti simpul-simpul yang menyatukan carut marut hati yang tak pernah diam mencari, menabur dan merindu akan musim menuai.

Seperti mengasah intan menjadi berlian. Seperti tangan yang terangkat untuk piala yang segera diisi dengan anggur merah. Seperti himpunan doa dan litani yang membalut luka-luka yang mengering.

Dan kemarau ini semakin panjang. Seribu malam berlalu mencabik asa tentang rinduku padamu. Rindu yang bercerita tentang dua anak adam di bawah kaki langit. Antara kita yang terpisah ruang dan waktu.

Bupati Kamelus Jadi Ketua Alumni Undana Kupang di Manggarai

Aku rela menanggung perih dan luka karena rindu yang menikam. Meski dengan melatai jejak-jejakmu dalam kenangan.
Merindukanmu adalah gerimis yang memantulkan pelangi, selalu indah dan teduh. Kau selalu ada meski dalam kejauhanmu. Menatapmu hanya dalam angan.

Menyentuhmu hanya dalam mimpi. Kau telah melampaui seluruh daya indera. Kita yang terperangkap dalam sebuah frasa bertema cinta. Ruang dan waktu seakan lalim melerai semua angan dan cita. Kita telah terpisah, namun rindu yang kukirim ini akan hinggap di daun surga, tempat jiwa kita menepi dan tak lagi seorang pun dapat melerai kita. Berbunga dan harum mendupai mimpi malammu yang panjang.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved