Berita Cerpen

Cerpen Os Hayon: Kedai Buku di Kepala Elia

"Iya. Kedai buku tempatnya." "Siapa pemiliknya?""Seorang kakek, Elia namanya.""Di mana letak keberadaan kedai buku tersebut?"

pos kupang
Kedai Buku di Kepala Elia1 

"Duah buah buku yang menarik." Tatapku kagum. Sepasang mataku membeliak keheranan.
"Manusia-manusia Benalu dan Rekayasa Para Penguasa." Aku mambatin.
Sesudah tegukan berhasil bersenggama dalam tenggorokanku perlahan kubuka buku halaman pertama buku pertama. " Manusia-manusia benalu."

"Indonesia masih menjaga dan merawat detak jantung manusia-manusia benalu dengan setia. Mereka hidup di atas penderitaan orang lain. Tertawa di balik jeritan tangis sesama. Garuda dengan lima sila tak lagi berkuasa.

Sebab mereka lebih memilih mencintai jabatan dan harta. Tak ada lagi musyawarah apalagi keadilan. Menjadi satu adalah hal yang sulit. Oleh sebab itu dimaklumi jika garuda tak mampu mengangkasa seluruh nusantara."

Setelah itu, kuteguk sekali lagi secangkir kopi suam dan membua halaman pertama buku yang kedua. " Rekayasa para penguasa."
"Nyali penguasa tak akan pernah berhenti mengumbarkan janji yang akan menjadi mimpi paling indah kaum terlarat di malam hari. Mereka hidup dan tinggal di ruang pengap. Berbuat sesuka hati lalu lenyap meninggalkan gelap. Masyarakat gelap akan ilmu. Kaum terlarat dijadikan sampah. Mati lalu lupa dipungut." Kututup buku tersebut lalu berpaling ke tempat lain.

Sudah 718 Orang Daftar Ikut Testing CPNS di Manggarai Barat

"Ayah aku sudah berpikir untuk membangun sesuatu." Bisikku seraya melonggarkan pelukan ayah.
"Apa yang hendak kamu bangun, nak?" Tanya ayah penasaran.
"Aku ingin membangun kedai, ayah." Niatku meruap.
"Kedai kopikan maksudmu?" Tebak ayah.
"Bukan." Aku mendilak lalu melanjutkan,
"Tidak selama semuanya dapat ditebak?"
"Lalu apa yang akan kamu bangun, nak?" Tanya ayah pasrah.
"Kedai Buku."

Serentak guratan keheranan dan kebingungan seakan memenuhi ruang wajah ayah. Ia terdiam sejenak. Diatur nafasnya agar tidak tersendat saat berbicara.
"Tetapi ayah tidak memiliki sesuatu yang dapat membantumu, nak. Yang sekarang ada pada ayah hanyalah setumpukan buku.

Walaupun semua itu dijual hasilnya tidaklah mungkin dapat engkau gunakan untuk membangun kedai buku." Ayah menjelaskan.
"Tidak usah, ayah." Bantahku.
"Aku ingin membangunnya sendiri. Kupinjam buku milik ayah."
"Lalu di mana kamu akan membangunnya?" Timpal ayah penasaran.
"Di kepalaku." Singkat jawabku.
"Baru kali ini ayah sadar kalau kamu juga mewarisi sikap kakekmu." Ayah gumam layaknya seorang peramal.
"Aneh. Bukannya ayah sendiri yang memberitahu kepadamu jika kakekku sudah lama meninggal. Ia meninggal waktu aku masih kecil." Balasku dengan nada protes.

"Tetapi yang sebenarnya kakekmu masih hidup. Namun hingga saat ini ayah belum bertemu dengannya. Ayah dan kakekmu lama berpisah karena sedikit perselisihan yang terjadi diantara kami. Ayah mencuri beberapa buah buku untuk kakekmu di waktu hari ulang tahunnya." Cerita ayah. Kedipan matanya semakin dipercepat tidak seperti biasanya. Ayah menangis sejadinya. Baru kali ini ayah yang kuanggap tegar dan kuat menangis di hadapanku.

Polres TTU Benarkan di Lokasi Kebakaran SDN 2 Tublopo Tercium Bau Bensin dan Temukan Linggis

Aku terdiam. Keheningan lama tercipta diantara kami. Sedangkan sisa tangis ayah membuat suaranya memberat waktu berbicara.
"Hal yang paling tidak disukai kakekmu yaitu di mana segala sesuatu yang kita lakukan itu tidak sesuai dengan tuntutan tata krama." Ayah menjelaskan sesuatu sementara ia sendiri pernah melanggarnya.
"Siapa nama kakekku dan apa pekerjaannya?" Aku memotong pembiciraan ayah.
"Elia, seorang penulis handal." Singkat jawabnya.
"Aku sudah bertemu dengan kakek." Tambahku.
"Kapan terakhir kamu berbicara dengannya?" Aku bergelagak hendak ingin pergi. Sementara tatapannya memunggungiku.
"Kemarin. Aku tidak berbicara dengannya sebab tubuhnya jengker dan ia terlayap lama."

"Ayah ingin bertemu dengannya. Bantu hantarkan ayah ke rumah kakekmu!" Perintah ayah. Suaranya uzur seperti setumpukan buku terdapat di kerongkongannya.
"Sudah terlambat. Kakek barusan saja pindah, ayah." Ujarku tergugu.

"Ke mana?"
"Ke pemakaman kampung tetangga."
(Lembah Hokeng, Oktober 2019)
(Siswa kelas XI IPA di Seminari Hokeng Flotim)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved