Berita Cerpen

Cerpen Os Hayon: Kedai Buku di Kepala Elia

"Iya. Kedai buku tempatnya." "Siapa pemiliknya?""Seorang kakek, Elia namanya.""Di mana letak keberadaan kedai buku tersebut?"

pos kupang
Kedai Buku di Kepala Elia1 

Tidak terdapat kedai buku di kepalanya. Hanya saja warna putih yang mendominasi ubun-ubun kepalanya.
"Maaf kek... boleh aku bertanya?" Sapaku sopan.
Diangkat bahunya pertanda setuju.
"Menurut alamat yang ku peroleh, apakah benar ini rumahnya kakek Elia?"
"Iya... Benar ini dengan aku sendiri." Balasnya sambil tersenyum.
Seketika aku tersontak kaget. Lebih tepatnya lagi bingung.
"Tetapi tidak ada kedai buku di kepala kakek!" Seruku datar.
"Ahhh ternyata kamu juga salah satu pengadopsi cerita orang. Itu hanya sekedar julukan bagiku, nak." Sejenak ia tersenyum. Deretan gigi kuningnya nampak dengan jelas.

Kuputuskan untuk beranjak Setelah aku berhasil menempati kursi kosong di samping kakek tersebut sejanak sepasang mataku menangkap beberapa buah buku yang ada di pangkuannya. Aneh.

Buku itu sepertinya pernah hadir waktu itu. Perlahan kakek itu merasa dirinya menjadi objek perhatianku.
Apalagi tatapanku belum beralih sedikit pun dari pangkuannya. Sejanak ia menatapku lalu sempat bergumam.

Bupati Kamelus Akan Sampaikan 5 Agenda Nasional Kepada ASN di Manggarai

"Aku sangat gemar membaca buku. Kebiasaan ini sudah kulakukan sejak kecil. Bagiku, dengan membaca buku aku dapat mengetahui segalanya. Bagaimana menjadi manusia yang sejati. Situasi politik yang terjadi di negeri ini, karangan para pujangga yang berhasil menghipnotis para pembacanya dan juga hasil pemikiran dan percobaan para ahli yang sulit kita tebak. Jadi, itulah alasan mengapa banyak orang beranggapan bahwa di kepalaku terdapat kedai buku. Mereka sering berkunjung lalu mengajukan banyak pertanyaan yang berusaha kujawab."

Sejenak kakek itu terdiam. Di atur letak posisi duduknya menghadapku lalu melanjutkan,
"Apa kesukaan, nak?" Tanya kakek itu ramah.
"Aku suka membaca dan menulis puisi, kek." Jawabku sekenanya.
"Puisi itu sebenarnya berasal dari bahasa Yunani kuno yang artinya saya mencipta. Puisi itu sendiri adalah seni tertulis di dalam bahasa digunakan untuk kualitas estetik, selain arti semantiknya.

Sementara puisi menurut penyair Spanyol, Fenderico Gracia Lorca yaitu rahasia tertinggi yang dimiliki oleh semua hal."
Suara kakek itu datar. Sejenak raut wajahnya menampilkan rasa kagum. Mungkin saja ia begitu kagum karena aku sangat antusias dengannya.

Sesudah menatapku dengan langkah gontai ia beranjak meninggalkanku lalu kembali dengan dua buah cangkir kopi suam di masing-masing kedua tangannya. Sambil tertawa kecil ia bergumam pelan sebelum memberikan secangkir kopi tersebut kepadaku.

Sebelum tanganku diizinkan mengambil secangkir kopi ia sudah terlebih dahulu menyuguhkanku lagi dua buah buku dari dalam bajunya.
"Lebih nikmat jika kamu membacanya sambil meneguk secangkir kopi suam ini." Kakek itu menyarankan.
"Untuk siapa buku ini, kek?" Seruku sambil kutatap dua buku yang sudah berada di tanganku.
"Untuk kamu. Kamu jangan hanya membaca buku-buku puisi yang sudah menjadi kegemaranmu, tetapi biasakan dirimu membaca buku-buku yang lain." Ia menyarankan lagi. Mungkin baru kali ini aku menjadi pendiam dan penurut. Biasanya aku sangat sulit menerima saran dari orang lain. Bayangkan saja sudah berapakali aku menolak saran ayah.

Pilot Sakit, Penumpang Batik Air Mengaku Langsung Vertigo Saat Pesawat Hendak Landing

"Bacalah selagi kamu masih bisa membacanya. Tetapi ketika kamu tidak memiliki kesempatan untuk membaca dengarkanlah saja apa yang dibicarakan oleh orang lain. Sebab selamanya belajar tidak hanya membaca dan pengetahuan dapat juga kamu temukan melalui pemikiran sesama." Sejenak ia terdiam. Diteguknya secangir kopi dengan nikmat.

III
Pagi ini suasana di rumah kakek Elia begitu ramai. Atau lebih tepatnya lagi ricuh. Banyak orang mulai ramai berdatangan hendak menyaksikan kejadian aneh. Ada yang mati dibunuh. Buku-bukunya habis dibakar.

Korban itu tidak lain kakek Elia. Pria tua yang mengajariku banyak hal namun tak pernah kutemukan cara terbaik untuk membalasnya.
"Bukankah pria tua itu salah satu penulis terkenal yang akhir-akhir ini dilupakan?" Seorang pria berbisik pelan.
"Benar. Ia salah satu kutu buku yang langka." Seorang diantara mereka menambahkan.

"Bukan hanya itu saja. Anak kandungnya sendiri seakan-akan mewarisi semua sikapnya." Seorang memberitahukan sambil menyekah peluh seperti sehabis berlari.
"Maksudmu?" Seorang membelungsing.
"Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang gemar sekali membaca. Tetapi kasihan akibat perselisihan mereka pada akhirnya lama berpisah." Seorang diantara mereka sekilas berbisik.

IV
Sore ini setelah kakek Elia dimakamkan aku langsung beranjak menuju rumah. Dua buah buku masih ada di telapak tanganku walaupun senjak kemarin niat untuk menjamah isinya belum juga menarik perhatianku.

Sesampainya di rumah aku langsung bergegas menuju ruang belakang , tepatnya dapur. Kubuatkan secangkir kopi suam lalu mulai meneguknya dengan nikmat. Hangatnya mulai mengalir ke seluruh tubuh. Kuteguk sekali lagi seraya menatap kedua buah buku tersebut. Sejenak terlintas di benaku untuk segera menjamah isi buku tersebut.

Panen Perdana Kodim 1602 Ende Dapat 12 Ton Jagung

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved