Sosok Lusia Korban Tewas Disambar Petir di Manggarai di Mata Keluarga: Pendiam dan Suka Membantu

Sosok Lusia Luju korban Tewas Disambar Petir di Manggarai di mata keluarga: pendiam dan suka membantu

Sosok Lusia Korban Tewas Disambar Petir di Manggarai di Mata Keluarga:  Pendiam dan Suka Membantu
ISTIMEWA
Sosok Lusia Luju Korban Tewas Disambar Petir di Manggarai

Sosok Lusia Luju korban Tewas Disambar Petir di Manggarai di mata keluarga: pendiam dan suka membantu

POS-KUPANG.COM | RUTENG - Kematian Lusia Luju dan anaknya sungguh mengejutkan keluarga. Bahkan keluarga seakan tak percaya dengan kepergian Lusia.

Keluarga yang ditemui POS-KUPANG.COM di rumah duka, Kamis (14/11/2019) sore mengaku terpukul dengan kejadian tersebut.

"Lusia, istrinya Bonefasius orang Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese, Matim. Setelah menikah ia dan suaminya tinggal di Benteng Kuwu. Lusia sudah punya tiga orang anak. Yanf pertama laki-laki kelas lima SD, kedua perempuan masih kelas dua SD dan ketiga masih tiga tahun yang meninggal bersama Lusia," kata Hironomis Jebatu, paman kandung Lusia dari Satar Lahing.

BREAKING NEWS: Di Manggarai, Ibu dan Anak Tewas Disambar Petir Saat Pergi ke Sawah

Ia mengatakan, kematian Lusia dan anaknya diketahui keluarga usai kejadian. "Kami lalu ke Benteng
Kuwu tadi pagi karena Lusia dan anaknya dimakamkan sore hari, Kamis (14/11/2019)," kata Jebatu.

Di mata Jebatu, Lusia adalah wanita yang pendiam, rajin dan suka membantu. "Lusia tidak banyak omong dan rajin ke kebun usai menikah. Tetangga senang bergaul dengan Lusia karena ia suka membantu orang," papar Jebatu.

Cerita Bonefasius Suami Lusia Luju: Sebelum Tewas Disambar Petir Istri Saya Mimpi Nyanyi di Panggung

Keluarga, lanjutnya, benar-benar kehilangan Lusia. Sore itu, di rumah duka ada tenda yang dibangun di tengah perkampungan dan sampai ke jalan raya. Tenda yang dibangun tampak ada keluarga dan tetangga yang datang melayat.

Mereka sungguh berduka. Isak tangis di dalam tenda duka dan rumah tua beratap seng yang sudah karat serta setengah tembok yang dindingnya sudah pudar sungguh terasa.  Kaum ibu yang mengenakan pakaian adat terus menangis. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu)

Penulis: Aris Ninu
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved