Mahasiswa Manggarai Gelar Seminar, Kartini Tidak Sekedar Kebaya Dan Konde

setiap memperingati hari kelahira Kartini dunia pendidikan formal dari level TKK hingga Perguruan Tinggi “tersedot” oleh aura Kartini.

Mahasiswa Manggarai Gelar Seminar, Kartini Tidak Sekedar Kebaya Dan Konde
POS KUPANG/ROMUALDUS PIUS
SEMINAR/Ikatan Pelajar Mahasiswa Manggarai Menggelar Seminar, Sabtu (9/11/2019). 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM,ENDE---Saat ini setiap memperingati hari kelahira Kartini dunia pendidikan formal dari level TKK hingga Perguruan Tinggi “tersedot” oleh aura Kartini. Lagu Ibu Kita Kartini dinyanyikan berlang-ulang plus lomba-lomba artifisial bertema Kartini menjadi “tontonan” yang jauh diminati.

Hal ini dikatakan Marianus Ola Kenoba pada pelaksanaan seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Pelajar Manggarai (Imapelma) di Kota Ende, Sabtu (9/11/2019) di Aula FKIP Universitas Flores, Ende.
Hadir dalam acara seminar itu para mahasiswa dan pelajar asal Kabupaten Manggarai yang sedang kuliah maupun bersekolah di Kota Ende.

Pemain Arema FC Hamka Hamzah Gantung Sepatu dan Pensiun dari Sepak Bola Tahun Depan,Alasan

Dalam seminar dengan tema, HEROISME KARTINI DALAM CAHAYA FEMINISME LIBERAL (Sebuah Pendekatan Sosiologi Sejarah), Marianus Ola Kenoba mengatakan bahwa sejak pagi anak-anak sekolah didandani kostumnya menyerupai busana Kartini tempo doeloe. Yang paling mencolok mata adalah Kebaya dan rambut berkonde. Dunia imaji yang mengisi imajinasi anak-anak sekolah tentang figur Kartinia adalah kebaya dan konde. Tidak lebih dari itu.

Padahal, mestinya kebaya dan konde adalah “lapisan” terluar saja dari pancaran aura seseorang yang dipanggil Kartini itu.

“Jika membaca buah-buah gagasan Kartini, ada banyak dimensi historis yang bisa digali dari sana. Ada hal-hal inheren yang ingin diketengahkan oleh seorang perempuan yang terlanjur hidup dalam pingitan. Buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi karya monumental Kartini yang dari sisi isinya sangat berbobot,”ujarnya.

Guru Ajak Murid Perempuan Hubungan Intim Bertiga Kekasihnya, Kata Dokter Boyke Perilaku Threesome

Dikatakan karya monumental tersebut, tidak hanya lahir dari refleksi personal Kartini melainkan hasil dialog atau korespondensinya dengan feminis berkebangsaan Belanda, Zeehandelaar dan Abendanon.
Ketika berdialog dengan “sahabat penanya” itu, Kartini merasakan sebuah horizon pemahaman yang sangat lain.

Ia begitu bergairah bercerita tentang latar sosio-kultural yang melingkupinya. Ia mendapat banyak input pengetahuan teoritik tentang perjuangan kaum feminis di Prancis dan belahan Eropa lainnya. Kartini begitu mengagumi spirit revolusi Prancis yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan sebagai fondasi dasar pergerakan.

Atas dasar korespondensi dengan sahabatnya di Belanda itu-lah kemudian mendorong minatnya untuk memanfaatkan pengetahuan barunya (feminisme)-tidak hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi sesamanya terutama bagi kaum perempuan.

Niat Kartini untuk mendirikan sekolah puteri pribumi kian menggebu-gebu. Memang untuk mewujudkan niatnya itu, Kartini mendapat banyak tantangan karena “kodratnya” sebagai seorang perempuan yang dalam sistem feodalisme Jawa sebagai second sex. Niat untuk mendidik kaum perempuan ini baru terrealisasi setelah Kartini menikah. *)

Pasangan Ini Pecahkan Rekor Guiness Sebagai Pasutri Tertua di Dunia, Simak YUK

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved