Calon Ketua Umum PSSI

Fary Fancis Pakai Konsep Sepakbola Adalah Cinta

Sejak muda, ia adalah pemain sepakbola. Sebagai goal keeper, Fary adalah pemain Tim Timor Timur saat pra PON.

Fary Fancis Pakai Konsep Sepakbola Adalah Cinta
Istimewa
Fary Francis

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sepakbola bukan hal baru bagi politisi Gerindra asal NTT, Fary Djemi Francis. Sejak muda, ia adalah pemain sepakbola. Sebagai goal keeper, Fary adalah pemain Tim Timor Timur saat pra PON.

Di masa mudanya, Fary adalah pemain yang tergabung dalam Persedil Dilli kemudan Bank Suma. Di Kupang, Fary adalah penjaga gawang PS Britama dan bermain di turnamen sepakbola Dji Sam Soe Pos Kupang Cup 2007.

Kemudian Fary mendirikan SSB Bintang Timur Atambua empat tahun lalu. Mantan Ketua Komisi V DPR RI yang juga tergabung dalam Komunitas Masyarakat Gila Bola (Mas Gibol) NTT ini telah siap bersaing menjadi Ketua Umum PSSI periode 2019-2022. Apa motivasinya? Bagaimana persiapan dan strategi melobi para pemilik suara? Wartawan Pos Kupang, Sipri Seko berkesempatan mewawancarai Fary Francis. Berikut petikannya:

Apa motivasi menjadi Ketum PSSI?
Motivasi saya sangat sederhana, yakni karena dorongan cinta yang luar biasa untuk kemajuan sepakbola Indonesia. Bagi saya, sepakbola bukan sekadar hobi. Bukan juga hanya pengisi waktu senggang atau semacam olahraga sebagaimana biasanya. Bukan.
Sepakbola adalah passion. Dibangun di atas wadah cinta. Diperjuangkan dengan penuh komitmen dan semangat pantang menyerah. Sepakbola adalah harapan, bahkan melampaui batas-batas administrasi negara.
Sepakbola merangkai persaudaraan, mempertautkan rasa, membingkai hati. Sepakbola itu kisah cinta yang tak kan pernah berakhir(storia di un grande amore). Sepak bola itu cinta. Inilah filosofi saya.

Manajemen PSN Ngada Dukung Fary Francis Jadi Ketum PSSI

Bagaimana awalnya hingga memutuskan maju jadi Ketum PSSI?
Berawal dari kegelisahan para mantan pemain nasional dan legenda sepak bola Indonesia. Kegelisahan itu memiliki alasan yang mencukupi (sufficio rationis). Sepakbola Indonesia dari periode ke periode tetap berkubang dalam persoalan.
Prestasi sepakbola Indonesia tidak menggembirakan bahkan dalam konteks ASEAN. Sudah cukup lama kiblat sepakbola Tanah Air diletakan pada arah yang keliru dengan pengelolaan yang amburadul baik secara manajemen maupun teknis.
Kita bangsa yang besar dengan beragam mimpi-mimpi besar justru menjadi begitu kecil dalam prestasi sepakbola. Padahal jika mau jujur, di masanya para legenda sepakbola Indonesia saat ini, prestasi sepakbola Indonesia luar biasa.
Dalam urusan sepakbola, Indonesia disegani tidak saja di level Asean tetapi juga Asia bahkan dunia. Kebanggaan masa lalu inilah yang hilang saat ini. Prestasi sepakbola semakin jauh dari Bumi Pertiwi ini. Ini memotivasi saya untuk maju menjadi salah satu kandidat Ketua Umum PSSI.

Ada banyak nama besar sebagai Caketum PSSI, siapa pesaing terberat?
Dengan konsep yang berbeda, saya yakin akan mendapatkan banyak dukungan. Soal siapa pesaing terberat, semua memiliki peluang yang sama. Yang pertama, yang mesti saya sampaikan adalah ucapan syukur bahwa dari proses pendaftaran dan seleksi administrasi, saya bersama tujuh kandidat lainnya dinyatakan Komisi Pemilihan PSSI untuk lanjut ke tahap berikutnya.

PSN Ngada Dukung Fary Francis, Asprov PSSI NTT Diam

Pada awal ada 11 nama yang masuk bursa calon Ketum PSSI, sekarang menjadi delapan orang dengan tiga kandidat masih diberi hak banding. Ini tentu menjadi satu tahapan luar biasa bagi saya.

Saya tidak melihat teman-teman lain sebagai pesaing. Tetapi sebagai kawan dan rekan yang memiliki niat dan komitmen dalam membangun sepak bola Indonesia. Kalau yang lain sebagai pesaing, maka saya menempatkan mereka sebagai kawan. Semuanya adalah sahabat-sahabat yang bisa menjadi mitra dalam membangun sepakbola
Bursa PSSI saat ini adalah mencari sahabat yang lebih mampu, memiliki konsep dan passion untuk sepakbola. Jadi tak ada pesaing berat, hanya ada sahabat-sahabat yang memiliki konsep dan visi berbeda.

Masyarakat Gila Bola NTT Kecam Sikap Asprov PSSI NTT

Bagaimana dengan dukungan sejauh ini?
Saat ini dukungan terus mengalir. Sampai saat ini sudah ada 16 voters. Termasuk PSN Ngada dari NTT. Yang sudah bangun komunikasi ada 37 voters. Hasil akhir dari proses kompetisi menuju PSSI 1 adalah berapa banyak suara voter yang mendukung. Hasil ini sangat ditentukan oleh proses yang sudah dan sedang dirinya dan tim laksanakan.
Saya dan tim tetap menjaga irama agar proses tidak mencederai hasil, karena kami yakin hasil tak mengkhianati proses. Berbagai komunikasi sudah, sedang dan terus kami lakukan dengan kawan-kawan pengurus sepakbola (pemilik suara) yang ada di Indonesia.
Saya tentu tidak bekerja sendiri. Banyak tokoh dan legenda hidup sepakbola Indonesia turut menjadi bagian dari perjuangan ini. Sudah ada yang menyatakan dukungan. Kami yakin banjir dukungan semakin banyak. Prinsipnya mereka mendukung saya bukan karena mereka mendapatkan sesuatu atau diberi sesuatu (do ut des) tetapi karena mereka merasa yakin bahwa kita bisa bekerjasama untuk membuat sepakbola tanah air lebih baik, dan kita memiliki cinta yang besar untuk membangun sepak bola di negeri ini.

Di NTT misalnya, PSN Ngada sebagai salah satu pemilik suara sudah menyatakan dukungan yang pasti kepada saya. Walaupun hingga saat ini dukungan yang sama belum kelihatan dari Asprov PSSI NTT. Dukungan dari rumah sendiri, dari daerah sendiri adalah penyemangat untuk terus berupaya mendapatkan dukungan dari pemilik suara di daerah lain.

Apa penyebab sepak bola Indonesia terpuruk?
Salah satu persoalan mendasar yang hakiki adalah sudah cukup lama induk sepakbola Indonesia (PSSI) tidak dikelola dengan hati, dan diurus dengan sepenuh cinta. Sepakbola diperlakukan biasa-biasa saja.

Bahkan kiblatnya berubah. Bukan lagi mengejar prestasi, tetapi melanggengkan kekuasaan para pengurus dan prestise-prestise manajemen. Sepakbola Indonesia telah kehilangan rohnya. Negara yang berpenduduk 270 juta orang ini, begitu sulit menemukan para pemain sepakbola yang berkualitas dan tentunya para pengurus/pengelola sepakbola (PSSI) yang mempunyai hati dan cinta yang besar untuk sepakbola. PSSI saat ini didera oleh persoalan akut baik dalam aspek manajemen, teknis hingga turnamen. Sebagai contoh, sampai saat ini PSSI belum memiliki home base sebagai tempat pemusatan latihan dan markas besar sebagai PSSI housing, serta manajemen data base pemain, pelatih dan perangkat pertandingan seperti wasit dan inspektur pertandingan. Inilah persoalan-persoalan PSSI yang tak kunjung ada tindak lanjut dan belum terwujud hingga kini. Jika terpilih, yang saya dan tim lakukan adalah melakukan langkah-langkah taktis dan konseptual untuk membangun sepakbola Indonesia dengan cinta. Tentu visi kami menjadi patokan. *

Penulis: Sipri Seko
Editor: Sipri Seko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved