Lembaga Bilogi Eijkman Dan Univeritas Notre Dome Uji Klinik Obat Penghalau Nyamuk Malaria Di SBD

Berdasarkan hasil uji coba klinik tersebut obat spasial refelen dapat menurunkan angka kejadian malaria.

Lembaga Bilogi Eijkman Dan Univeritas Notre Dome Uji Klinik Obat Penghalau Nyamuk Malaria Di SBD
POS KUPANG/PETRUS PITER
Foto Bersama Bupati SBD, dr.Kornelius Kodi Mete bersama peneliti dari universitas Notre Dame, Amerika Serikat dan lembaga eijkman Jakarta pada acara seminar uji coba obat oenghalau nyamuk malaria di hotel Sinar Tambolaka, SBD, Junat (11/10/2019) 

Lembaga Bilogi Eijkman Dan Univeritas Notre Dome Uji Klinik Obat Penghalau Nyamuk Malaria Di SBD

POS-KUPANG.COM|TAMBOLAKA---Lembaga biologi molekuler Eijkman Jakarta bekerjasama dengan Universitas Notre Dome Amerika Serikat dan Dinas Kesehatan Kabupaen Sumba Barat Daya melakukan uji coba klinik obat penghalau nyamuk (Refelen Spasial) tahap II di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Gaura, Sumba Barat

Uji coba coba tersebut bertujuan mengukur penurunan resiko infeksi malaria dengan menggunakan Spasial Refelen (obat penghalau nyamuk malaria). Uji coba tahap I telah berlangsung pada tahun 2014 .

Langkah uji coba tersebut ingin membuktikan konsep penggunaan obat penghalau nyamuk malaria spasial refelen. Hal itu mengingat Sumba Barat Daya khususnya dan Sumba umumnya adalah daerah endemik malaria.

Demikian disampaikan Prof.Syafruddin, MD, Ph.D dari lembaga biologi molekuler Eijkman Jakarta pada seminar uji klinik obat penghalau nyamuk malaria' Spasial Refelen' yang dihadiri pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Barat, para camat dan elemen terkait lainnya di Hotel Sinar Tambolaka, Sumba Barat Daya, Jumat (11/10/2019).

Profesor Syafruddin menjelaskan lembaga biologi molekuler Eijkman Jakarta bekerjasama dengan Universitas Notre Dome, Amerika Serikat memulai penelitian dan uji klinik obat penghalau nyamuk malaria di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya sejak tahun 2008 atau telah berjalan 11 tahun hingga saat ini.

Untuk kegiatan penelitian dan uji klinik tersebut melibatkan 2800 rumah di Kabupaten Sumba Barat Dan Sumba Barat Daya sebagai sampel uji coba klinik penggunaan obat penghalau nyamuk malaria.

Secara teknis, demikian Profesor Syafruddin, dari 2800 rumah itu, tidak semua terpasang obat penghalau nyamuk malaria (spasial refelen).

Hal itu untuk membandingkan seberapa banyak warga tergigit nyamuk malaria pada rumah yang terpasang obat penghalau nyamuk dibandingkan dengan rumah yang tidak terpasang obat penghalau nyamuk spasial refelen.

Penggunaan spasial refelen berbeda dengan penggunaan kelambu dimana spasial refelen untuk satu ruangan dapat terhindar dari gigitan nyamuk malaria sedangkan kelambu hanya melindungi orang yang tidur menggunakan kelambu saja.

Halaman
12
Penulis: Petrus Piter
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved