Artis Hollywood Tewas Tanpa Busana, Dimutilasi, Polisi Belum Bisa Ungkap Pembunuh, Ini Kronologisnya

Artis Hollywood Tewas Tanpa Busana, Dimutilasi, Polisi Belum Bisa Ungkap Pembunuh, Ini Kronologisnya

Artis Hollywood Tewas Tanpa Busana, Dimutilasi, Polisi Belum Bisa Ungkap Pembunuh, Ini Kronologisnya
youtube
Ilustrasi Artis Cantik Berusia 22 Tahun Dibunuh dan Dimutilasi, Jasadnya Ditemukan Tanpa Busana 

Short ditemukan dalam keadaan tanpa busana.

Meski begitu, tidak ada jejak sperma dalam organ intim Short.

Menepis dugaan bahwa pembunuhnya telah memperkosa Short sebelumnya.

Pihak penyelidik mengatakan bahwa pemotongan tubuh dilakukan dengan sangat rapi, sesuai dengan anatomi manusia.

Ini membuat polisi menaruh kecurigaan bahwa pelaku mungkin saja memiliki latar belakang pendidikan medis atau kedokteran.

Selang beberapa waktu kemudian, sebuah surat diterima oleh kantor polisi setempat.

Surat ini tidak ditulis dengan tangan, tetapi dengan menggunakan huruf-huruf yang disusun dari potongan koran.

Belakangan disebut dengan istilah "surat kaleng".

Di dalam amplop itu terdapat banyak benda pribadi Short.

Bahkan pengirim surat ini juga mengatakan bahwa benda-benda tersebut adalah barang-barang milik Short yang sebelumnya berada di dalam tas.

Semua barang di dalam amplop beraroma bensin seolah-olah pengirim telah menghapus sidik jarinya dengan bensin.

Berbagai cara pun dilakukan oleh polisi dan FBI demi mendapatkan bukti baru atas jalan gelap kasus ini.

Namun apa yang mereka lakukan seakan tidak membuahkan hasil.

Sekitar 200 orang telah diinterogasi bahkan sebagian besar dari mereka juga telah melakukan tes kebohongan dan hasilnya nihil.

Berbagai spekulasi pun muncul terkait pembunuhan ini.

Salah satunya adalah penolakan ajakan untuk berhubungan badan lantaran Short sedang hamil.

Namun teori ini pun luruh karena berdasarkan hasil otopsi, Short tidak sedang hamil, dan belum pernah hamil.

Ia Black Dahlia akhirnya dimakamkan di Oakland, dan ibunya, Phoebe pindah ke daerah di dekat makamnya. (*)

Usai Tebas Tetangga, Pelaku ke Masjid Menabuh Gendang dan Lakukan Hal Ini, Begini Nasibnya 

Apa motif Iwan (30), nekat membunuh tetangganya yang jauh lebih tua, Tumin (50)?

Ternyata warga Jambearum, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini, kesal karena tetangganya selaku melakukan hal ini.

Pembunuhan itu dlakukan idengan Iwan dengan menggunakan pedang yang sudah disiapkan sebelumnya.

Dikutip dari Surya.co.id, Jumat (11/10/2019), Kapolsek Puger AKP Ribut Budiono menuturkan motif yang membuat Iwan tega menghabisi nyawa Tumin.

Ribut menjelaskan bahwa pelaku sudah kerap meminta uang kepada korban untuk membeli minuman keras. Uang Rp 50 ribu biasanya diberikan korban kepada pelaku.

"Beberapa kali tersangka ini minta uang, dan korban memberinya. Biasanya Rp 50 ribu untuk beli minuman keras," ujar AKP Ribut.

Dan jika mendapat uang itu, pelaku akan minum minuman keras di dekat lokasi tempat korban bekerja, yakni SPBU Jambearum.

"Nah, beberapa kali pelaku ini minumnya di dekat SPBU yang dijaga korban," sebutnya.

Saat itu, Rabu (9/10/2019), dini hari pelaku kembali mendatangi korban untuk meminta uang.
Namun korban menolak permintaan pelaku dan mengaku belum mendapat gaji bulan itu.

Sebelumnya, korban juga beberapa kali menolak.

Pelaku lantas kesal dan ia telah menyiapkan senjata tajam seperti pedang.

Senjata yang dibawa juga dibungkus menggunakan daun pisang.

"Si pelaku ini membawa senjata tajam yakni pedang dengan sebuah daun pisang di belakang (SPBU) yang kita lihat dari monitor CCTV," ujar Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal dikutip TribunWow.com dari Kompas tv, Jumat (11/10/2019).

Pembunuhan lantas terjadi, pelaku menebas leher korban lima kali dan membuat korban tewas bersimbah darah.

Pelaku juga telah ditahan oleh pihak polisi.

Ia dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang membuat hilangnya nyawa seseorang, junto Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

"Kami juncto-kan memakai Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana karena pelaku sudah membawa parang," pungkas Ribut. (*)

Pelaku Bunuh Korban dan Umumkan di Masjid

Diketahui, seusai membunuh, pelaku lantas berjalan ke masjid dusun Krajan, Desa Jambearum, yang berjarak satu kilometer dari lokasi pembunuhan.

Pelaku juga membawa senjata yang dipakainya untuk membunuh korban.

Saat tiba di masjid, pelaku lalu membersihkan darah dari senjata yang digunakan membunuh korban.

Seusai membersihkan sejatanya, pelaku lantas mengumumkan melalui speaker masjid.

Pelaku mengatakan bahwa korban telah meninggal dunia.

"Tersangka memberikan pengumuman perihal orang meninggal. Yang meninggal atas nama Tumin. Ya kayak pemberitahuan meninggalnya orang pada umumnya, pengumuman duka cita di masjid," ujar Kapolsek Puger AKP Ribut Budiono, Rabu (9/10/2019).

Ucapan pelaku dibeberkan oleh saksi yang mendengar ucapan pelaku, Elis.

Elis juga diketahui tetangga pelaku dan korban, dikutip TribunWow.com dari saluran YouTube SBCTV Jatim Inspirasi Nusantara, yang diunggah pada Rabu (9/10/2019).

Elis menuturkan sebelum subuh, Iwan mengumumkan meninggalnya Tumin.

Dalam pengumumannya itu Iwan berdoa agar Tumin dosa-dosanya diampuni.

"Ya ke musala, shalawatan habis itu ngomong kalau Tumin meninggal, warga Jambearum Kidul. 'Mudah-mudahan dimaafin sama Allah' gitu," ujar Elis.

"Mau pas salat subuh itu pak. Kurang tahu jam berapa," tambahnya.

Elis mengira apa yang dilakukan Iwan hanya bercanda.

Disebutkannya, Iwan juga menyelipkan permintaan maaf kepada para tetangganya.

"Tak kira cuma bercanda. Habis itu minta maaf, 'Saya minta maaf sama saudara saya di Jambearum," cerita Elis menirukan ucapan Iwan.

Setelah itu Elis menuturkan Iwan turun dari mimbar dan menabuh gendang berteriak-teriak.

Iwan lantas menuju polsek bersama warga untuk menyerahkan diri.

"Terus turun wes, main gendang. Teriak-teriak gitu terus lari ke barat menyerahkan diri ke Polsek," sebut Elis. (*)

Aulia Kesuma Ajak Pupung Sadili Si Suami Hubungan Badan dan yang Diberikan Demi Muluskan Pembunuhan

Aulia Kesuma ajak Pupung Sadili sang suami hubungan badan sebelum dibunuh hingga ini yang diberikan untuk muluskan pembunuhan.

Pembunuhan terhadap Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan M Adi Pradana (23) dilakukan secara terencana oleh Aulia Kesuma.

Rencana pembunuhan muncul pada Juli 2019, namun eksekusi dilakukan pada Agustus 2019.

Sebelum memerintahkan pembunuhan terhadap suami dan anak tirinya, Aulia Kesuma (35) terlebih dahulu meminta pembantunya untuk mencari paranormal.

Langkah ini dilakukan Aulia Kesuma dengan harapan membuka pintu hati suaminya agar bisa menjual rumah.

Namun, upaya itu gagal.

"Meminta bantuan kepada paranormal tapi gagal. Kemudian saudari AK ( Aulia Kesuma ) merencanakan menghabisi (pembunuhan) suami dan anak tirinya, dengan mencari para eksekutor ( pembunuh bayaran)," kata Kapolres AKBP Nasriadi.

Langkah Aulia Kesuma dalam menghabisi nyawa suami dan anak tirinya tak berhenti sampai di situ.

Bersama dengan KA dan RD, mereka menyusun rencana eksekusi dengan bantuan pembunuh bayaran dari Lampung.

Tanggal 23 Agustus 2019, Aulia Kesuma menjemput para eksekutor (pembunuh bayaran) sambil membawa balita umur 4 tahun hasil pernikahan dengan Pupung Sadili.

Para eksekutor atau pembunuh bayaran ini kemudian dibawa oleh Aulia Kesuma ke rumahnya sekaligus korban di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

"Kemudian berangkat ke Lebak Bulus ke rumahnya menggunakan mobil milik pribadi tersangka AK ( Aulia Kesuma ) Toyota Cayla hitam disopiri AK, di sebelahnya ada pembantunya dan anaknya R," kata AKBP Nasriadi dalam jumpa pers di Mapolres Sukabumi, Rabu (29/8/2019).

Agar sang anak tidak tahu siapa yang dijemput, Aulia Kesuma mencoba membatasi pandangan buah hatinya itu ke bagian kursi belakang mobil.

"Supaya agar anaknya tidak tahu, jok tengahnya dilipat sehingga menutupi pandangan ke belakang dan di belakang sudah ada 4 orang yang akan melakukan eksekusi itu yaitu SG, AG, RD dan AV," ujarnya.

Dalam perjalanan salah satu eksekutor AV tiba-tiba mengalami gejala sakit ayan di kawasan Pasar Minggu dan eksekutor RD turut menemaninya kembali ke hotel sehingga dua eksekutor ini tidak ikut dalam rencana pembunuhan itu.

Aulia Kesuma tetap melanjutkan rencana pembuhan dengan membawa dua eksekutor yang tersisa yakni SG dan AG ke rumah korban di Lebak Bulus.

Sebelum tiba di rumah, Aulia Kesuma mampir membeli jus timun campur jeruk, di Kalibata, Jakarta Selatan.

Lalu, jus tersebut dicampur obat tidur 5 butir atau dosis tinggi.

Saat sampai di rumah, Aulia Kesuma sempat bercengkrama dengan Pupung Sadili sang suami.

Setelah itu, mengajak sang suami ke dalam kamar tidur untuk istirahat sambil bercinta.

Tak lama kemudian, Pupung Sadili meminum jus pemberian Aulia Kesuma.

Namun, jus tersebut terasa pahit hingga dia bertanya kepada sang istri soal campuran di dalamnya.

Aulia Kesuma mengatakan jika rasa pahit itu bersumber dari campuran sayuran.

Setelah meminum jus, Pupung Sadili tertidur pulas di dalam kamar.

Sekitar pukul 21:30 WIB, saat  Pupung Sadili tertidur pulas, Aulia Kesuma memanggil para eksekutor untuk membekap suaminya hingga meninggal dunia menggunakan handuk.

Jika Pupung Sadili diberi jus campur obat tidur, lain lagi dengan M Adi Pradana yang diajak minuman keras campur obat tidur oleh Giovanni Kelvin, ponakan Aulia Kesuma.

Setelah minum, M Adi Pradana ke kamar tidur, namun dia tak langsung tidur pulas.

Giovanni Kelvin pun sempat mengajak korban berbincang dan main game.

Pada tengah malam, saat M Adi Pradana tertidur pulas, para eksekutor masuk ke kamar untuk membekap korban.

Saat dibekap, korban sempat terbangun minta tolong dan melawan.

Eksekutor lalu mencekik korban hingga tak bernyawa.

Setelah dieksekusi, kedua korban diletakkan di SPBU Cirende, di Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Tak berselang lama, para pembunuh bayaran menyuruh Aulia Kesuma dan Giovanni Kelvin untuk mengambil mobil yang sudah berisikan mayat tersebut.

Aulia Kesuma dan Giovanni Kelvin kemudian mengambil mobil tersebut pada Minggu (25/8/2019) pukul 07.00 WIB untuk kemudian dibawa ke Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tersangka Aulia Kesuma lalu membeli bensin di dekat lokasi tempat kejadian dan menyerahkannya ke Giovanni Kelvin untuk membakar mobil tersebut.

Untuk hilangkan jejak pembunuhan

Berdasarkan keterangan AKBP Nasriadi, anggota Polsek Cidahui segera datang ke lokasi seusai menerima laporan dari warga terkait kejadian mobil terbakar.

Setelah itu, polisi dan warga menemukan dua jasad yang kondisinya tinggal tulang-belulang di mobil Toyota Calya dengan nomor polisi B 2983 SZH.

Setelah melakukan penyelidikan, polisi menyimpulkan dua jasad tersebut dibunuh sebelum dimasukkan mobil dan dibakar pelaku.

Hal ini terindikasi dari kondisi mayat yang sudah mengalami pembusukan.

"Kedua jasad sudah berada di dalam mobil, lalu mobilnya dibakar pelaku untuk menghilangkan jejak," tutur AKBP Nasriadi.

Pelaku ditangkap kurang dari 24 jam

Sementara itu, kurang dari 24 jam, polisi berhasil menangkap Aulia Kesuma di Jakarta pada Senin (26/8/2019).

"Alhamdulillah perkara dugaan pembunuhan ini terungkap kurang dari 24 jam dengan mengamankan otak pelaku," kata AKBP Nasriadi saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Senin (26/8/2019) malam.

Dua dari 4 pembunuh bayaran alias eksekutor yang disewa Aulia Kesuma ditangkap.

Kedua tersangka berinisial S dan A.

Penangkapan tersebut dilakukan oleh tim gabungan Polres Sukabumi dan Polda Metro Jaya.

"Sudah (ditangkap) oleh Polda Metro Jaya dan tim gabungan dari Polres Sukabumi," ujar AKBP Nasriadi saat dihubungi Selasa (27/8/2019).

Penangkapan ini terjadi lantaran lokasi eksekusi kedua korban diduga di wilayah Jakarta.

Untuk menghilangkan jejak, kedua jasad korban dibuang dan dibakar di Sukabumi.

"Kami hanya fokus TKP pembuangan. Pengembangannya dari Polda Metro Jaya," katanya.

Aulia Kesuma sewa eksekutor Rp 500 juta

Dalam pemeriksaan polisi, Aulia Kesuma mengaku menyewa empat eksekutor untuk membunuh suami dan anak tiri sebesar Rp 500 juta.

"Pelaku AK ( Aulia Kesuma ) menjanjikan uang Rp 500 juta kepada para eksekutor," kata AKBP Nasriadi saat dihubungi, Selasa (27/8/2019).

Lalu, Aulia Kesuma mengaku baru membayar Rp 130 juta dan sisanya akan dilunasi jika keempat eksekutor itu berhasil membunuh kedua korban. "Baru disetorkan Rp 130 juta (kepada eksekutor)," ucapnya.

Giovanni Kelvin ternyata bukan anak Aulia Kesuma

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, tersangka Giovanni Kelvin alias GK merupakan keponakan tersangka Aulia Kesuma, istri Edi.

Sebelumnya, Giovanni Kelvin disebut sebagai anak dari Aulia Kesuma.

"Ada yang bertanya kenapa umurnya ( tersangka Aulia Kesuma ) terpaut 10 tahun (dengan tersangka KV). Itu bukan anaknya, tapi itu tantenya ( Aulia Kesuma adalah bibi Giovanni Kelvin )," kata Kombes Argo Yuwono di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (28/8/2019)

Tersangka Giovanni Kelvin berperan sebagai pembunuh Dana dengan cara diberi minuman keras lalu dibekap.

Dana dan ayahnya dibunuh di rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Kedua korban kemudian dibawa ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk dibakar di dalam mobil.

Saat ini, polisi tengah mendalami jumlah utang yang melilit Aulia Kesuma.

Pasalnya, Aulia Kesuma merencanakan pembunuhan Pupung Sadili dan Dana karena masalah utang.

Pembunuhan dilakukan setelah AK tidak diizinkan menjual rumah oleh Pupung Sadili.

"Itu masih kami komunikasikan dengan tersangka AK. Kami belum dapat secara pasti (jumlah utangnya)," kata Kombes Argo Yuwomno.

Giovanni Kelvin hingga kini masih menjalani perawatan di RS Pusat Pertamina, Jakarta, karena luka bakar saat berusaha membakar Pupung Sadili dan Dana yang sudah tak bernyawa di dalam mobil.

Selain Aulia Kesuma dan KV, polisi juga menangkap dua tersangka lain, yakni SG dan AG, dua pembunuh bayaran.

Keduanya ditangkap di Lampung Timur, Lampung, oleh tim Jatanras Polda Metro Jaya dengan dibantu Polda Lampung. (*)

Telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Heboh, Iwan Tebas Leher Tetangga, Umumkan Sendiri Berita Kematian di Masjid, Warga Mengira Candaan, 

HEBOH! Warga Temukan Mayat dalam Kondisi Sujud Terungkap di Jembatan, Polisi Temukan Fakta Ini

Jenazah itu ditemukan warga di pinggir jalan arteri Surabaya - Madiun pada Rabu (2/10/2019) pagi.

Setelah dicek, ternyata mayat itu adalah korban pembunuhan.

Korban dibunuh oleh Budiono (48), warga Dusun Jatisari, Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sehari-hari pelaku berprofesi sebagai tukang becak yang mangkal di simpang empat RSUD Jombang.

Kapolres Jombang, AKBP Bobby Pa'ludin Tambunan mengatakan, pelaku ditangkap polisi pada Kamis (3/10/2019) pagi.

Pelaku ditangkap di wilayah Ploso Kabupaten Jombang dalam pelariannya usai menghabisi nyawa korban.

Budiono, ungkap Bobby, usai membunuh korban sempat kabur ke Kertosono, Kabupaten Nganjuk, kemudian ke wilayah Ngoro, Kabupaten Jombang.

Pelaku kemudian melanjutkan pelariannya ke wilayah Ploso dengan mengendarai becaknya.

"Tadi pagi sekitar pukul 10.00, tersangka berhasil kami ringkus di wilayah Ploso," kata Bobby saat menggelar konferensi pers di Mapolres Jombang, Kamis (3/10/2019).

Sebelumnya diberitakan, jenazah seorang ditemukan tergeletak di pinggir jalan arteri Surabaya - Madiun, tepatnya di Jalan Basuki Rahmad Jombang, Rabu (2/10/2019) pagi.

Saat ditemukan mayat tersebut dalam kondisi terduduk tengkurap seperti bersujud.

Dari hasil penyelidikan, jenazah tersebut bernama Achmad Dwi Antoko.

Korban warga Jalan Madura, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pria kelahiran Mojokerto tahun 1998 itu merupakan anak dari pasangan Subagio dan Siti Latifah.

Sepupu korban, Sujatmiko (35) mengungkapkan, sehari-hari, Antoko berkerja membantu bibinya berjualan 'lesehan' di Alun-alun Kabupaten Jombang.

"Saya dapat kabar dari WhatsApp. Awalnya tidak percaya karena tadi pagi sempat ketemu dengan Antok. Tapi setelah saya datangi, ternyata benar Antok," katanya saat ditemui di RSUD Jombang, Rabu (2/10/2019).

Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Azi Pratas Guspitu mengungkapkan, penyebab kematian korban adalah akibat adanya luka sayatan dan tusukan senjata tajam pada leher korban.

Akibat luka di leher, korban kehabisan darah. Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dengan kondisi tubunya berlumuran darah.

Selain luka sayatan benda tajam pada leher, korban juga menderita luka sayatan pada telapak tangannya.

"Dari hasil autopsi, ada luka sayatan dan tusukan di leher. Ini yang menyebabkan korban kehabisan darah," jelas Azi saat dikonfirmasi Kompas.com.

Saat ini, lanjut Azi, pihaknya masih melakukan penyelidikan dan menelusuri pelaku. Namun, nama terduga pelaku dikantongi polisi.

"Kami sudah mengantongi nama terduga pelaku. Tapi penyelidikan ini masih berlanjut," ujar dia kemarin.

Keberadaan sosok mayat yang kini diketahui bernama Achmad Dwi Antoko pertama kali diketahui oleh Zainal Abidin (49), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Zainal mengatakan, dia melihat sosok mayat tersebut saat berkendara ke arah barat dari Stasiun Kereta Api Jombang.

Saat melintas di Jalan Basuki Rahmad tersebut, dia melihat ada sosok mencurigakan di atas jembatan jalan.

"Kronologi persisnya saya tidak tahu. Tadi waktu saya berkendara dari Stasiun ke arah Perak (barat), saya melihat ada sesuatu di atas jembatan. Semula saya tidak mengira kalau itu (mayat) orang," ungkap dia, saat ditemui di lokasi kejadian.

Saat ditemukan mayat tersebut dalam kondisi terduduk tengkurap mirip orang sujud.

Tubuh korban juga bersimbah darah yang keluar dari mulut, hidung dan pergelangan tangan.

Saat ditemukan, lanjut Zainal, sosok mayat laki-laki tersebut mengenakan kaos berwarna hijau dan bercelana pendek berbahan jins warna abu-abu.

"Waktu saya dekati, ternyata itu orang. Posisinya duduk tengkurap seperti orang sujud. Banyak darah keluar dari hidung, mulut sama dari pergelangan tangan," kata Zainal.

Setelah memastikan bahwa yang dia jumpai adalah sosok mayat bersimbah darah, Zainal segera berbalik arah menuju Pos Polisi yang berada di sebelah timur Stasiun Kereta Api Jombang dan melaporkan penemuan mayat tersebut.

Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Azi Pratas Guspitu mengungkapkan, setelah mendapatkan laporan temuan mayat itu, pihaknya langsung mendatangi dan melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara).

Dari hasil identifikasi awal, polisi menduga mayat itu meruapakan korban pembunuhan.

Adapun usia korban, diperkirakan sekitar 30 tahun.

"Kami masih melakukan tahap identifikasi. Kami duga ini korban pembunuhan. Untuk identitasnya masih kami cari, kami belum tahu siapa," kata dia, saat dikonfirmasi Kompas.com.

Sementara itu, sosok mayat yang ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB dievakuasi ke RSUD Jombang. Kepolisian masih menunggu hasil visum dari rumah sakit.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jenazah dalam Kondisi Sujud di Pinggir Jalan Ternyata Korban Pembunuhan Tukang Becak",  

* Seorang siswi di Kalimantan Barat ditemukan tak bernyawa di dalam parit di Kecamatan Tayan Halu.

AT (16) ditemukan dalam kondisi masih menggunakan segaram sekolah pramuka, Selasa (30/4/2019).

AT ternyata merupakan korban pemerkosaan sekaligus pembunuhan yang dilakukan oleh ayah tirinya.

Kronologi Penemuan

AT ditemukan tak jauh dari permukiman warga di Dusun Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu.

Kepala Desa Peruan Dalam, Kecamatan Tayan Hulu, Robert Jonshon membenarkan ditemukanya mayat perempuan berusia 16 tahun tersebut.

Bahkan dirinya juga ikut ke TKP ditemukanya mayat tersebut.

“Betul tadi pagi sekira pukul 09.00 WIB dijumpai warga dengan mencium bau busuk di TKP. Dia siswi SMPN 05 Tayan Hulu, Kelas 8 B,” katanya melalui telpon selulernya, Selasa (30/4/2019) pukul 20.35 WIB

“Dan baru digegerkan tadi pagi pukul 09.00 WIB, dan pihak Kades menerima laporan sekira pukul 09.20 WIB dari penemu bau busuk pertama oleh tiga orang warga, ”pungkasnya.

Pelakunya Seorang Ayah Tiri

Tersangka dugaan pembunuhan siswi SMP tersebut ternyata ayah tiri korban inisial RW.

Hal itu disampaikan Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi didampingi Kasat Reskrim Polres Sanggau, AKP Haryanto, Tim Dokter Forensik Polda Kalbar, dr Monang Siahaan saat menggelar prease release terkait pengungkapan kasus pembunuhan.

Kegiatan berlangsung di Polres Sanggau, Rabu (1/5/2019).

Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi menjelaskan kronologis kejadian yakni, pada Selasa (30/4/2019), satu diantara warga Kecamatan Tayan Hulu, inisial JR yang pergi ke ladang mencium bau yang tidak enak.

“Setelah dicari ternyata disitu melihat kaki manusia yang sudah tertimbun dengan tanah. Kemudian saksi menginformasikan kejadian itu ke Polsek Tayan Hulu, ”katanya.

Kemudian, tim dari Polres Sanggau dan Polsek mendatangi TKP dan melakukan olah TKP serta mengindentifikasi dan mengumpulkan barang bukti dan informasi yang ada di TKP.

“Sehingga di TKP juga kita amankan beberapa barang bukti, berupa kayu, batu dan juga seragam korban. Setelah diidentifikasi dan mencari keterangan, mayat yang sudah tertimbun inisial AT yang sudah tiga hari tidak kembali, ”ujarnya.

Setelah itu, jenazah dibawa ke Puskesmas Tayan Hulu. Dan setelah melakukan upaya mengevakuasi korban, langsung melakukan komunikasi kepada Bidang Dokes Polda Kalbar.

Kades menjelaskan, sebelumnya korban pulang sekolah pada Sabtu (27/4/2019) siang. Sejak itu tidak ada sampai di rumah.

“Untuk penangganan jenazah untuk dilakukan autopsi. Dan hari ini sudah ada tim dokter forensik Polda Kalbar yang telah melaksanakan autopsi terhadap AT,” tegasnya.

Kapolres menegaskan, pihaknya secara maraton melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, termasuk juga dilakukan pengumpulan keterangan dari pihak sekolah, lantaran saat itu korban masih menggunakan seragam pramuka.

“Kita periksa saksi-saksi termasuk juga teman dekat, kerabat, ibu kandung korban, wali kelas korban dan dugaan tersangka RW (Ayah tiri korban). Diperoleh juga keterangan para saksi yang mengarah kepada RW. Dan yang bersangkutan mengakui bahwa pelaku pembunuhan adalah RW, ”jelasnya.

Sebelum menghabisi korban, RW sempat memperkosa korban di TKP.

Dan sebelumnya juga sudah dilakukan sebanyak tiga kali, dua kali dilakukan di rumah pada tahun 2018 dan sekali dilakukan TKP.

“Kita juga mendapatkan informasi dari wali kelas korban, dari keteranganya memang melihat bahwa korban ini seperti tekanan batin sehingga disekolah itu cenderung untuk diam, ”jelasnya.

Pelaku juga yang kerap mengantar jemput korban saat sekolah. Dan saat itu juga, pelaku membawa korban kesalah satu TKP galian tanah.

“Disitulah pelaku menyetubuhi korban, karena juga sudah cek cok mulut. Korban merasa masa depanya tidak ada lagi sehingga menuntut bagaimana pertanggungjawaban pelaku terhadap korban. Kemudian korban didorong dan jatuh ke parit dan langsung melakukan penyekikan, disitu ada juga batu dan kayu dan sepeda motor sebagai alat angkutnya,” jelasnya.

Barang bukti yang diamankan berupa sepeda motor, batu yang digunakan untuk melakukan pemukulan maupun kayu yang digunakan untuk menimbun termasuk juga baju korban yang sudah kita amankan.

“Ancaman hukuman bisa seumur hidup, karena juga ini kita lapis dengan UU perlingungan anak. Tentunya ini menjadi efek jera dan pelajaran bagi kita. Dan pihak korban juga rela untuk di autopsi untuk mengungkap. Dan ini menjadi pemahaman bagi masyarakat kita, dalam penyidikan perlu sekali untuk dibuktikan secara ilmiah, sehingga dokter dari forensik memberikan bantuan dalam penyidikan, ”tegasnya.

Kapolres menambahkan, pelaku berhasil diamankan kurang dari 24 jam. Untuk itulah, Kapolres mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang turut serta dalam membantu pengungkapan ini.

“Dan kerjasamanya yang baik antar masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Tayan Hulu yang sudah memberikan informasi, masukan demi kecepatan terungkapnya kasus pembunuhan ini. Mudah-mudahan kedepan tidak terulang kembali kejadian seperti ini, ”tegasnya.

Sementara itu, Tim Dokter Forensik Polda Kalbar, dr Monang Siahaan menyampaikan, pihaknya mendapatkan informasi lisan melalui telekomunikasi yang ditujukan ke Bid Dokes Polda Kalbar, untuk meminta bantuan mengungkap misteri kematian seorang wanita di wilayah Kabupaten Sanggau.

“Sore kemarin langsung kita bentuk tim untuk meluncur langsung ke Sanggau. Surat yang memang saya baca dengan benar, memohon untuk melakukan pemeriksaan dalam dan luar untuk melakukan autopsi namanya, ”ujarnya.

Selain itu, ada surat persetujuan tindakan autopsi yang ditandatangani bermatrai enam ribu dari pihak penyidik, keluarga ataupun saksi yang ada.

“Setelah dilakukan autopsi tadi, saya banyak menemukan beberapa kejanggalan yang akan saya tuangkan di visum et refertum. Nah saya tidak punya wewenang dan hak untuk menjelaskannya kepada teman media. Tapi untuk beberapa hari kedepan bisa bertanya kepada penyidik yang melakukan menyelidiki kasus ini, ”tegasnya.

Beberapa kelainan yang ditemukan yang tidak bisa diungkapkan secara detail yaitu dibagian kepala, kemaluan dan lain-lainya.

Pengakuan Ayah Tiri

RW tersangka pelaku pembunuhan terhadap AT siswi SMP Tayan Hulu, mengaku menyesal setelah menghabisi anak tirinya itu.

Namun ia mengakui sudah berencana untuk memperkosa korban.

“Saya menyesal. Saya melakukannya hari Sabtu (27/4/2019) siang, di lokasi berbatuan. Jauh sikit dari perkampungan,” katanya, Rabu (1/5/2019).

Saat itu, memang dirinya yang menjemput korban dari sekolah.

Ketika ditanya lagi alasannya nekat menghabisi korban, ia menjawab, takut aksinya itu terbongkar. (*)

Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul zArtis Cantik Sedang Naik Daun Dibunuh dan Dimutilasi, Dunia Hiburan Gempar Tak Juga Terungkap

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Artis Cantik Ternama Ditemukan Tanpa Busana, Tubuhnya Dimutilasi, Kasusnya Tak Terungkap,

Editor: OMDSMY Novemy Leo
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved