Pasca Penusukan Wiranto, TNI Evaluasi Pengamanan Jokowi, Masih Bolehkah Rakyat Bersalaman

Pasca penusukan Wiranto, TNI evaluasi pengamanan Jokowi, masih bolehkah rakyat bersalaman

Pasca Penusukan Wiranto, TNI Evaluasi Pengamanan Jokowi, Masih Bolehkah Rakyat Bersalaman
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kedua kiri) dan Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Darmin Nasutin (kedua kanan), menyalami warga penerima sertifikat Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) di Hutan Lindung Digulis, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/9/2019). 

Kepala Negara memohon doa dari masyarakat agar Wiranto segera pulih. Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama melawan terorisme dan radikalisme.

"Kepada seluruh masyarakat kami ajak bersama memerangi radikalisme dan terorisme di tanah air. Hanya dengan upaya bersama terorisme dan radikalisme bisa kita selesaikan dan berantas dari negara yang kita cintai ini," ucap Jokowi.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menyebutkan, polisi menduga pelaku yang menusuk Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto terpapar jaringan ISIS. Dugaan pelaku terpapar ideologi ISIS berdasarkan hasil mapping Polda Banten.

"(Diduga pelaku terpapar ISIS) dari hasil mapping yang dilakukan Polda Banten di daerah-daerah tingkat kerawanan paparan ISIS," kata Dedi di Mabes Polri, Kamis (10/10/2019).

Dedi mengatakan, setiap Polda sudah memiliki peta daerah-daerah mana saja yang rawan terpapar ISIS.

"Bisa dikatakan daerah (rawan) ring 1, 2, 3, rawan, kurang rawan, atau tidak rawan," ujar dia.

Dia mengatakan, polisi akan menunggu hasil pemeriksaan dari Polda Banten terlebih dahulu untuk informasi lebih lanjut.

Adapun pelaku diketahui merupakan perempuan berinisial FA, asal Brebes; dan laki-laki atas nama SA alias Abu Rara kelahiran Medan, tahun 1968.

Menurut Dedi, polisi mendalami keterlibatannya dengan jaringan terorisme Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Diduga pelaku terpapar radikal ISIS. Nanti akan didalami apakah pelaku terhubung dengan jaringan JAD Cirebon atau JAD Sumatera," kata dia.

Saat ini, kedua pelaku sudah diamankan dan diperiksa oleh Polres Pandeglang, Polda Bante, dan didukung Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Selain Wiranto, Dedi mengatakan bahwa Kapolsek Menes Kompol Daryanto juga ditusuk pelaku saat sedang diamankan.

"Pada saat kejadian tersebut juga ada kapolsek dan kapolda sendiri yang langsung mengamankan. Saat kapolsek mengamankan pelaku, kapolsek tertusuk di bagian belakang," kata Dedi, Kamis siang.

Wiranto dan Kapolsek Menes langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat.

Pasangan suami istri

Pelaku penyerangan Wiranto adalah pasangan suami istri, SA dan FA. Mereka tinggal di kontrakan milik Usep di Desa Kampung Sawah, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, sejak bulan Februari 2019.

SA adalah pria kelahiran Medan dan sang istri berinsial FA berasal dari Brebes.

Mulyadi, Ketua RT 004 RW 001, Kampung Sawah Gang Kenari, Desa Menes, Kecamatan Menes, Pandeglang, mengatakan pelaku penusukan Wiranto yang tinggal di wilayahnya mengaku bekerja di bisnis online.

"Bisnis online. Pernah bawa jualan pakaian anak-anak. Saya sebagai tetangga enggak punya curiga apa-apa," kata Mulyadi, Kamis (10/10/2019).

Ketua DPR RI, Puan Maharani meminta masyarakat tak berspekulasi terkait penyerangan Menko Polhukam Wiranto saat menghadiri acara di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019).

Puan mengatakan, masyarakat harus mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

"Periksa pelakunya, dalami apakah ia lone wolf, bergerak sendiri, atau terkait jaringan teroris," kata Puan dalam keterangan tertulis, Kamis (10/10/2019).

Puan juga mengatakan, pihaknya mengecam peristiwa penyerangan terhadap Wiranto. Penyerangan itu, kata dia, merupakan bentuk teror.

"Peristiwa itu merupakan bentuk teror. Setiap aksi teror, yang ditujukan kepada siapa pun, adalah sebuah kejahatan," ujar dia.

Ia menilai, aksi penyerangan terhadap Wiranto menunjukkan ancaman teroris nyata adanya. Puan menilai, kejadian yang menimpa Wiranto menunjukkan adanya kelompok yang mengedepankan aksi kekerasan di alam demokrasi.

Padahal, kata dia, dalam demokrasi, protes boleh disampaikan, tetapi tidak dengan membahayakan nyawa orang lain.

"Kita sudah sepakat bahwa demokrasi adalah cara untuk menyelesaikan segala persoalan bangsa. Protes boleh, tidak suka boleh, tapi kalau sudah membahayakan nyawa seseorang, nyawa siapa pun, itu adalah kejahatan," ujar dia.

Wiranto diserang orang tak dikenal pada Kamis (10/10/2019). Wiranto ditusuk saat berada di Banten.

Informasi yang dihimpun dari Kompas TV, penyerangan terhadap Wiranto terjadi setelah dia menghadiri acara di Universitas Mathla'ul Anwar di Kampung Cikaliung, Desa Sidanghayu, Pandeglang, Banten.

Wiranto hendak pulang ke Jakarta usai menghadiri peresmian Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla'ul Anwar.

Dia diserang saat berada di sekitar Alun-alun Menes, Pandeglang. Ketika itu, dia baru keluar dari mobil, kemudian diserang seseorang dari arah samping mobil.

Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak menyangka Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menjadi korban penikaman terduga teroris. Kalla menyebut, ini pertama kalinya ada pihak yang berani menciderai pejabat negara dengan cara menikam.

"Tentu tidak disangka. Karena ini pertama kali ada orang yang menciderai pejabat dengan tikaman," ujar Kalla usai membesuk Wiranto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Kalla mengatakan, pejabat negara setingkat menteri pasti telah disertai standar operasional dan prosedur (SOP) pengamanan.

Oleh sebab itu, SOP pengamanan bagi pejabat negara harus terus dijalankan, bahkan juga ditingkatkan.

"Sebenernya menteri sudah ada SOP-nya untuk bisa dapat pengawalan dari polisi. Ada SOP-nya," lanjut Kalla.

Diberitakan, Wiranto ditikam pada bagian perut di dekat pintu gerbang Lapangan Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Pelaku diketahui berjumlah dua orang yang merupakan pasangan suami istri. Pelaku laki-laki atas inisial SA alias Abu Rara.

Sementara sang istri berinisial FA. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Dedi Prasetyo menjelaskan, dua pelaku awalnya berpura-pura hendak menyalami Wiranto.

"Ya pelaku mencoba bersalaman, seperti warga bertemu pejabat," ujar Dedi saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Kamis siang.

Setelah berhasil mendekati Wiranto, pelaku laki-laki yang berinisial SA alias Abu Rara langsung mengeluarkan pisau kecil dan melayangkan tikaman ke perut Wiranto.

"Laki-laki membawa senjata tajam. Ini masih didalami, pisau atau gunting," ujar Dedi.

Setelah ditusuk, Wiranto pun jatuh, nyaris tersungkur. Dia terlihat memegang perut bagian bawah.

Polisi menyebut pelaku terpapar radikalisme ISIS dan tengah mendalami kaitannya dengan Jamaah Ansharut Daulah ( JAD).

Presiden Joko Widodo meminta Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memperbaiki prosedur pengamanan untuk pejabat negara.

Permintaan tersebut menyusul kasus penikaman Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019) siang.

"Saya perintahkan ke Kapolri untuk memberikan pengamanan yang lebih baik," ujar Presiden usai menjenguk Wiranto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis.

Jokowi juga menginstruksikan Kapolri, Panglima TNI, dan Kepala BIN untuk mengejar jaringan teroris dibalik penusukan Wiranto. "Yang paling penting, jaringan ini harus dikejar dan dituntaskan, diselesaikan," lanjut Presiden.

Diberitakan, Wiranto ditusuk saat mampir di Alun-alun Menes, Pandeglang setelah setelah meresmikan Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla'ul Anwar, Kamis siang.

Menurut polisi, Wiranto menderita luka di tubuh bagian depan. Polisi mengamankan dua pelaku yang terdiri dari satu perempuan dan satu laki-laki.

Keduanya berinisial SA alias Abu Rara dan FA. Polisi menyebut pelaku terpapar radikalisme ISIS dan tengah mendalami kaitannya dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Kepala Badan Intelijen Negara ( BIN) Budi Gunawan mengungkapkan bahwa penusuk Menteri Koordinator Bidang Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, merupakan anggota kelompok terorisme Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi.

"Dari dua pelaku ini kami sudah bisa mengindentifikasi bahwa pelaku adalah dari kelompok JAD Bekasi," ujar Budi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Ia menambahkan, pelaku yakni Abu Rara, dulunya anggota JAD dari Kediri, Jawa Timur. Ia kemudian pindah ke Bogor.

Setelah cerai dengan istrinya, Abu Rara pindah ke Menes, Pandeglang, Banten. "Karena cerai dengan istri pertama pindah ke Menes. Dan difasilitasi oleh salah satu Abu Syamsudin, dari Menes, untuk tinggal di sana (Menes)," ucap dia.

"Beberapa kegiatan yang bersangkutan memang sudah dideteksikan bahwa saat ini sedang dalam pengembangan untuk menangkapnya," kata dia.

Wiranto ditusuk saat berada di Alun-alun Menes, Pandeglang setelah setelah meresmikan Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla'ul Anwar, siang tadi.
(Kompas.com/Ardito Ramadhan)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "TNI Evaluasi Pengamanan Jokowi, Masihkah Boleh Rakyat Bersalaman?",

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved