Brerite Cerpen

Cerpen Sr. Herlina Hadia Meka, S.Sp.S: Suara Sang Gadis Desa

Matahari hampir meninggalkan ramainya sore di kampungku. Aku berada di tenda bambu di depan rumahku.

Cerpen Sr. Herlina Hadia Meka, S.Sp.S: Suara Sang Gadis Desa
Hipwe
Suara Gadis Desa 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - MATAHARI hampir meninggalkan ramainya sore di kampungku. Aku berada di tenda bambu di depan rumahku, menyaksikan anak-anak kecil menikmati indahnya udara sore.

Mereka seolah tak peduli bahwa hari hampir malam. Deretan pegunungan dan bukit yang mengelilingi kampungku seolah ikut berbahagia bersama mereka. Kenikmatan permainan sederhana mereka menjadi satu-satunya dunia yang mereka miliki saat ini.

Di tempat inilah aku dilahirkan, di tempat inilah aku dibesarkan, di tempat inilah pula aku menyebutkan kata pertama dari mulutku.

22 Penjabat Kades Persiapan di Manggarai Sudah Dilantik, Ini Permintaan Kadis PMD

Di tempat ini aku diajarkan untuk berjalan, di tempat ini aku diajarkan untuk berlari. Di tempat ini aku belajar betapa hidup kusangat bergantung pada Sang Pencipta, pada orang-orang di sekitarku, dan pada alam.

Usiaku sudah tak lagi muda. Aku gadis desa yang hanya mengenal jika itu pagi, ketika mendengar ayam berkokok. Gadis desa yang hanya mengenal jika itu malam,dengan melihat lampu dari bahan bakar minyak tanah, bernyala.

Orang-orang di kampungku menamainya lampu pelita. Aku gadis kampung yang hanya mendengar jika ada berita penting melalui seseorang yang langsung datang ke rumah kami dan bukan melalui telepon genggam. Aku hanyalah seorang gadis kampung yang dengar berani mengatakan kepada dunia bahwa betapa indahnya kampungku dan betapa bersahabatnya orang-orang yang mendiaminya.

Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa hidup itu sederhana jika kita tidak membuatnya berbelit-belit. Tidak memiliki telepon genggam bukan berarti kami miskin, sebab kami kaya akan sebuah relasi yang nyata bukan maya. Tidak memiliki penerangan yang bersumber pada tenaga listrik, bukan berarti kami miskin, sebab kami tahu menghargai dan memaknai apa artinya kekayaan dalam keheningan dan gelapnya malam.

Tamu Kita : Marianus Wilhelmus Lawe: Perlu Bangun STIP Negeri di NTT

Tidak memiliki sarana transportasi, bukan berarti kami miskin, sebab kami kaya dalam menyapa sesama sepanjang perjalanan kami.

Sampai satu waktu, seorang perempuan kota datang dan bercerita tentang apa artinya menjadi perempuan dalam budayaku.

Menurutnya, selama ini menjadi perempuan dalam budayaku adalah menjadi budak laki-laki, menjadi perempuan berarti menduduki posisi kedua yang suaranya kadang tidak diindahkan.

Halaman
123
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved