Breaking News:

Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 5 Oktober 2019, 'Melayani Dengan Berani Karena Bijak'

Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 5 Oktober 2019, 'Melayani Dengan Berani Karena Bijak'

Editor: Eflin Rote
dokumentasi pribadi
Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 5 Oktober 2019, 'Melayani Dengan Berani Karena Bijak' 

Melayani Dengan Berani Karena Bijak

1 Yohanes 4 : 18 – 19

Pdt. Yulian Widodo, STh

--

Rasa takut maupun berani ada dalam diri setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda.  Ada yang sangat berani dan ada yang sangat dikuasai oleh takut sehingga menjadi penakut. Karena itu ada berpendapat bahwa seberani-beraninya seseorang, ia tentu punya alasan yang tepat sehingga ia menjadi berani. Dan begitu juga terhadap rasa takut, setakut-takutnya orang, ia tentu akan menjadi berani jika menemukan alasan untuk tidak takut.  

Ada seorang pendeta yang merasa takut kalau mendengar berita atau berhadapan dengan peristiwa kematian. Namun setelah menjadi Pendeta dan ketika memakamkan orang mati menjadi salah satu tugas wajib seorang pendeta maka rasa takut itu dengan sendirinya hilang.. Karena  ada alasan untuk tidak takut.

Berani atau tidak seseorang semua bergantung pada alasan yang kita temukan terhadap kenyataan yang ada. Dengan kata lain, sikap berani itu bukan lahir secara membabi buta, tetapi harus ada dasar-dasarnya. Aristoteles mengatakan bahwa “Keberanian adalah salah satu kebajikan yang dibuahkan oleh Kebijakan”. ([Bajik=Sesuatu yang mendatangkan kebaikan;perbuatan baik][Bijak=Selalu menggunakan akal budinya]) Artinya, Aristoteles mau mengatakan bahwa sebuah kebaranian akan mendatangkan kebaikan jika lahir dari akal budi yang sehat. Ini penting sebab akhir-akhir ini banyak orang yang berani buat apa saja bahkan sampai rela bunuh diri tanpa berpikir segala konsekuensinya. Banyak tindakan anarkhis terjadi lahir dari keberanian yang luar biasa namun sayangnya bukan didasarkan pada kasih tapi lebih kepada kebencian, dendam dan kepentingan-kepentingan terselubung.

Keberanian-keberanian seperti ini harus di luruskan, dengan menggeser pikiran yang berani karena nekat, atau berani secara membabi buta dengan berani karena pertimbangan-pertimbangan yang rasional, hikmat dan memakai akal sehat dan bertujuan mulia. Ini persoalan kita. Bagaimana sehingga setiap orang  belajar untuk terus memperkaya hikmat untuk selalu memakai akal sehat dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.

Penulis surat 1 Yohanes 4 : 18 - 19  membagi hikmatnya bagi kita. Allah adalah Kasih yang  bercahaya dan menerangi kehidupan manusia termasuk setiap keputusan kita untuk berpikir dan bertindak. Kasih haruslah menjadi warna kehidupan, terlebih kita sebagai orang percaya kepada Yesus (ay. 18). Tanpa kasih maka setiap keputusan kita bisa mendatangkan kehancuran bagi kehidupan ini. Dasarnya jelas bahwa bagi kita orang Kristen ajaran mengasihi itu menerangi dan mewarnai kehidupan kita karena kita percaya bahwa Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita (ay. 19)

Keberanian adalah modal bagi setiap orang. Bahkan keberanian di katakana sebagai syarat bagi pribadi yang unggul dan berhasil. Apalagi bagi pribadi seorang pelayan. Keberanian mutlak diperlukan untuk mengemban sebuah tanggung jawab, keberanian diperlukan supaya tidak ragu bertindak dan mengambil keputusan. Keberanian diperlukan untuk merubah orang lain tetapi juga diri sendiri.

Keberanian inilah yang diperlukan oleh setiap pemimpin, siapapun kita.

Sebab setiap orang akan menghadapi rupa-rupa persoalan dalam hidup dan pekerjaannya. Karena itu, marilah kita ingat bahwa Allah selalu hadir dalam Kasihnya.

Di dalam Kasih Allah kita percaya bahwa Ia akan memberikan kita hikmat & pengertian sehingga kita berani untuk berbuat, berani untuk menanggung segala resiko, apapun itu, sebab kita percaya  bahwa Tuhan ada dan pasti selalu menolong dan menyertai kita. Amin

 (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved