Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 4/10/2019, 'Hikmat & Pengertian Lebih Penting Dari Kekayaan'

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 4/10/2019, 'Hikmat & Pengertian Lebih Penting Dari Kekayaan'

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 4/10/2019, 'Hikmat & Pengertian Lebih Penting Dari Kekayaan'
ist
Pdt Jehezkiel Pinat STh 

HIKMAT DAN PENGERTIAN LEBIH PENTING DARI KEKAYAAN

1 Raja-raja 3:1-15

Pdt. Jehezkiel Pinat, STh

--       

Sewaktu isteri saya masih bertugas di Rote, setiap bulan saya ke sana. Di tempat kos isteri saya, salah seorang teman kos mendapat kunjungan dari keluarganya. Di antaranya ada seorang nona cantik dan cerewet. Karena sudah beberapa hari, saya akrab dengannya. Ia selalu mencari saya di kamar. Isteri saya tersenyum lebar jika nona itu mulai mencari saya tanpa kenal waktu.  

Saya ceritakan kepada gadis itu banyak kisah menarik. Suatu malam saya katakan padanya: “Besok saya akan pulang.” Raut mukanya berubah sedih. Besok dari pagi ia di kamar kami saja. Gelisah menyaksikan saya menyimpan barang. Tiba-tiba ia berkata: “Boleh saya katakan sesuatu? Saya mau ikut ke Kupang.” Saya tersenyum dan berkata: “Tanya ibumu. Jika ia setuju, boleh saja.” Gadis itu berusia 4 atau 5 tahun. Kita pasti pernah mengajukan permintaan. Kecewa bila: “Nona, maukah engkau menikah dengan saya.” “Saya tidak mau nikah denganmu. Selama ini terpaksa karena kamu punya motor dan uang. Saya belum temukan yang lebih baik dan ganteng darimu.” Betapa hancurnya hati ini.  

Sebagai orang percaya tempat yang paling tepat untuk meminta adalah Tuhan. Itu biasa kita lakukan dalam doa kita. Doa nafas hidup orang percaya. Apakah berdoa menjadi kebiasaan kita setiap hari? Jika kita tidak lagi pernah  berdoa, maka kita sudah sama dengan makhluk hidup yang tidak lagi bernafas. Berdoa berarti membangun sebuah hubungan yang akrab dengan Tuhan. Menyampaikan seluruh isi hati kita kepada-Nya.

Sukacita, dukacita maupun permohonan kita. Di dalam rumah Tuhan harus ada moment pribadi kita dengan Tuhan.   Ketika membaca bagian firman Tuhan ini membuat saya mengkhayal menjadi Salomo. Tuhan mendatangi saya dan berkata: “Jehezkiel, mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Jika Tuhan memberikan kita kesempatan untuk meminta apa saja, kira-kira apa yang akan masing-masing kita minta? Saya yakin bahwa itu tidak pernah terjadi dalam hidup kita. Kalau pun ada yang alami itu, ia sungguh pribadi yang luar biasa. Mengapa? Kebanyakan dari kita sebelum berdoa dan Tuhan berikan kesempatan untuk meminta, tanpa doa saja kita sudah meminta terlalu banyak hal dan selalu saja tentang dan untuk kita.

Bagaimana caranya sehingga Tuhan bisa menawarkan Salomo hal demikian? Pertama, Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud ayahnya. Sesuai perkataan Yesus, menurut hukum kasih mengasihi Tuhan itu harus dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan ditambah mengasihi manusia seperti diri sendiri. Bagaimana caranya sehingga Salomo bisa hidup seperti Daud ayahnya dalam hal mengasihi Tuhan? Daud itu sekalipun dalam senang maupun susah pun ia selalu percaya Tuhan. Ketika lakukan kesalahan dan mendapat teguran, Daud mengakui dan menyampaikan pertobatannya dengan hati yang mendalam. Salomo adalah anak yang mendengarkan dan hidup menurut nasehat dan ajaran orangtuanya.

Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang dengar nasehat saja sudah sulit apalagi melakukannya. Orang tua bicara mereka selalu membantah. Wujud mengasihi Tuhan adalah hidup sesuai nasehat orangtua.   Hal kedua, Salomo mempersembahkan yang terbaik dari kepunyaannya bagi Tuhan dan ia tidak berhitung dengan Tuhan akan persembahannya. Pakai pola Habel. Beri Tuhan yang terbaik. Menyukakan hati Tuhan. Tidak tanggung-tanggung dengan penuh sukacita dan paksaan beri kepada Tuhan. Jangan seperti Kain. Asap mengelilingi  dan asap itu pedis di mata kita.  11 kM adalah jarak Yerusalem dan Gibeon.

Halaman
12
Editor: Eflin Rote
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved