SMAN 2 Lewoleba Kekurangan Buku Sastra

Guru SMAN 2 Lewoleba mengeluhkan kalau pihak sekolah masih kesulitan mendatangkan buku-buku sastra dan buku fiksi di perpustakaan sekolah dan pojok-po

SMAN 2 Lewoleba Kekurangan Buku Sastra
Foto/Ricko Wawo/
Guru Albertus Muda Atun bersama para siswa SMAN 2 Lewoleba sedang memanfaatkan pojok baca yang ada di kelas mereka, Jumat (4/10/2019) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO

POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA-Guru SMAN 2 Lewoleba mengeluhkan kalau pihak sekolah masih kesulitan mendatangkan buku-buku sastra dan buku fiksi di perpustakaan sekolah dan pojok-pojok baca kelas.

Guru SMAN 2 Lewoleba, Albertus Muda Atun, mengatakan animo anak-anak untuk membaca buku-buku seperti novel, antologi puisi, dan cerpen cukup tinggi tetapi sayang tidak didukung dengan ketersediaan buku di sekolah. Merasa gelisah dengan hal ini, Guru Agama Katolik dan Budi Pekerti ini pun mencari donasi buku sastra bagi anak didiknya di media sosial facebook.

Lalu kenapa harus buku sastra?
Menurut Albert dengan membaca buku sastra seperti puisi, novel dan cerita pendek imajinasi anak-anak bisa terbentuk.

"Kalau imajinasi mereka sudah berkembang dari situ mereka bisa lebih tertarik untuk membaca buku-buku yang lebih berat," ungkap guru yang masih berstatus honorer ini saat ditemui, Jumat (4/10/2019).

Ini Persiapan SMPN 1 Ruteng Jelang Kedatangan Ruben dan Betran

Dia akui ketersediaan buku masih sangat kurang di sekolahnya. Apalagi sejak tiga minggu yang lalu pihak perpustakaan sekolah sudah menghadirkan pojok baca di setiap kelas sekolah. Di pojok kelas ini dipajang buku-buku non pelajaran, majalah, tabloid dan koran. Tujuan pojok baca ini yaitu untuk meningkatkan minat baca para siswa. Kata dia, tantangannya sekarang adalah bagaimana menghadirkan buku buku sastra dan fiksi di pojok-pojok itu.

Perihal minat membaca peserta didik, menurut Albert hal itu sangat bergantung juga pada guru yang dengan caranya masing-masing bisa terus mendorong dan memotivasi para siswa untuk membaca buku.

"Ketika majalah-majalah itu dipajang kita sebagai guru memberi mereka ruang. Misalnya hari ini tiga jam pelajaran, jadi jam terakhir saya beri mereka kesempatan untuk membaca. Tidak semua harus pakai untuk untuk pelajaran," terang mantan guru yang pernah mengabdi di Papua ini.

Banyak guru saat ini yang hanya fokus pada materi pelajarannya saja, tetapi tidak bisa menginspirasi pada tataran imajinasi. Literasi memang harus dimulai dari guru.
Dampaknya bagi dia, jika anak tak cakap membaca maka anak itu bakal tak cakap dalam menulis dan berbahasa.

Dia mencontohkan seorang lulusan sarjana yang mau menjadi pegawai negeri sipil pun harus pandai berkomunikasi dan berbahasa yang dasarnya adalah membaca.
Albert pun menyesalkan SMAN 2 Lewoleba yang sempat berjaya dengan Tabloid Smandu Star tapi sekarang tabloid itu sudah mati suri dan enggan untuk hidup lagi.

Wakil Kepala SMAN 2 Lewoleba Bidang Kurikulum, Pankrasius N Genere dikonfirmasi terpisah menuturkan kalau buku-buku pelajaran memang cenderung sudah lengkap meskipun tidak semua memilikinya. Dia juga mengakui kalau buku sastra di sekolahnya masih sanga terbatas. Keterbatasan buku ini menurut dia bukan karena sekolah tidak membuat pengadaan. Tetapi kendalanya ada pada agen yang kesulitan mendapatkan buku-buku tersebut.

"Kita kan pesan paketan, tapi masih ada yang kurang. Sementara diupayakan supaya jangan terlalu lama."
Disebutkannya kalau buku-buku bisa dipesan pada awal tahun pelajaran.

Perihal pojok baca di setiap kelas, Pankrasius berpendapat bahwa pojok itu bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak-anak yang mulai menurun karena pengaruh gadget. Dia berharap pojok baca itu bisa dimanfaatkan betul oleh guru dan para siswa.

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved