Breaking News:

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 22 September 2019, 'Homo Homini Socius'

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 22 September 2019, 'Homo Homini Socius'

Editor: Eflin Rote
istimewa
Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh MA 

Bukan hanya itu mereka bersekongkol dengan “bangsa asing” untuk menyengsarakan rakyatnya sendiri. 1 “"Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin, yang mengatakan kepada tuan-tuanmu: bawalah ke mari, supaya kita minum-minum! Amos 4:1).

Bahkan para pejabat pemerintah dan para penegak hukum yang seharusnya menegakkan keadilan justru melakukan kejahatan. “7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! 11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya.

12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang” (Amos 5:7, 11, 12).

Bahkan nilai agama pun dapat diabaikan hanya demi keuntungan ekonomi dan kentungan diri sendiri dari hasil pemerasan dan tipu-tipu rakyatnya. Agama seakan dipandang hanyalah untuk membuang-buang waktu. Kegiatan Hari Sabat dan perayaan-perayaan agama lainnya dianggap tidaklah bermanfaat, karena itu mereka merasa kehilangan kesempatan untuk meraih harta sebanyak- banyaknya. “5 dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, 6 supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?"

Semua kejahatan ini tidak akan dibiarkan untuk berlangsung terus . Tuhan akan bertindak dan memberikan penghakiman dan penghukuman-Nya pada hari Tuhan (Amos 5:18-22). Jalan satu-satunya agar malapetaka itu tidak terjadi mereka haruslah bertobat.
Ungapkan-ungapan seperti gempa (bumi yang gemetar), sungai Nil, Mesir dalam Amos 8:7-8) mengingatkan Israel bahwa para penindas selalu akan dihukum Allah. Nabi Amos mengingatkan bahwa ketika Israel ditindas oleh Mesir, Allah bertindak dan menghukum Mesir dengan tulah-tulah yang merusak dan mematikan orang-orang Mesir. Maka sekarang ketika Orang Israel menjadi penindas bangsanya sendiri akan berhadapan dengan Allah yang sama. Ketika Tuhan Allah melawan dan menghukum bangsa Mesir dengan rupa-rupa tulah demi membela Israel yang tertindas, maka sekarang Allah yang sama akan menghukum Israel yang juga telah menjadi penindas bagi rakyatnya sendiri.

“7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka! 8 Tidakkah akan gemetar bumi karena hal itu, sehingga setiap penduduknya berkabung? Tidakkah itu seluruhnya akan naik seperti sungai Nil, diombang-ambingkan dan surut seperti sungai Mesir?"

Hal-hal apakah saja yang bisa tarik maknanya dari renungan ini? Mungkin banyak yang bisa ditarik untuk direnungan. Namun yang pasti adalah bahwa Allah selalu tidak akan pernah berkompromi dengan para penindas, penipu dan para pelaku kejahatan.
Israel yang semula menjadi bangsa kuli dan ditindas Mesir oleh kekuasan dan kemahakuasaan Allah mereka dibebaskan dan membuat mereka menjadi bangsa yang mandiri.

Namun sayangnya para pemimpin Israel lupa diri dan bermetamorfosa menjadi para penindas. Di saat itulah mereka akan berhadapan dengan Allah yang sama: Allah Pembebas dan Hakim Adil.

Ancaman hukuman dan penghukuman kepada para pemimpin Israel dapat menjadi peringatan bagi kita, bahwa Allah tidak pernah berkompromi dengan kejahatan. Allah yang semula begitu peduli pada Israel karena teriakan minta tolong mereka sewaktu ditindas di Mesir, tetapi Allah justru menjadi lawan mereka sendiri ketika mereka berbalik menjadi penindas sesamanya sendiri.

Jadi ketika kita menjadi serigala bagi sesama kita (homo homini lupus) kita menjadi musuh Allah. Tetapi ketika menjadi sahabat bagi sesama (Homo Homini Socius) maka kita menjadi sahabat Allah.

(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved