Pegawai Yapertif - Ende Kenakan Sarung Adat Saat Kerja

Dosen dan Pegawai Yayasan Perguruan Tinggi (Yapaertif) Universitas Flores (Unflor) Ende diwajibkan mengenakan sarung adat setiap hari kerja pada Selas

Pegawai Yapertif - Ende Kenakan Sarung Adat Saat Kerja
POS KUPANG/ROMUALDUS PIUS
SARUNG ADAT/Ketua Umum Yapertif, Dr Laurentius Gadi Djou, Akt, Mengenakan Sarung Adat. Area lampiran 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM,ENDE---Dosen dan Pegawai Yayasan Perguruan Tinggi (Yapaertif) Universitas Flores (Unflor) Ende diwajibkan mengenakan sarung adat setiap hari kerja pada Selasa dan Kamis. Dengan ketentuan pada Hari Selasa

untuk atasan mengenakan baju putih atau blus serta bawah mengenakan sarung adat Ende-Lio berupa ragi atau lawo sedangkan pada Hari Kamis atasan baju bebas dan bawah sarung adat etnis Nusantara.
Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Flores, Dr Laurentius Gadi Djou. Akt mengatakan hal itu kepada Pos Kupang.Com, Minggu (23/9/2019) di Ende.

Dikatakan penggunaan sarung adat di Lingkup Kerja Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Universitas Flores menindaklanjuti surat edaran dari Gubernur NTT, Victor Laiskodat tentang penggunaan pakain sarung tenun ikat motif daerah.

Karantina Pertanian Ende Sertifkasi Sarang Walet Senilai Rp 1 Miliar, Ini Tujuannya

Serpihan Pesawat Hilang Kontak Sejak Rabu (18/9) Ditemukan, Ini Dugaan Temuan Lapangan

Selain itu juga edaran dari Rektor Universitas Flores, Dr Simon Sira Padji, MA tentang penyampaian pemakain pakain kerja di Lingkup Universitas Flores, Ende.

Dikatakan menyikapi edaran itu maka sejak, Selasa (24/9/2019) seluruh dosen dan karyawan di Lingkup Yayasan Perguruan Tinggi Flores dan Universitas Flores wajib mengenakan sarung adat.

Menurut Laurentius penggunaan sarung adat baik oleh dosen dan karyawan di Lingkup Yayasan Perguruan Tinggi Flores maupun Universitas Flores adalah hal yang positif karena dengan demikian baik para dosen dan juga karyawan akan semakin mengenal dan mencintai budaya daerah maupun nusantara.

“Untuk sementara dikhususkan bagi para dosen dan karyawan dulu sedangkan mahasiswa nanti akan dilihat perkembangan selanjutnya,”kata Laurentius.

Laurentius mengatakan penggunaan sarung adat sebenarnya adalah hal yang biasa namun terasa janggal karena memang belum terbiasa.

“Kita lihat di desa banyak ibu-ibu yang mengenakan sarung adat ketika mereka hendak bekerja maupun ke pasar sambil memikul barang belanjaan di atas kepala. Tidak menjadi masalah karena memang mereka sudah terbiasa,”kata Laurentius.

Dengan demikian maka para karyawan dan dosen juga akan menjadi terbiasa apabila mereka sering mengenakan sarung adat pada saat bekerja,ujar Laurentius.

Laurentius mengatakan bahwa yang dikenakan oleh para dosen dan karyawan di lingkup Yayasan Perguruan Tinggi Flores adalah sarung adat yang merupakan aksesoris busana adat bukan busana adat secara keseluruhan.

Menurutnya kalau busana adat akan meliputi mulai dari atas kepala juga baju dan kain serta aksoris lainnya yang semuanya bernuansa adat namun yang dikenakan oleh para dosen dan pegawai Yayayasan Perguruan Tinggi Flores hanyalah kain atau sarung adat.

Laurentius mengatakan bahwa penggunaan sarung tenun ikat di Lingkup Yayasan Perguruan Tinggi Flores memberikan nilai positif karena sebagai upaya untuk melestarikan nilai budaya juga sebagai ajang promosi pariwisata maupun pengembangan ekonomi masyarakat.

“Tentu dengan semakin banyak orang mengenakan sarung adat juga berdampak langsung kepada para pengerajin tenun ikat karena akan banyak permintaan untuk membeli kain sarung adat,”kata Laurentius. (*)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved