Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang'

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang'

dokumentasi pribadi
Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang' 

Penatua itu, memandang Tuhan, iman dan gereja dari perspektif akan peran tungkuyang sangat penting dalam menolong mereka mengolah bahan makanan atau memanaskan apapun dalam kehidupan sehari-hari.

Bara yang tetap ada di dalam tungku, akan tetap terbakar bersama bara yang lainnya dan akan terus menyala yang disebut bara. Orang kristen kalau tetap ada dalam gereja imannya akan terus terbakar dan akan terus bertumbuh bersama orang kristen yang lainnya. Anggota jemaat tidak bisa keluar dari gereja kalau mau tetap menyala, sebab jika keluar dari gereja imannya akan mati sama seperti bara yang kalau keluar dari tungku akan tetap ada tetapi menjadi arang yang mati. Iman ibarat api yang harus dibiarkan menyala sehingga iman dan hidup orang kristen berkenan kepada Tuhan.

Ungkapan perumpamaan ini merupakan teologi kaum awam dan merupakan refleksi iman dari kaum awam berdasarkan simbol-simbol yang dialami setiap hari dalam kehidupannya. Persoalan mendasar keaktifan jemaat dalam partisipasi pelayanan adalah kesadaran akan dirinya sebagai orang kristen yang harus senantiasa hidup dalam persekutuan baik bersama Tuhan maupun bersama sesama umat beriman lainnya

Gereja berasal dari kata Portugis igreya, yang diterjemahkan dari kata Yunani kyriake, yang berarti milik Tuhan yaitu orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruslamatnya. Istilah igreya, menunjuk pada persekutuan lembaga yang digunakan pada zaman para rasul, sedangkan persekutun yang menunjuk pada orang sudah digunakan di dalam Alkitab Perjanjian Baru dengna istilah yang dikenal ialah ekklsia yang berarti rapat atau kumpulan yang terdiri dari orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul, mereka berkumpul karena dipanggil atau dikumpul.

 Gereja dalam pengertian biblis (ecclesia) bukan suatu institusi tetapi adalah suatu persekutuan persaudaraan sejati dari pribadi-pribadi karena itu Dietrich Bonhoeffer mengembangkannya dengan mengatakan persekutuan tersebut dibangun dengan cinta purna lupa diri. Relasi tersebut bukan relasi aku-engkau yang menuntut tetapi relasi kasih yang memberi. Hal senada juga diungkapkan oleh Arnold Rademacher bahwa gereja adala suatu persekutuan yang bagian luarnya adalah masyarakat yang menjadi manifestasi lahiriah dari gereja. Persekutuan itu adalah persekutuan orang kudus yang sama dengan kerajaan Allah. Adam Mohler dalam melawan kekeringan model gereja yang institusional mengambarkan bahwa gereja sebagai persekutuan adalah persekutuan organis adikodrati yang dihidupkan Roh Kudus, yang ditopang oleh Rahmat Ilahi.

Istilah koinonia berasal dari bahasa Yunani, yang artinya persekutuan. Istilah ini menunjuk pada kemauan untuk memberi bagian dalam persekutuan. Kata ini juga mengandung arti “kemurahan hati”. Artinya,kata ini muncul dengan arti “bersama-sama mendapat” atau “persekutuan”. Yakni  muncul dari bersama-sama mendapat bagian atas sesuatu). (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini). Dengan kata lain istilah koinonia mengandung tiga arti sekaligus, yaitu:

Kata Koinonia dalam pengertian pertama, “mendapat bagian” dapat di baca dalamI Kor. 9:23; (segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya); Rom. 11:17. kata koinonia dalam pengertian kedua, “memberi bagian” II Kor. 9:13;(dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengajaran akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang); Kis. 2:42, kemurahan hati dalam membagi segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang. Kata koinonia dalam pengertian ketiga “bersama-sama mendapat bagian”, dapat dibaca dalam Kis. 2:42; Gal. 2:9 dan Yoh. 1:3.

Uraian di atas menunjukkan bahwa, pelayanan gereja yang utama yakni pelayanan Koinonia yang dalam prakteknya pelayan membangun persekutuan yang mencerminkan hubungan antara satu gereja dengan anggota gereja yang lain. Dalam pelayanan tersebut masing-masing anggota gereja “mendapat bagian” sebagai hak untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan sebagai kepala gereja; masing-masing anggota gereja jemaat“memberi sesuatu” dalam perbuatan praktis bagi sesama; masing-masing anggota jemaat secara bersama-sama mendapat bagian dalam persekutuan. Oleh sebab itu, koinonia berhubungan dengan semua wujud pelayanan GMIT untuk

Membangun hubungan persaudaraan dan kemitraan sebagai bukti kehidupan baru berdasarkan kasih Kristus maka kebeneran Alkitab yang menjadi landasan dari pelayanan ini antara lain: Kisah Para Rasul 2:42 : ”mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”. Kisah Para Rasul 4:32: “ada pun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri,tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama”.

Penggunaan kata koinonia dalam Perjanjian Baru Yunani ditemukan juga dalam Kisah 2:42-47, dimana kita membaca deskripsi ini, nampak dari kehidupan bersama oleh orang-orang Kristen awal di Yerusalem: "Mereka mengabdikan diri untuk mengajar para rasul dan persekutuan, untuk memecahkan roti dan doa ... Semua orang percaya bersama-sama dan memiliki segala sesuatu menjadi umum. Menjual harta mereka dan barang-barang, mereka memberikan kepada siapa pun karena dia perlu ... Mereka memecahkan roti di rumah mereka dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, memuji Allah dan menikmati disukai semua orang. 

Halaman
123
Editor: Eflin Rote
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved