Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang'

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang'

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang'
dokumentasi pribadi
Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019, 'Gereja Ibarat Tungku, Api dan Arang' 

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 16 September 2019

GEREJA IBARAT TUNGKU, API DAN ARANG

Oleh Mesak Pinis, STh

--

Kemajuan teknologi dan informasi telah membius manusia. Handphone, komputer dan televisi telah menjadi konsumsi setiap orang namun telah mewariskan budaya instan. Sadar atau tidak, hal ini menyebabkan manusia mulai merasa aman tingggal dalam dunia individualisme, egosentrisme dan materialisme. Lebih ironis lagi, produk dari kemajuan telah mengusik kemapanan nilai-nilai moral, religius dan sosial yang telah mengakar dalam diri manusia.

Nilai persekutuan antara anggota jemaat seolah terkuburkan dalam-dalam. Pertanyaannya muncul, apakah kesadaran akan nilai-nilai moral, religius yang tertanam kuat telah mati?,apakah manusia telah lupa akan dirinya yang selalu berjalan beriring dengan orang lain?,apakah kemajuan harus dipersalahkan? Pertanyaan ini menyentak serentak membangunkan kesadaran setiap anggota jemaat dan eksistensinya.

Gagasan tentang kesadaran jemaat untuk menjawab kebutuhan persekutuan (koinonia) merupakan salah satu panggilan gereja, yang juga telah ikut digumuli oleh kaum awam melalui cara pandangnya sebagai bentuk berteologi jemaat.

Penatua Perkorus  Natundalam ibadat kategorian kaum bapakdi jemaat GMIT Teunmes Oekaka pada pertengahan bulan Mei yang lalu, berkhotbah berdasarkan bacaan Firman Tuhan Kisah Para Rasul 2:42-47 dengan tema “ Tungku, api dan Arang”.  Ia mengatakan  Gereja ibarat tungku, iman ibarat api dan Orang Kristen ibarat bara dan arang. Sebuah refleksi yang lahir dari kehidupan dirinya sebagai penatua yang mewakili kehidupan iman jemaat secara umum. Bagi sang penatua “tungku, api dan arang adalah metafora tentang gereja, iman dan jemaat.  Keimanan jemaat tak dapat dilepaskan dari gereja. Iman berhubungan dengan Allah, sedangkan gereja ada karena ada anggota jemaat yang bersekutu.

Gereja sebagai persekutuan anggota jemaat diibaratkan sang penatua dengan tungku yang darinya iman jemaat  dapat bertumbuh. Iman diibaratkan sang penatua dengan api. Api dapat menyala untuk memasak jagung, nasi, sayur atau lauk karena adanya susunan kayu. Api yang menyala dapat menghasilkan  bara, dan bara yang keluar dari tungku disebut arang yang mati/tidan menyala, karena itu tidak dapat menampakan manfaatnya dalam proses memasak.

Penatua ini mengibaratkan orang kristen sebagai bara dan arang. Orang kristen yang  setia dalam persekutuan diibaratkan seperti bara yang selalu menyala karena adanya bara yang lain dan menyala sampai habis yakni  menjadi abu.  Orang kriten yang tidak setia dalam setiap persekutuan ibadat diibaratkan seperti bara yang mati karena keluar dari persekutuan dengan bara yang lain.

Halaman
123
Editor: Eflin Rote
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved