Kelompok Musik 'Geleda Wato Nerin' Ngamen di Kapal Larantuka-Waiwerang Adonara

Sebuah kelompok musik 'Geleda Wato Nerin' ngamen di kapal Larantuka-Waiwerang Adonara

Kelompok Musik 'Geleda Wato Nerin' Ngamen di Kapal Larantuka-Waiwerang Adonara
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Kelompok musik kampung dari sanggar Geleda Wato Nerin 'ngamen' di atas Kapal Motor Sinar Mutiara III dari Larantuka menuju Waiwerang, Adonara, Sabtu (14/9/2019). 

Sebuah kelompok musik 'Geleda Wato Nerin' ngamen di kapal Larantuka-Waiwerang Adonara

POS-KUPANG.COM | LARANTUKA - Kelompok musik kampung dari sanggar Geleda Wato Nerin 'ngamen' di atas Kapal Motor Sinar Mutiara III dari Larantuka menuju Waiwerang, Adonara, Sabtu (14/9/2019).

Kelompok musik dari Desa Balaweling 1, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur ini menghibur rombongan Pemkab Flotim dari Larantuka yang akan mengikuti Festival Lamaholot di Kampung Kiwangona, Kecamatan Adonara Timur.

Seorang Pelajar Tengah Hamil Lima Bulan, Diperkosa 4 Buruh karena Ketahuan Lakukan Ini

Selain memainkan lagu-lagu Lamaholot dengan alat musik tradisional karkas, string bas, gitar, juk, latour, gendang, dan viola, uniknya anggota grup musik kampung ini terdiri dari bapak-bapak berusia 48-77 tahun.

Mereka mengenakan sarung tenun, baju batik, selendang dan 'knobo' atau semacam hiasan di kepala dari daun pohon koli.

Pendiri sanggar, Fransiskus Hayo Ama Niron menuturkan kelompok ini ia dirikan sejak tahun 1978 dan masih eksis sampai sekarang. Sebelum tragedi Bom Bali satu dekade lalu, kelompok ini sering menghibur para wisatawan di dalam kapal pesiar yang buang sauh di Pulau Solor.

LKP Surya Perdana Siapkan SDM NTT Hadapi Era Industri Teknologi

Menurut Frans, sanggar ini didirikan untuk melestarikan budaya tradisi Lamaholot. Jadi bukan hanya musik, ada juga tarian, tenun dan tandak. Di Solor, Frans dan kelompok sanggarnya ini giat melatih musik tradisional dan budaya bagi generasi muda.

Frans dan kawan-kawan sudah sering tampil di Solor dan Larantuka dalam berbagai acara budaya dan hiburan. Akhir bulan ini, Frans dkk juga akan tampil di Kota Kupang dalam salah satu pertunjukan dan pesta nikah di sana. "Kalau di Adonara ini baru pertama kali," katanya.

Sebagai sebuah kelompok seni, sanggar Geleda Wato Nerin tidak berorientasi mencari uang. Sanggar ini didirikan semata-mata untuk mewariskan musik dan budaya Lamaholot.

"Kami tidak cari makan dari sanggar ini.  Bukan untuk cari uang tapi untuk wariskan budaya Lamaholot," tegas bapak berusia 72 tahun ini.

Salah satu anggota sanggar, Dominikus Keban Sogen yang sudah berusia 77 tahun mengakui meski sudah berusia uzur, semangat dan jiwa mereka masih menggebu-gebu bermain musik. Bagi dia, melestarikan musik dan budaya Lamaholot adalah tugas dan tanggungjawab mereka juga.

Secara harafiah, kata Dominikus, Geleda Wato Neren adalah nama batu yang ada di puncak bukit di Desa Balaweling 1 yang tak goyah sedikitpun pada saat gempa bumi dan bencana melanda.

"Batu ini juga jadi filosofi kami. Kelompok lain tidak bisa saingi kami. Selama batu itu tidak goyang, orang lain juga tidak bisa saingi kami," katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved