Krisis Budaya, Pemerintah Diminta Bentuk Kementerian Khusus Tangani Kebudayaan

Pagelaran festival ini banyak diikuti oleh kalangan warga berusia lanjut. Sedangkan generasi muda masih menjadi penonton.

Krisis Budaya, Pemerintah Diminta Bentuk Kementerian Khusus Tangani Kebudayaan
Keterangan Foto/Ricko Wawo
/Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, ketika membuka acara bertema “Sarasehan Budaya Memperkuat Ekosistem Kebudayaan Lamaholot sebagai Fondasi pemajuan Kebudayaan Di Masa Mendatang” di Aula Weri, Kota Larantuka, Jumat (13/9/2019) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM-LARANTUKA-Perhelatan Festival Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur memasuki hari ketiga, Jumat (13/9/2019).

Pagelaran festival ini banyak diikuti oleh kalangan warga berusia lanjut. Sedangkan generasi muda masih menjadi penonton.

Kondisi ini memunculkan kesimpulan, budaya Lamaholot lenyap dari generasi muda. Sarasehan sehari yang digelar panitia Festival Lamaholot, di Aula Weri diharapkan memunculkan rekomendasi bagaimana cara menggali nilai-nilai Lamaholot yang punah karena menggali kembali kebudayaan sama dengan menggali kembali jati diri.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, ketika membuka acara bertema “Sarasehan Budaya Memperkuat Ekosistem Kebudayaan Lamaholot sebagai Fondasi pemajuan Kebudayaan Di Masa Mendatang”.

Sarasehan tersebut menghadirkan pemateri Dr. Restu Gunawan, Dirjen Kesenian, Kementerian Pendidikan RI, Wicaksana Adi, pendiri sekaligus curator Borobudur Writers dan Cultural Festival yang setiap tahun diselenggarakan di Borobudur, Jawa Tengah, serta Bernadus Boli Ujan, Imam misionaris Serikat Sabda Allah selaku narasumber lokal.

BREAKINGNEWS- Diduga Terkait Kejahatan Skimming, Uang Nasabah BNI 46 Kupang Dikuras Oknum

Wakil Bupati Flotim, Agustinus Payong Boli mencontohkan, kepunahan budaya Lamaholot adalah hilangnya struktur dan pranata sosial adat.

“Dulu, sebelum orang selalu berpijak pada hukum, orang di kampung-kampung selalu berpijak pada pranata sosial tradisional ketika menyelesaikan suatu masalah di kampung. Sekarang kalau ada masalah orang lebih memilih untuk melapor kepada polisi, lapor kepada jaksa. Kalau budaya Lamaholot masih dipertahankan, maka setiap persoalan akan masuk kepada pranata adat yang sudah ada, diselesaikan secara adat, kemudian kehidupan berlangsung secara normal dan damai lagi,” ujar Wabup Agus Boli.

Menurutnya hakekat hidup aman, nyaman, penuh kedamaian semuanya ada dalam budaya Lamaholot. Dia menyayangkan lenyapnya budaya Lamaholot di kalangan generasi muda yang menurut dia perlunada penanganan khusus.

Sementara itu, Dr. Restu Gunawan, Dirjen Kesenian, Kementerian Pendidikan RI, Wicaksana Adi, mengatakan, ada gejala fragmentasi yang belakangan ini terjadi di Indonesia. Menurutnya, gejala fragmentasi itu terjadi ketika pemerintah dan masyarakat tidak tahu apa yang mau dikerjakan atau dibereskan.

Halaman
12
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved