Ini Loh Hasil Penelitian Karantina Pertanian Ende

Data tersebut penting bagi perguruan tinggi dan dinas pertanian setempat untuk langkah yang tepat pengendaliannya

Penulis: Romualdus Pius | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/ISTIMEWA
Karantina Pertanian Ende Memaparkan Hasil Penelitian 

Karantina Pertanian Ende Paparkan Hasil Penelitian

POS-KUPANG.COM|ENDE-- Karantina Pertanian Ende bersama institusi perguruan tinggi dan instansi terkait memaparkan data hasil penelitian dan temuan pada pemantauan (surveilans) daerah sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK),Selasa (10/9/2019).

Demikian informasi yang diterima Pos Kupang.Com dari, Usep Usman Nasrullah Dari Karantina Pertanian Ende, Jumat (13/9/2019) di Ende.

Data tersebut penting bagi perguruan tinggi dan dinas pertanian setempat untuk langkah yang tepat pengendaliannya

Pada pelaksanaan pemaparan itu dosen Fakultas Pertanian Universitas Flores (Unflor) Yustina Pu'u yang melakukan penelitian di Daerah Nuabosi,Kecamatan Ende, Kabupaten Ende mengatakan bahwa berdaskan penelitian mereka ditemukan kutu putih (Phenacoccus manihoti) pada tanaman singkong.

"Hasil penelitian kami (Universitas Flores) bersama IPB pada tanaman singkong ditemukan kutu putih (Phenacoccus manihoti). Salah satunya di Daerah Naubosi sebagai penghasil singkong di Kabupaten Ende,”katanya.

Namun, petani di Ende belum seluruhnya bisa membedakan hama dan penyakit. Petani menganggapnya yang menyebabkan kerusakan pada tanamannya adalah hama," ujar dosen Fakultas Pertanian Universitas Flores (Unflor) Yustina Pu'u saat pemaparan pada Seminar Lokal Hasil Pemantauan Daerah Sebar OPT/OPTK di wilayah Karantina Pertanian Ende, Selasa (10/9/2019).

Akibatnya ujar Yustina menjelaskan, petani salah menggunakan pestisida untuk pengendaliannya. Sehingga pengendaliannya tidak tepat sasaran.

Kekhawatiran juga timbul karena residu dari pestisida yang digunakan dapat merusak lingkungan, membunuh musuh alami, merugikan kesehatan manusia dan membuat hama kebal terhadap pestisida.

"Saya harap Karantina terus melakukan pengawasan yang sudah berjalan ini. Petani masih ada yang ragu dengan benih tanaman apakah sehat dan bebas dari penyakit atau tidak. Seperti virus gemini yang dapat menyerang tanaman cabai, perlu untuk dicegah penyebarannya," tuturnya.

Kepala Karantina Pertanian Ende Yulius Umbu Hunggar berharap dengan data daerah sebar OPT/OPTK ini menjadi dasar penentu kebijakan bagi pemerintah daerah di wilayah Flores.

"Tugas karantina mencegah masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di pintu pemasukan dan pengeluaran. Peran instansi lain seperti perguruan tinggi dan dinas pertanian penting dalam penentuan langkah untuk pengendalian OPT/OPTK yang sudah ada di wilayahnya," ujar Yulius.

Turut hadir narsumber dan pembahas dari Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Kristian, dan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Fransiskus Xaverius Jano.

Dimana masing-masing memaparkan temuan OPT di wilayahnya.

Lidah Pemain Tertelan, Lihat Kepanikan Babel FC Usai Kapten Benturan dengan Pemain Bandung United

70 Persen Pelanggaran Saat Operasi Patuh Turangga Karena Helm

Dikatakan Karantina Pertanian Ende melaksanakan pemantauan selama kurun waktu Maret-Juni 2019 di enam kabupaten di Pulau Flores,ujar Usep.(Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved