Politani Kupang Rintis Penangkaran Kacang Merah dan Kedelai Melalui PPUPIK

Pada tahun 2018 benih kacang merah yang dihasilkan 20 kg saja karena keterbatasan benih sumber, tetapi tahun ini mencapai 75 kg.

Politani Kupang Rintis Penangkaran Kacang Merah dan Kedelai Melalui PPUPIK
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Yosefina Lewar SPMP Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pertanian Negeri kupang panen kacang merah di kebun Baumata, Kabupaten Kupang. 

Ia menjelaskan, kedelai juga merupakan komoditas penting sebagai sumber protein, bahan baku berbagai industri pangan dan bahan pakan ternak.

Beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan kedelai di dalam negeri adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gizi dan protein, makin mahalnya harga lauk pauk yang berasal dari hewani, meluasnya penggunaan dan ekspor kecap, serta beralihnya industri pengolahan kedelai dari industri rumah tangga menjadi industri sedang hingga besar.

Ia menegaskan, peningkatan produktivitas kedelai sangat dibutuhkan. Pengembangan kedua komoditas tersebut, menurut dia, tentunya membutuhkan benih yang tepat mutu, jumlah, tempat, waktu, dan harga.

Dengan bergulirnya program usaha peningkatan produksi setiap komoditas, maka kebutuhan potensial benih bermutu cukup besar.

Kebutuhan benih bina kacang merah dan kedelai di NTT cukup tinggi. Produksi benih yang tepat jumlah dan tepat mutu akan membantu dalam pengembangan tanaman kacang merah dan kedelai terutama di dataran rendah lahan kering beriklim kering.

Ia menjelaskan kegiatan PPUPIK ini melibatkan mahasiswa dan alumni Politani Kupang. Tim pelaksana juga mengatakan bahwa dalam memproduksi benih tersebut mereka bekerjasama dengan pemulia tanaman dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi NTT bapak Evert Hosang, PhD dan pengawas benih dari UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Benih NTT.

Kedua instansi ini dilibatkan untuk melakukan pengawasan lapangan dalam kegitan penangkaran benih tersebut.

Selain memproduksi benih kacang merah dan kedelai, kegiatan PPUPIK juga memproduksi produk tambahan lainnya yakni bawang merah lokal sabu, melon, dan jagung pulut manis.

Ia mengatakan adanya produk tambahan ini sebagai bentuk rotasi tanaman famili leguminosa (kacang-kacangan) dengan famili non legum.

Hal ini dilakukan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit. Limbah dari tanaman tersebut kemudian diolah menjadi pupuk organik (kompos).

Begini Alasannya Area Taman Kota Lewoleba Akan Jadi Pusat Kuliner

BREAKING NEWS : Warga Temukan Mayat Bayi di Terbungkus Karung di Kelurahan Oebobo

"Jadi bagi masyarakat di Kota dan Kabupaten Kupang sekitarnya apabila membutuhkan kedua jenis benih tersebut serta produk tambahannya maka dapat menghubungi Politani Negeri Kupang khususnya di tim pelaksana PPUPIK Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura," ungkapnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved