Satu Nelayan Selayar Ditangkap Polair Polda NTT

Seorang nelayan asal Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan ditangkap tim Subditgakum Ditpolairud Polda NTT.

Satu Nelayan Selayar Ditangkap Polair Polda NTT
POS KUPANG/RYAN NONG
Kasi Sidik Ditpolairud POLDA NTT, AKP Andi Rahmat SIK didampingi oleh Paur III Subbid Penmas Bidhumas Polda NTT Ipda Viktor Nanotek saat memberi keterangan pers kepada wartawan di Markas Polairud Polda NTT Kupang pada Kamis (5/9/2019).

 Satu Nelayan Selayar Ditangkap Polair Polda NTT

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Seorang nelayan asal Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan ditangkap tim Subditgakum Ditpolairud Polda NTT

Nelayan berinisial SY itu ditangkap saat memasuki halaman Kantor BRI Unit Pahlawan di Jalan Anggrek Kecamatan Alok Kabupaten Sikka pada Sabtu 31 Agustus 2019 sekitar pukul 09.00 Wita. 

Penangkapan tersebut dilakukan menindaklanjuti informasi dari masyarakat yang menyebut bahwa SY memiliki dan menjual batang detonator sebagai bahan pembuat bom ikan kepada masyarakat di wilayah pesisir utara Sikka. 

Kasi Sidik Ditpolairud POLDA NTT, AKP Andi Rahmat SIK yang didampingi oleh Paur III Subbid Penmas Bidhumas Polda NTT Ipda Viktor Nanotek kepada wartawan pada Kamis (5/9/2019) menyampaikan bahwa usai penangkapan, SY langsung diamankan ke Ditpolairud Polda NTT di Kupang dan dijadikan tersangka berdasarkan laporan polisi nomor LP/10/VIII/2019/Ditpolairud. 

AKP Andi Rahmat menjelaskan, dalam penangkapan tersebut, pihak Polairud Polda NTT mengamankan barang bukti dari tangan tersangka berupa 200 batang detonator, satu unit HP serta uang sejumlah Rp 1 juta. 

Tersangka SY, lanjut Andi, mengaku mendapatkan fetinator tersebut dari tangan D yang berdomisili di Kota Makassar Sulawesi Selatan  dan A yang berdomisili di Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan. 

Terhadap kedua pemasok ini, pihak penyidik sedang melakukan pengembangan dan berkoordinasi dengan Ditpolairud Korpolairud Baharkam Polri dan Ditpolairud Polda Sulawesi Selatan untuk melakukan penangkapan. 

Kepada tersangka SY, jelas Andi, dikenakan sangkaan melanggar pasal 1 ayat (1) Undang Undang Darurat nomor 12 tahun 1951 tentang senjata apibdan bahan peledak. Tersangka terancam hukuman 20 tahun penjara hingga hukuman mati. 

Dalam perkara ini, pelaku mengakui menjual detonator tersebut dengan harga berkisar antara Rp 135 ribu hingga Rp 250 ribu per batang. 

"Untuk bahan peledaknya, SY mengaku membawa bahan peledak dari selayar ke Sikka untuk dijual kepada masyarakat. Sampai saat ini dari keterangan yang bersangkutan, ia mengaku baru sekali melakukan penjualan," kata Andi. 

Dukungan Pemprov Untuk Pariwisata Malaka Masih Sebatas Gelarkan Even

60 Balita Pandawai Terpapar Stunting, Ini Gebrakan yang Dilakukan Pemkab Sumba Timur

Namun demikian dalam penyidikan, pihaknya akan tetap melakukan pengemabagan. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved