News

60 Balita Pandawai Terpapar Stunting, Ini Gebrakan yang Dilakukan Pemkab Sumba Timur

Enam puluh orang anak usia bawa lima tahun (balita) di Kecamatan Pandawai, Sumba Timur, terpapar stunting.

60 Balita Pandawai Terpapar Stunting, Ini Gebrakan yang Dilakukan Pemkab Sumba Timur
tribun lampung
ilustrasi 

 Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Robert Ropo

POS KUPANG, COM, WAINGAPU - Enam puluh orang anak usia bawa lima tahun (balita) di Kecamatan Pandawai, Sumba Timur, terpapar stunting. Para penderita teridentifikasi bulan Februari 2019.

Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora, dalam sambutannya pada kampanye pencegahan stunting tingkat Kecamatan Pandawai, Selasa (3/9/2019), sebagaimana rilis yang dikirim Dinas Kesehatan Sumba Timur, Rabu (4/9/2019), mengatakan, sesuai hasil riset kesehatan daerah yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2013, ditemukan 51,3 persen anak-anak yang mengalami stunting dan pada tahun 2018 menurun menjadi 39,3 persen.

Dan, pada bulan Februari 2019 di Kabupaten Sumba Timur ditemukan 2.280 anak yang menderita stunting, 60 di antaranya ada di Kecamatan Pandawai. "Sangat diharapkan ke depannya angka ini harus kita turunkan, bahkan stunting harus kita hilangkan dari Sumba Timur," tegas Gidion.

Gidion mengatakan, dengan intervensi yang belum terintegrasi dan masih didominasi oleh sektor kesehatan, pihaknya mampu menurunkan angka stunting 12 persen dari tahun 2013. Apalagi, jika melakukannya dengan lebih serius dan secara bersama-sama, terintegrasi melalui konvergensi kegiatan oleh semua komponen daerah, dipastikan akan berhasil mengurangi bahkan menghilangkan stunting di Sumba Timur.

"Pandawai merupakan kecamatan pertama yang menjadi lokasi kampanye pencegahan stunting tingkat kecamatan di Sumba Timur. Tindakan pencegahan perlu dilakukan saat ini karena anak-anak yang sudah menderita stunting susah disembuhkan," tutur Gidion.

"Jika diberi makanan tambahan pemulihan (PMT) pun, anak penderita stunting tersebut tidak bertambah tinggi tetapi menjadi gemuk dan pendek. Berbeda dengan yang menderita gizi buruk, yang jika diberi PMT berat badannya segera naik sehingga status gizinya pun segera menjadi baik. Untuk itu, yang harus kita lakukan adalah pecegahan. Kita cegah agar tidak boleh lagi terlahir anak-anak yang tinggi badannya lebih rendah dan tidak sesuai dengan umurnya," tambah Gidion.

Demi Sumba Timur yang bebas stunting ke depannya, lanjut Gidion, tindakan dan upaya pencegahan tidak lagi hanya dilakukan dinas kesehatan tetapi oleh semua pihak, mulai dari perangkat daerah, kecamatan, aparat desa, PKK, sekolah, gereja, tokoh masyarakat, tokoh agama, para kader dan semua masyarakat.

Dengan cara konvergensi atau intervensi yang dilakukan secara bersama-sama, saling melengkap, dimulai dari para remaja putri, ibu hamil dan anak di bawah umur dua tahun.

Operasionalnya dengan cara memberi tablet tambah darah, pembagian kelambu anti nyamuk, setiap ibu hamil akan dilayani dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan setiap anak umur 6 -12 bulan di daerah lokus stunting akan dilayani Makanan Pendamping Asi (MP-ASI).

Halaman
12
Penulis: Robert Ropo
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved