ASN di Sikka - NTT Jadi Buronan Korupsi Kejari Maumere

-Oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Theo Ladjar, telah setahun menghindari dari penggilan penyidik Ke

ASN di Sikka - NTT Jadi Buronan Korupsi Kejari Maumere
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Kepala Kejaksaan Negeri Maumere, Azman Tanjung, S.H 

POS-KUPANG.COM, MAUMERE----Oknum  Aparatur  Sipil Negara   (ASN) di  Kabupaten  Sikka, Pulau  Flores, Theo Ladjar,  telah setahun menghindari  dari  penggilan  penyidik  Kejaksaan Negeri  Maumere. Tiga kali  surat panggilan yang dikirim  tak digubrisnya.

“Iya,   memang sampai  saat ini  pelaku  belum  datang. Surat  panggilan sudah   tidak kali  dikirim, “ kata Kepala Kejaksaan Negeri  Maumere, Azman  Tanjung, S.H,  Rabu   (4/9/2019) siang di Maumere.

Azman   Tanjung menyarankan  kepada Theo Ladjar menyerahkan diri  kepada  penyidik.  Menghindari pemeriksaaan  kejaksaan  justru   tidak menyelesaikan  masalah.

“Kalau  tetap  tidak mau datang, saatnya  statusnya  menjadi  daftar pencarian orang (DPO). Dia  mau lari atau bersembunyi sampai kapan,” kata  Azman Tanjung.

Kepala  Seksi  Pidana Khusus, Jermias  Pena, S.H,dan Kepala Intelijen,   Cornelis  S.Oematan, S.H, mendampingi Kajari  Maumere, mengatakan penyidik   berupaya  melakukan pendekatan  dengan keluarga  Theo Ladjar, supaya  menghadrikan  Theo  Ladjar ke Kejari Maumere.  Mereka  minta  waktu  sampai akhir bulan September  2019.

Anggota DPRD Kabupaten TTS Selamat Dari Kecelakaan Maut, Begini Kejadiannya

Bunuh Lalu Bakar Suami dan Anak Tiri, Aulia Kesuma Mengaku Nonton Sinetron jadi Pemicu, Pengakuannya

“Kami  beri  waktu  satu minggu lagi,”  kata   Jermias.

Jermias, mengakui  belum  tahu  keberadaan  Theo Ladjar  yang  telah lama  tinggalkan tugasnya.  Rumahnya di Maumere  telah disita  bank.

Korban Bisa Selamat Kecelakaan Maut Tol Cipularang saat Mobil Tergantung di Bibir Jurang, Kronologi

Theo Ladjar, mantan  pejabat   Dinas Pemerintahan Desa   (PMD)  terlibat  dugaan korupsi  pengadaan mebeler, laptop, printer, kamera, tenda  dan mesin pemecah batu  dengan sejumlah  desa di  Sikka.   

Pembelian  bartang-barang  itu  menggunaka  jasa perusahaan  milik  keluarga.  Setelah uang diambil  dari  desa-desa sejak  2017,  tak satupun  barang  yang diadakannya diserahkan kepada desa. Taksasi  kerugian  mencapai Rp 200-an  juta.  (laporan  wartawan  pos-kupang.com, eginius  mo’a)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved