Siswa SMPN I Bajawa Ajak Masyarakat Jangan Bakar Hutan

Sebanyak 50 siswa SMPN 1 Bajawa dalam aksi literasi alam terbuka (ekoliterasi).

Siswa SMPN I Bajawa Ajak Masyarakat Jangan Bakar Hutan
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Siswa SMP Negeri I Bajawa saat berada di di puncak bukit Nangge Mba'a, di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Jumat (30/8/2019). 

Tetapi, lanjut Natalia dalam suara lantang, kehilangan masa depan itu berpengaruh pada hancurnya alam yang berarti hancurnya atau hilangnya kehidupan dan keutuhan ciptaan.

Itu sebabnya, Natalia mengajak para milenial agar terus mengangkat isu ini dan mengingatkan banyak orang, agar terus menbuhkkan budaya cinta alam.

Dan kepada para pelaku kejahatan terhadap alam, atas nama kaum milenial pemilik masa depan, dia menyerukan dengan tegas agar stop sudah membakar hutan dengan tujuan murahan sesaat dan menolak perilaku kejahatan terhadap alam.

Natalia juga minta perhatian kepada pemerintah agar serius menangani persoalan lingkungan dan berupaya mencegah upaya merusak alam termasuk dalam balutan investasi. Selain itu menindak para perusak alam yang terus semaunya mengeksploitasi alam.

Perilaku masyarakat yang membakar hutan terutama untuk tujuan kesenangan sesaat melalui berburu, harus dihentikan. Karena menurut dia bencana akibat ulah manusia telah menyebabkan rusaknya ekosistim dan punahnya spesies kehidupan di wilayah Wolomeze.

Terkait dengan kegiatan literasi di alam terbuka, guru SMPN 1 Bajawa, Ignasius Sabinus Satu memgatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan ekologi guna menumbuhkan nilai dan kecintaan pada alam dalam membangun kembali keutuhan ciptaan.

Melalui kegiatan ini tumbuh sikap rasa memiliki dan merekat persaudaraan antar siwa dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan.

Melalui wahana literasi menulis, kata Uno demikiam guru ini biasa disapa, para siswa dapat mengampanyekan tentang alam untuk kehidupan melalui karya tulis mereka seperti: berita, feature, oponi dan puisi. Karya ini kemudian dipublikasikan melalui media (mading) sekolah, media sosial, media online maupun cetak.

Literasi di alam terbuka juga mengandung pesan bahwa siswa bisa belajar darimana saja, dimana saja, dan dari siapa saja.

Alam terbuka juga menjadi sekolah untuk kehidupan dan dari sana siswa dapat belajar dari kearifan alam.

Melalui mendaki mereka juga belajar nilai perjuangan hingga ke puncak, juga perjuangan para penjaga hutan yang dijumpai, untuk terus menjaga alam.

Siswa SMK Negeri I Aesesa Praktek di Dinas Kominfo Ngada

Hotman Paris Hutapea Pamer Kedekatannya dengan Prabowo Subianto & Tunjuk Komitmen pada Kopi Johny

"Di reboisasi itu para penjaga terus siaga jangan sampai terbakar dan rusak," kata Uno mencontohkan.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved