Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 29 Agustus 2019 ''Kegigihan yang Berbuah Baik''

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 29 Agustus 2019 ''Kegigihan yang Berbuah Baik''

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 29 Agustus 2019 ''Kegigihan yang Berbuah Baik''
istimewa
Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 29 Agustus 2019 ''Kegigihan yang Berbuah Baik'' 

Melalui perumpaan ini Yesus mendorong bagaimana seharusnya orang percaya bersikap ketika berhadapan dengan tantangan dan bergumul untuk menyelesaikannya.

Orang percaya tentulah selalu berusaha untuk hidup dengan benar dalam kehidupan setiap hari.

Namun tidak selamanya tindakan benar itu disukai oleh semua orang. Para pembenci berusaha menjatuhkan.

Jemaat Tuhan sekalian,

Terhadap kesulitan-kesulitan ini Yesus membandingkan Allah dengan si hakim yang lalim.

Bila si hakim yang lalim bisa memenangkan perkara si janda, maka Allah yang mengasihi kita tentu akan membela perkara kita. Allah hanya mau melihat seberapa besar kita berharap pada-Nya dalam tiap kesulitan yang ditemui.

Banyak kali orang percaya diliputi dengan keputusasaan dan kekecewaan ketika berhadapan dengan sebuah ketidakadilan.

Lebih banyak yang bersikap pasrah pada keadaan sekalipun hal itu penting bagi dirinya dan adalah sebuah kebenaran.

Sudah seharusnya kita belajar dari si janda.

Tuhan yang kita percayai dan sembah lebih besar dari masalah yang kita gumuli. Justru ketika sebuah masalah terjadi Tuhan tahu bahwa kita memiliki kemampuan untuk dapat mengatasinya.

Kita sendiri yang terkadang tidak percaya diri dan mudah berputus asa. Apalagi mereka yang akan dihadapi punya pengaruh dan kekuasaan.

Ketika kita bersungguh-sungguh dan percaya kepada Tuhan, pasti Tuhan memberikan jalan untuk menyelesaikannya.

Bantuan itu bisa datang dari siapa saja termasuk dari mereka yang tidak kita duga akan menolong.

Orang-orang yang sudah pernah meminta keadilan dari si hakim yang lalim tentu merasa kaget dengan sikapnya menolong si janda. Hal ini tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Si janda itu memperoleh apa yang diinginkannya. Ia mendapatkan keadilan yang ia butuhkan dan si hakim bebas dari gangguannya.

Putus asa dengan tidak terus berjuang dan takut menghadapi kesulitan membuat kita tidak akan mendapatkan apa yang kita perjuangkan.

Berapa banyak orang percaya yang gagal karena tidak memiliki keberanian dan ketekunan seperti si janda.

Bagaimana dengan si hakim? Ia punya kedudukan yang seharusnya mendapat kehormatan bukannya ditakuti.

Ia salah memanfaatkan posisinya.

Seorang hakim bisa bersikap dengan benar apabila ia takut akan Allah dan dinyatakan lewat keputusannya yang adil.

Keputusan yang benar itu, Jemaat Tuhan sekalian,tidak lahir karena kepentingan pribadi, kelompok atau juga ketakuran dan supaya ia tidak lagi diganggu melainkan seharusnya siapa yang benar dialah yang dimenangkan dalam proses pengadilan.

Sekalipun harus berhadapan dengan berbagai tekanan dan godaan, tetapi kebenaranlah yang menang dalam pengadilan. Dalam keseharian kita, lebih banyak dalam posisi sebagai si janda.

Memiliki banyak pergumulan yang ingin dicapai. Melihat begitu banyak ketidakadilan terjadi. Tetapi apakah kita punya keberanian seperti si janda? Dalam dua ayat terakhir Yesus memberikan sebuah kepastian bagi tiap orang percaya.

Bahwa ketika kita meminta dengan sungguh-sungguh Allah tidak akan berlaku seperti si hakim tadi. Allah tidak bisa kita bandingkan dengan si hakim lalim itu. Allah tidak akan mengulur-ulurkan waktu.

Ia akan menolong tepat pada waktu-Nya. Bahkan sebelum kita meminta, Allah telah tahu apa yang kita perlukan. Allah juga tahu seberapa kuat kita bertahan dalam sebuah persoalan.

Yang Allah minta adalah kesungguhan untuk terus berusaha tanpa putus asa dan meminta pada Allah. Hal terakhir. Anak Manusia yakni Yesus menghendaki supaya ketika Ia datang mendapati orang percaya memiliki iman.

Maksudnya percaya bahwa Allah pasti menolongnya. Mendapati iman berarti punya sikap seperti si janda. Ini mengandung pengertian sebagaimana Yesus katakan dalam ayat 7.

Hendaknya kita berseru siang dan malam. Jangan hanya berseru satu kali lalu berhenti. Semakin kita berseru, berarti semakin dekat kita dengan pertolongan Tuhan.

Mungkin Tuhan hanya membutuhkan kita berseru satu kali lagi.

Tidak boleh takut dengan bayangan kegagalan.

Keyakinan akan jawaban Tuhan yang memberi kemenangan itulah yang harus selalu ada dalam diri kita.

Tuhan tidak pernah membiarkan kita kalah dalam perjuangan untuk mendapatkan keadilan sebab Tuhan adalah adil dan Ia menghendaki iman kita untuk menyatakan kasih-Nya, Amin.

Editor: maria anitoda
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved