Breaking News:

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 26 Agustus 2019, 'Adakah Keberanian Membongkar Topeng?'

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 26 Agustus 2019, 'Adakah Keberanian Membongkar Topeng?'

Editor: Eflin Rote
istimewa
Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh MA 

Selain itu mereka juga menukarkan uang bagi orang-orang yang memerlukan uang setengah syikal untuk membayar uang tebusan tahunan yang dipungut setiap tahunnya, atau juga untuk menukar uang kembalian, terutama bagi orang miskin.

Yesus bukan hanya marah dengan mata melotot, tetapi dengan sedikit kasar mengobrak abrik meja-meja mereka, karena Ia melihat mereka hanya berkedok “in ordine ad spiritualia”, berkedok melakukannya dengan tujuan rohani.  Dengan tegas Yesus katakan "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."

Perlu dicatat dan digaris bawahi disini bahwa Tuhan Yesus mengecam mereka yang menyelewengkan fungsi Bait Allah berdasarkan Firman Tuhan, karena mereka telah melecehkan Bait Allah dan menyerongkan tujuannya.

“Kamu telah menjadikannya sarang penyamun”. Kalimat ini dikutip dari Yeremia 7:11, “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?”

Ketika Jabatan disalahgunakan dan ketika kesalehan palsu dijadikan kedok untuk menutupi kefasikan, saat itulah rumah doa dikatakan telah berubah menjadi sarang penyamun, dan di dalamnya orang-orang bersembunyi untuk mengintip dan menerkam orang-orang yang lemah.

Para pemimpin Yahudi telah menjadikan halaman depan Bait Allah menjadi pasar. Cilakanya juga seperti pasar sering kali menjadi sarang penyamun karena banyaknya perbuatan jahat dan curang ketika ada proses berjual beli, dan pasar di Bait Suci juga jelas-jelas seperti itu, sebab orang-orang ini merampok kehormatan Allah, yang sungguh lebih buruk lagi daripada seorang pencuri (Maleakhi. 3:8).

 Dari Jabatan dan pelayanan Mezbahnya sebetulnya para imam sudah hidup berkelimpahan. Tetapi semakin orang berkelimpahan justru orang semakin tidak puas dengan semuanya itu, mereka masih mencari cara lain lagi untuk memeras uang dari orang lain.

Karena itulah Kristus menyebut mereka penyamun, sebab mereka mengambil apa yang bukan milik mereka; Karena merekaya berbagai hal untuk kepentingan diri senediri. 

Apa yang ditekankan penulis Matius ini digemakan ulang oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius.  Paulus memperingatkan terhadap fenomena  kejahatan dan penyelewengan yang menyusup ke dalam persekutuan melalui perbuatan orang-orang yang mengambil untung melalui ibadah, mereka yang mencari keuntungan duniawi dalam ibadah mereka, dan berpura-pura saleh hanya untuk mengambil keuntungan bagi diri mereka sendiri (1Tim. 6:5).

Disini Yesus membuat suatu perubahan radikal bahwa Bait Allah harus dipahami sebagai rumah doa. Tempat orang bertemu dengan Tuhan dan merasakan kasih karunia-Nya. 

Sehingga Yesus mengusir mereka yang menyelewengkan fungsi Bait Allah, tetapi ia membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang membutuhkan pelayanan, yaitu orang-orang buta, timpang dan atau orang-orang yang sakit yang jauh lebih membutuhkan pelayanannya untuk  disembuhkanNya.

“14Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. 15 Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" hati mereka sangat jengkel,  16 lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?"

Menarik untuk dicatat bahwa dasar penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus didasarkan pada kita Suci dan ini menjadi suatu istilah kunci dalam teks ini: gegraptai; orang Jerman bilang es steht gerschrieben, artinya ada tertulis. Yesus melakukan perubahan dan pembaharuan berdasarkan kitab suci.  Perubahan yang dilakukan Yesus berdasarkan apa yang tertulis (artinya berdasarkan Firman Tuhan, dan bukan berdasarkan perasaan dan logika manusia yang palsu.

Sikap Yesus ini menyadarkan kita untuk tidak boleh melakukan sesuatu melebihi apa yang diperbolehkan bagi kita seperti yang ada tertulis (Firman Tuhan, dan aturan-aturan lainnya).

Karena itu, pembaruan diri dapat dikatakan benar hanya jika segala perbuatan yang salah dikembalikan kepada bentuk asalnya yang benar. Seringkali aturan-aturan kita langgar karena interese pribadi dan kelompok. Sering aturan kita langgar karena kita mau mengambil keuntungan darinya.

Sering aturan kita langgar karena kita merasa kita berhak menafsirkannya sesuka hati kita dan orang lain tidak boleh. Dan celakanya aturan kita langgar bukan hanya karena kita merasa berhak melakukannya karena kuasa yang dipegang, tetapi juga kita seolah-olah tidak takut kepada pemegang kuasa Tertinggi  yaitu Tuhan Pencipta sendiri.

Seringkali aturan kita langgar karena kita memakai topeng demi “kepentingan umum atau demi kepentingan lembaga ini atau lembaga itu” padahal kepentingan diri sendiri atau kelompok yang dikedepankan.

Terhadap “topeng-topeng semacam inilah Yesus marah dan melucuti topeng-topeng para imam yang nampak seolah-olah sebagai “in ordine ad spiritualia” tetapi sebetulnya mereka bertopengkan kesalehan dan kepentingan umum serta seakan-akan punya tujuan rohani dan mulia.

Pembaca yang budiman, apakah sebagai pengikut Kristus adakah keberanian pada kita untuk membongkar topeng-topeng kepalsuan dalam diri kita atau dalam diri sesama kita demi suatu kehidupan yang berkeadilan? Semoga!

***********

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved