Adakah Keberanian Membongkar topeng?

Karnaval yang paling populer di dunia ini dikunjungi jutaan turis tiap tahunnya menjadi salah satu agenda acara penting di Italia. Dan biasanya pendud

Adakah Keberanian Membongkar topeng?
istimewa
Bangsa Venesia adalah bangsa yang unik dan terkenal dengan pesta Topengnya. Salah satunya yang paling terkenal adalah pesta topeng yang diselenggarakan setiap tahun dalam Karnaval Venesia (lihat http://www.panorama-magz.com/newsflash/pesta-topeng-penuh-warna-di-venesia). Karnaval Venesia yang diikuti oleh ribuan orang dengan kostum-kostum gotik ini selalu digelar pada 40 hari sebelum perayaan Paskah umat Kristen. 

Karnaval yang paling populer di dunia ini dikunjungi jutaan turis tiap tahunnya menjadi salah satu agenda acara penting di Italia. Dan biasanya penduduk  Venesia telah mempersiapkan desain topengnya jauh-jauh hari sebelum karnaval berlangsung, dimana dibedakan dua jenis topeng, yakni bauta dan volto.

Bauta adalah jenis topeng  yang hampir menutupi seluruh wajah, namun bagian mulut tidak ditutupi agar si pengguna masih bisa makan dan minum tanpa harus melepas topengnya. Bauta sendiri dipercaya berasal dari kata bahasa Jerman, yakni “behüten” yang berarti “melindungi”, serta kata padanannya dalam bahasa Italia,  “bau” atau “babau” artinyai “monster”. Kata  ini sering dipakai orangtua untuk menakuti anaknya.  Jika anak nakal dan tidak mau makan maka orang tuanya akan memaksanya makan sambil  mengatakan:  ”Se non stai bravo viene il babau e ti porta via.” (Bila nakal, babau bakal datang dan menculikmu, Nak.)

Jenis topeng yang kedua adalah Volto dimana jenis topeng ini menutupi seluruh wajah. “Volto” sendiri berarti “wajah”. Volto ini bisa berjenis “larva” artinya “hantu”, karena memang topeng ini memastikan penggunanya tampil misterius, dan bahkan menyeramkan bila digunakan sambil berjalan-jalan di malam hari di lorong-lorongnya yang gelap dan remang-remang. Warna topeng Volto adalah  putih, dan di masa lalu digunakan sepanjang tahun untuk menyembunyikan identitas pemakainya.  

Dengan memakai topeng orang tampil percaya diri dan bebas berekspresi tanpa ada yang mengetahui identitasnya. Ini seperti di era modern kita saat ini orang memakai “topeng akun FB” palsu. Dengan akun palsu orang akan bebas memaki dan mencela tanpa ampun. Jadi orang bisa bersembunyi dibalik topengnya dan bisa saja makna pesta topeng disalahgunakan oleh orang jahat. Orang yang penakut dan minder ketika memakai topeng ia menjadi berani dan luwes bergaul, karena tidak ada yang tahu wajah siapa dibalik topeng itu, entah cantik, tanpan atau jelek seperti jin genderuwo alias bukan “jin kafir” menurut pak Tommat.

Menarik ketika Yesus memasuki kota Yerusalem menjelang perayaan Paskah Yahudi, Yesus tidak datang dengan memakai topeng, karena memang orang Yahudi tidak mengenal tradisi topeng. Tetapi justru Yesus menuju Bait Allah dan disana ia membongkar “topeng”  (arti kiasan) yang dipakai oleh para imam dan para petugas Bait Allah.  Memang Yesus seakan-akan ketika memasuki Yerusalem dielu-elukan (Matius 21:1-17) dan disambut dengan mereka seperti pesta Karnaval Venesia. Jika Karnaval Venesia memakai topeng adalah ciri khasnya, maka maksud Yesus ke Bait Allah Yerusalem justru untuk membongkar “topeng kebusukan” yang dipakai oleh orang Farisi, ahli Taurat dan oknum-oknum imam yang telah lalai dalam menjalankan tugasnya dan bahkan dengan tega menyalahgunakan wewenang dan kuasa yang ada pada mereka.

Betapa tidak Yesus mengobrak abrik meja bangku yang ada di pelataran Bait Allah yang dipakai sebagai alat perdagangan. Dengan marah dan penuh ketegasan serta kewibawaan Yesus berkata” rumah ku adalah rumah doa dan bukan sarang penyamun (Matius 21:12-13 “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati 13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”).

Bagi beberapa penafsir ada hal yang unik dan menarik ketika Yesus memasuki  Yerusalem. Meskipun Yesus datang ke Yerusalem disambut dengan meriah bak seorang Raja, tetapi Ia tidak menuju ke istana Raja, melainkan langsung ke Bait Allah.

Ini mengindikasikan bahwa misi Kerajaan Yesus lebih bersifat rohani dari pada duniawi. Yesus tidak menuju istana untuk merasakan kemewaan dan kebesaran seperti seorang raja yang di istana, tetapi yang Ia tujui adalah Bait Allah untuk melayani dan memberitakan Kerajaan Allah.  Yang Yesus cari bukan kekuasaan duniawi dengan segala macam intriknya, tetapi Rumah Tuhan tempat orang berdoa pada Tuhan. Dengan kata lain arah tujuan Yesus bukan pada pusat kekuasaan manusia (kekuasaan pemerintah-para raja, pusat kekuasaan budaya, pusat kekuasaan sosial ekonomi dan budaya, tetapi pusat kekuasaan yang jauh lebih besar yaitu kuasa Tuhan Allah yang maha tinggi. 

Tujuan Yesus  ke Bait Allah sudah bulat untuk “membongkar topeng” para oknum yang telah mengubah suasana hikmat Bait Allah yang tenang dan teduh tempat berdoa, tetapi penuh dengan hiruk-pikuk orang berdagang. Yesus tidak mendapati suasana yang tenang dan khusuk, dimana orang berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan ketulusan dan sikap penyembahan, karena Bait Allah telah menjadi tempat dagang.  Fungsi Bait Allah telah diselewengkan. Pelataran Bait Allah yang biasanya tempat orang non Yahudi dan orang Kafir dapat berdiri dan turut berdoa pada Tuhan, sudah diselewengkan. Penyelewengan yang dilakukan adalah bahwa tempat itu telah menjadi tempat jual beli dan tempat tukar menukar menukar uang (lihat R.E. Nixon, Matthew,  dalam New Bible Commentary, Third Edition, Guthrie, dkk, Inter Varsity Press, Leicester-England, 1970,   hlm., 842).

Sebetulnya Yesus tidak marah, jika proses transaksi atau jual beli dan tukar menukar uang di Bait Allah masih dalam batas-batas kewajaran, artinya bahwa hal itu dilakukan dengan tujuan rohani. Yesus juga sebetulnya tidak akan marah jika praktek yang demikian masih dalam relnya atau masih dalam batas-batas yang disebut dengan “in ordine ad spiritualia” (sesuatu yang dilakukan dengan tujuan rohani dan mulia).

Halaman
123
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved