Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Senin 19 Agustus 2019 “Salib adalah Kekuatan Allah''

Renungan Harian Kristen Senin 19 Agustus 2019 “Salib adalah Kekuatan Allah''

Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Senin 19 Agustus 2019 “Salib adalah Kekuatan Allah'' 

Rasul Paulus sendiri sadar bahwa kendatipun dia yang telah merintis terbentuknya jemaat Korintus, tetapi itu bukan alasan untuk menyombongkan diri, karena bagi Paulus pekerjaan pelayanan di Korintus adalah tanggungjawab bersama jemaat juga para pelayanan Tuhan yang meneruskan pekerjaan pelayanan itu. Paulus berkata dalam ayat 10: “Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya.

Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya”.  Dengan indah juga Paulus melukiskan gereja sebagai bangunan Allah (ayat 9: Orang percaya sebagai bangunan Allah bahkan ladang Allah, dimana semua orang percaya juga adalah Mitra Allah dalam pembangunan itu, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”.

Bagi Paulus juga pembangunan jemaat itu tidak dengan hal-hal yang tidak tahan uji (ayat 12) atau juga dengan pengajaran yang dangkal, tidak dengan pengajaran dan tindakan jerami berdasarkan hikmat manusia (lihat 2:4-5, 13, tetapi didasarkan pada hikmat Tuhan. Jemaat bahkan adalah Bait Allah, dan barangsiapa yang menghancurkannya dia akan berhadapan dengan Allah sendiri (ayat 16 dan 17).  Yang ditekankan di sini ialah seluruh jemaat orang percaya sebagai Bait Allah dan tempat kediaman Roh (bd. ayat 1Kor 3:9; 2Kor 6:16; Ef 2:21).

Selaku Bait Allah di tengah-tengah lingkungan yang bobrok, umat Allah di Korintus tidak boleh berpartisipasi dalam kejahatan yang lazim dalam masyarakat itu seperti percabulan dan penyembahan berhala atau rupa-rupa kejahatan lainnya, tetapi mereka harus menolak segala bentuk kebejatan. Bait Allah harus kudus (ayat 1Kor 3:17) karena Allah itu kudus (bd. 1Pet 1:14-16;). Bait Allah bukan sarang penyamun (Mat 21:13; Mark 11:17, Luk 19:46).

Ini sebetulnya kritik bagi pihak-pihak yang suka merusak persekutuan jemaat tertentu, dengan cara-cara yang licik dan jahat. Kritik juga bagi pihak-pihak yang dengan ambisi pribadinya merusak relasi dan persekutuan dalam gereja Tuhan.

Ayat 19 dari perikop ini menjelaskan bahwa hikmat dunia ini tidak ada artinya dengan hikmat yang berasal dari Allah.

Hikmat dari dunia ini juga tidak dapat dibandingkan dengan hikmat yang berasal dari Allah. Jika ditelusuri ke belakang, di ayat 18 dijelaskan bahwa banyak orang yang menganggap ajaran-ajarannya benar, namun hal tersebut justru menunjukkan kebodohan mereka. Ayat 18 menunjukkan kepada pembaca bahwa hikmat dunia sering kali dilandasi dengan keangkuhan dari orang-orang yang mempercayai hikmat tersebut.

Teori dan filsafat yang dikembangkan bukan untuk memuliakan Tuhan dan hanya untuk membanggakan pikiran diri sendiri atau hanya untuk mencari popularatas tidak ada manfaatnya bagi gereja dan pertumbuhan iman Jemaat. Oleh sebab itu Paulus melalui nas ini mencoba menekankan bahwa hikmat yang berasal dari keangkuhan hanya akan menunjukkan kebodohan manusia dan hanya akan menjadi suatu kebodohan yang hendak ditunjukkan manusia di hadapan Allah. Oleh karena itu Paulus menekankan pentingnya orang mengandalkan Kristus sebagai hikmat Allah yang sejati.

[1] Yang ditekankan di sini ialah seluruh jemaat orang percaya sebagai Bait Allah dan tempat kediaman Roh (bd. ayat 1Kor 3:9; 2Kor 6:16; Ef 2:21). Selaku Bait Allah di tengah-tengah lingkungan yang bobrok, umat Allah di Korintus tidak boleh berpartisipasi dalam kejahatan yang lazim dalam masyarakat itu seperti percabulan dan penyembahan berhala atau rupa-rupa kejahatan lainnya, tetapi mereka harus menolak segala bentuk kebejatan. Bait Allah harus kudus (ayat 1Kor 3:17) karena Allah itu kudus (bd. 1Pet 1:14-16;). Bait Allah bukan sarang penyamun (Mat 21:13; Mark 11:17, Luk 19:46).

Jadi nasehat Paulus ini secara intern memperkuat jemaat Kristen di Korintus untuk memperkuat persatuan mereka, tetapi juga secara ekstern jemaat Korintus lebih dewasa dalam menghadapi sikap olok-olok yang datang baik dari orang Yahudi maupun orang Yunani tentang salib. 

Itu berarti Gereja Tuhan pada satu pihak harus dibangun diatas dasar kekuatan dan hikmat Allah yang telah nyata dalam Kristus selaku dasar gereja dan sekaligus kepala gereja, dimana perselisihan, pementingan diri sendiri, memupuk egoisme diri maupun ego kelompok atau ego sektoral, upaya cari nama, godaan untuk membesarkan diri sendiri, pengekploitasian dan pemerasan terhadap sesasama dan arogansi adalah tanda-tanda dan hikmat duniawi, karena hikmat Kristus mengajarkan sebaliknya kasih, pengorbanan dan kerendahan hati, namun juga dipihak lain gereja harus mampu tahan banting terhadap hinaan dan olok-olokan dari pihak lain di luar gereja. 

Penekanan pada salib yang menekan pada kasih, pengorbanan dan kerendahan hati harus menjadi cerminan orang-orang percaya.

Dunia boleh runtuh tetapi iman kepada Kritus yang di salib dan bangkt dari orang mati tidak akan goyah.

Oleh karena itu tepat yang dikatakan Paulus kepada Jemaat di Korintus ini “19 Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan." 20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini?

Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. 22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, 23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, 24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. 26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, 28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, 29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. ” (1 Korintus 1:19-30). (*)

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved