Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Senin 19 Agustus 2019 “Salib adalah Kekuatan Allah''

Renungan Harian Kristen Senin 19 Agustus 2019 “Salib adalah Kekuatan Allah''

Editor: maria anitoda
istimewa
Renungan Harian Kristen Senin 19 Agustus 2019 “Salib adalah Kekuatan Allah'' 

Itulah sebabnya menurut Niebuhr (Lihat  K.-W. Niebuhr (Hg.), Grundinformation Neues Testament, 2. Auflage, Vandenhoeck & Ruprecht In Göttingen 2003, hal. 58 dyb) terhadap persoalan jemaat Paulus memberikan pemaknaan tentang salib yang dapat menjadi pintuk masuk bagi jemaat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Namun pemaknaan tentang salib baru punya makna yang utuh jika dikaitkan dengan kebangkitan. 

Sehingga ketika menulis surat ini Rasul Paulus menempatkan persoalan jemaat diantara pembicaraan tentang salib dan pembicaraan tentang kebangkitan.

 Jadi bagannya adalah:

 Peristiwa Penyaliban – Permasalahan Jemaat – Peristiwa Kebangkitan

Menurut Niebuhr dilihat dari struktur penulisan surat 1 Korintus ini maka dapat dibagi atas tiga bagian besar yaitu bagian pertama terdiri dari awal surat (1:1-9) bagian kedua (1:10-15:58) yang dapat dirincikan lagi menjadi tiga bagian: a) 1:10-4:21 yang berisi penjelasan mendasar Paulus tentang salib Kristus yang memiliki makna sentral dalam kehidupan jemaat; b) 5-7 sikap etis Paulus tentang masalah seksualitas; c) 8-10 berkaitan dengan persembahan berhala; dan d) pasal  15 tentang kebangkitan  dibagi dan bagian ketiga penutup surat (16:1-24).

Bagi Paulus, Salib Kristus adalah sebuah peristiwa penting yang menjadi dasar dan inspirasi bagi kesatuan mereka. Pada salib Kristus terletak kehendak dan hikmat Allah, yang baik bagi kehidupan jemaat, yang bertentangan dengan kehendak dan hikmat manusia, yang buruk dan membawa kepada kebinasaan.

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” (1 Kor 1:18,19).

Bagi Paulus penanaman nilai-nilai Kristiani bukan saja kita peroleh dalam relasi keluarga, masyarakat atau dalam hubungan dengan mereka yang berbeda keyakinan (lihat misalnya pasal 1 Kor Pasal 8-10), tetapi juga terutama dalam kehidupan bergereja kita.

Tugas Gereja adalah menuntun orang percaya untuk setia dan dibangun di atas dasar Yesus Kristus sebagai kepala gereja, dengan menggalang semangat persatuan dan pelayanan berdasarkan karunia dan talenta yang dimiliki masing-masing orang.

Saya kira pemahaman ini yang menjadi inti pemikiran dasar Rasul Paulus dalam nasehat kepada Jemaat di 1 Kor 3:9 dst, dimana Paulus menasehati jemaat di Korintus untuk bersatu sebagai Tubuh Kristus turut serta dalam pekerjaan pelayanan pembanguan Jemaat. Pelayanan dalam gereja hanya bisa jalan kalau jemaat bersatu dan menghindari perpecahan dan pengelompokan diri atau membangun kubu-kubuan dalam jemaat.

Bagi Paulus pelayanan dalam gereja adalah membangun kemitraan, sinergitas dan kebersamaan di bawah pimpinan Allah di dalam menyebarkan kebenaran. (1 Kor 3:5-4:5).

Bagi Rasul Paulus yang empunya pelayanan dalam gereja adalah Tuhan Allah sendiri, sehingga kita semua baik itu para pekerja gereja, para Pendeta, Penatua, Diaken,Pengajar, dan semua pelaku pelayanan, adalah para pekerja Allah, mitra Allah dalam membangun gereja sebagai Tubuh Kristus. Bagi Paulus para pelayan itu tidak lebih dari pada hamba, karena sesungguhnya yang bekerja adalah Allah (1 Kor 3:5-9). Para pelayan sebagai mitra Allah dengan kapasitas dan talenta masing-masing  diapakai Allah untuk membangun jemaat Tuhan (1 Kor 3:9-18), karena tidak boleh ada yang membanggakan diri atau terjebak dalam pengkultusan diri (1 Kor 3:18-23), karena semua kita toh akan dihamiki Allah ( 1 Kor 4:1-5). 

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved