Petani Kelapa di Sikka Flores Ini Lega Setelah Bentuk Wadah Khusus Produksi Minyak Kelapa

Petani kelapa di Sikka Flores ini lega setelah bentuk wadah khusus produksi minyak kelapa

Petani Kelapa di Sikka Flores Ini Lega Setelah Bentuk Wadah Khusus Produksi Minyak Kelapa
KOMPAS.com/NANSIANUS TARIS
Perwakilan para petani kelapa saat diwawancara sejumlah awak media, Sabtu (17/8/2019). Mereka mengatakan baru merasakan kemerdekaan dari para tengkulah setelah puluhan tahun tak pernah merasakan harga layak untuk komoditas kelapa. 

Petani kelapa di Sikka Flores ini lega setelah bentuk wadah khusus produksi minyak kelapa

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Petani kelapa di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur ( NTT) mengaku lega setelah ada wadah khusus yang dibentuk untuk memproduksi minyak kelapa mentah di wilayah tersebut.

Sebelumnya, selama puluhan tahun petani kelapa di Maumere terbelenggu harga rendah yang diberikan oleh tengkulah untuk komoditas kelapa mentahnya.

Ini Pesan Puan Maharani Saat Pembekalan Mahasiswa Baru di Undip Semarang

Hal itu disampaikan oleh Mikael John Abo, salah seorang petani kelapa Maumere. Dia mengatakan sangat senang dengan dibentuknya Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air Maumere, tepat pada 17 Agustus 2019 atau pada HUT RI ke-74.

Menurut dia, dia dan semua petani kelapa merasa bersyukur dan merdeka ketika komoditi kelapa dibeli dengan harga layak.

"Selama ini harga kelapa selalu rendah. Bahkan hari ini harganya Rp 4.000 per kilogram. Ini yang membuat kami para petani terbelenggu," katanya ke sejumlah awak media, Sabtu (17/8/2019).

Cuaca Cerah di 10 Lokasi Wisata di Pulau Sumba Hari Ini, Datang Yuk!

"Selama ini, sesungguhnya kami belum merdeka. Kami dijajah para tengkulak. Tetapi, itu terpaksa kami lakukan demi menyambung hidup keluarga. Kami bersyukur, mulai hari ini petani kelapa sudah merdeka."

Mikael merasa merdeka sebab komoditi kelapanya jika diolah jadi minyak kelapa mentah dihargai Rp 12.000 per kilogram di Kopdit Pintu Air. "Kami merasa jerih payah petani dihargai," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kopdit Primer Nasional Pintu Air Maumere Yakobus Jano mengungkapkan, HUT ke-74 RI merupakan momen memerdekaan petani dari belenggu keterjajahan harga beli komoditi kelapa yang rendah selama puluhan tahun sebelumnya.

"Peristiwa hari ini adalah mengenang kembali mengenang HUT ke-74 RI. Hari ini adalah momen pertama kita merdeka. Merdeka dalam arti memerdekan nelayan, tani, ternak, dan buruh," ungkap Yakobus Jano saat menggelar konferensi pers usai upacara bendera HUT RI, Sabtu (17/8/2019).

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved