Berita Cerpen

Cerpen Riko Raden: Penyesalan Terakhir

"Ayah, kalau sudah mengantuk biar tidur duluan. Aku masih tetap di sini." Kataku padanya.

Cerpen Riko Raden: Penyesalan Terakhir
exploringyourmind.com
Penyesalan Terakhir 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Hujan tiba-tiba saja turun ke bumi setelah siang yang terik. Tanpa aba-aba mendung, nyaris tanpa suara gelegar petir.

Syahdu, seolah sang hujan ingin menyapa semesta sebagai dirinya sendiri, bahwa dia adalah bulir rintik air penyejuk jiwa. Makin lama makin deras, namun dingin semakin menjadi.

Tak kuketahui dari mana tiba-tiba ada yang menyapaku di depan teras rumah kami. Ternyata ayahku. Dia langsung duduk di sampingku. Ayah selalu hadir di saat aku seorang diri.

Wali Kota Malang Minta Maaf, Ini Penjelasan Tentang Insiden Mahasiswa Papua di Balai Kota

Dia datang untuk membagikan pengalaman masa mudanya. Walaupun dia hanya seorang pekerja kuil bangunan namun aku sangat bangga padanya, karena dia bekerja setiap hari tanpa kenal lelah demi makan dan membiayai sekolah dan makan buat aku dan ibu.

Dia rela bekerja apapun untuk tujuan memberikan kehidupan keluarganya dimana keadaan ekonomi kami sangat lemah bisa dibilang keluarga kami dari kalangan keluarga yang miskin, gaji ayahku hanya dibayar perminggu 150.000 saja, tapi aku dan ibu sangat bangga terhadap kerja keras ayahku.

Di depan teras rumah ini, ayah terus menceritakan masa mudanya bersama ibu. Waktu pertam kali dia jatuh hati dengan ibu. Aku pun merasa senang karena ayah tidak pernah mencintai perempuan lain selain ibu. Aku bangga padanya. Aku terus menatap hujan di balik teras rumah kami. Aku melihat ayah mulai diam. Barangkali dia sudah mengantuk.

"Ayah, kalau sudah mengantuk biar tidur duluan. Aku masih tetap di sini." Kataku padanya.

"Aku belum mengantuk, Nana. Aku ingin bersamamu di sini." Katanya dengan nada pelan.

Merry Menikah di Kampung Tak Undang Raffi Ahmad dan Nagita Savina, Alasannya Menggelitik

Malam semakin dingin dan sunyi, suara khas anjing malam tak terdengar lagi. Angin telah membawanya dalam pelukan semesta. Aku dan ayah pun tenggelam dalam kesunyian.

Tiba-tiba ayah melontarkan kata hatinya yang selama ini ia pendamkan.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved