Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 17 Agustus 2019, 'Mengingat Kasih Tuhan'
Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 17 Agustus 2019, 'Mengingat Kasih Tuhan'
Renungan Harian Kristen Protesan
Sabtu, 17 Agustus 2019
Oleh Pendeta Dina Dethan Penpada, MTh
--
“Memanggil kembali ingatan-ingatan tentang Kasih Setia Tuhan pada Masa Lalu”
Hari ini Daud mengundang kita untuk masuk ke dalam pergumulan beratnya melalui Mazmur 13, yaitu sebuah mazmur ratapan.
Daud yang dikenal gemar memuji Allah kali ini bukan dalam keadaan yang penuh iman dan bersuka datang kepada Allah, tetapi kali ini ia datang menyampaikan kekosongan hatinya, kepiluan hatinya, karena ia merasa seolah-olah Allah telah meninggalkannya dalam kesendirian.
Dalam ketakutan dan kegelapan yang paling kelam Daud mengatakan bahwa Allah telah melupakan dan menyembunyikan wajahNya. Daud berseru dalam pilu dan mengutarakan perasaannya yang terdalam. "Berapa lama lagi. TUHAN, Kaulupakan aku, selamanya? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?"
Daud tidak berhenti pada ratapannya, ia memohon dengan gigih (ay. 4-5) "Pandanglah kiranya, dengarlah aku, ya TUHAN, Allahku!" Jika sebelumnya Daud merasa Allah menyembunyikan wajah-Nya, sekarang ia memohon agar Allah memandang padanya.
Jika sebelumnya Daud merasa Allah melupakannya, kini ia memohon agar Allah menjawab dan mendengarnya.
Daud "berani" memohon kepada TUHAN sebab ia memandang TUHAN sebagai Allah yang telah mengikat perjanjian dengan umat-Nya Hal ini nyata ketika Daud untuk pertama kalinya dalam mazmur ini menyebut TUHAN sebagai, Allahku" (ay 4a) Di sini ia mengklaim bahwa Tuhan adalah Allahnya secara personal/pribadi Dengan demikian, Daud memiliki hakuntuk memanggil dengan keyakinan kokoh bahwa ia akan didengarkan.
Setelah memohon, "pandanglah,""jawablah," dengan keyakinan yang sama Daud memohon lagi,, "Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dalam kematian" (ay 4b) Mata yang redup melambangkan habisnya kekuatan memohon agar TUHAN membuat matanya bercahaya, Daud sedang memohon agar diberikan kekuatan baru dan kelepasan dari maut yang mengancamnya.
Jika di bagian pertama berulang kali Daud berseru, "Berapa lama lagi?" dalam bagian ini ia memohon dengan gigih. Hal ini tampak bukan hanya dari tiga kata seru, "Pandanglah bercahaya!" tetapi juga dari alasan Daud, "Supaya jangan musuhku berkata Aku telah mengalahkannya,' dan lawanku bersukacita atas kejatuhanku" (ay 5). Daud meletakkan bebannya pada Allah dan ia mengalami hatinya terangkat dari penjara ketakutan kepada pujian dan penyembahan.
Permohonan Daud menghasilkan kesegaran di tengah kesesakan (ay. 6) Daud dipojokkan oleh musuh-musuhnya, didera sakit- penyakit, dirundung maut, dan seolah-olahditinggalkan"Allah.
Tetapi tiba-tiba ia berbalik arah. Kesedihannya sirna seperti embun yang diterangi cahaya mentari. Matanya berseri-seri lagi, tangannya mengepal dengan kekuatan, mulutnya penuh dengan tertawa, dan lidahnya penuh dengan sorak-sorai, “Tetapi aku, di dalam kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersukacita di dalam keselamatan-Mu, aku hendak bernyanyi kepada TUHAN, karena la melimpahkan kebaikan padaku” (ay.9)Daudberdiri dan meminyaki rambutnya, mengenakan jubah rajanya dankembali dan mengambil alat- alat musiknya.
Daud bernyanyi lagi! Kali ini lebih girang dari sebelumnya. la telah menemukan rahasia besar kesegaran di padang gurun.
Saudara, Apa yang membuatDauddemikian bersukacita di tengah-tengah kesesakan? Apakah ia berhasil melupakan masalahnya? Tidak! Apakah dia pasrah saja dan menolak memikirkannya lagi? Tidak! Apakah dia tiba-tiba mendapat jalan keluar yang ajaib musuh-musuhnya hilang? Juga Tidak.
Jawabannya adalah: Karena Daud menemukan kebaikan Tuhan”melalui kenangan-kenangan ketika berjalan bersama dengan Tuhan. Memorinya memanggil kembali ingatan-ingatan tentang kebesaran TUHAN pada masa lalu.
Daud mengingat kembali satu per satu kebaikan Tuhan di sepanjang hidupnya. Dan ia menemukan bahwa betapa Tuhan sedemikian baik, sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Tuhan telah melupakannya.
Saudaraku… ketika kita sedang berada di tengah kesesakan hidup, ingatlah akan kebaikan Allah di sepanjang hidup kita.
Bagaimana kasih Tuhan memelihara, menguatkan dan mencukupkan hidup kita.
Ada sepasang suam iistri yang memutuskan untuk bercerai setelah dua puluh tahun menikah.
Ketika mengurus pembagian harta "gono-gini" dan perjanjian finansial, sang suami membongkar sebuah kotak tua yang berisikan bukti-bukti pembayaran.
Tiba-tiba ia menggenggam secarik nota berwarna kekuningan karena dimakan waktu. Nota itu mencatat bukti pembayaran hotel di mana ia dan istrinya berbulan madu setelah menikah.
Kemudian secarik kertas lain, kali ini sebuah bukti angsuran mobil pertama mereka. la juga mendapati sebuah buktipembayaran rumah sakit untuk biaya kelahiran putri pertama mereka. Memandangi kertas-kertas usang tersebut, sang suami terdiam seribu bahasa. Tanpa sadar air mata meleleh di pipinya.
Perasaan tegang sekaligus senang yang dahulu ia rasakan tatkala membayar biayaangsuran rumah mereka, kembali memenuhi dadanya. Ingatan itu tiba-tiba menjadi begitu jelas, seperti baru terjadi kemarin.
Memori itu terus meluncur romantisnya berbulan madu bersama menantikan kelahiran putri pertama, dan bangganya dapat mengangsur mobil bekas serta membayar uang muka rumah yang mereka diami sampai hari ini.
la tidak dapat melanjutkan urusannya, ia meletakkan kotak tersebut dan tanpa menunda, ia menelpon istrinya. la berkata, "Kita telah melalui banyak hal bersama. Banyak hal indah telah kita lakukan bersama, dan ingatan itu masih begitu jelas.
Sudah terlalu banyak cinta yang kau ukir dalam hidupku. Kesetiaanmu selama dua puluh tahun tidak dapat dibayar dengan apapun. Aku aku ingin kita memulai hubungan kita dari awal lagi.
Saudara, memori akan kasih pada masa lalu membawa sukacita yang baru.
Kenangan akan masa lalu seperti inilah yang Daud rasakan ketika ia berkata, "Tetapi aku, di dalam kasih setia-Mu aku percaya Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena la telah berbuat baik kepadaku" (ay 6b) Ratapan Daud beralih pada permohonan yang gigih dan seteiah itu ia menemukan dirinya berada di tengah sukacita tatkala mengingat kasih setia Tuhan pada masa lampau.
Allah yang tidak pernah meninggalkannya sedikitpun. Allah yang telah berbuat baik kepadanya seumur hidupnya.
Saudara… Ingatan akan kebaikan-kebaikan Allah di sepanjang hidup kita akan menguatkan kita di tengah kesesakan yang dihadapi.
Yakinlah, bahwa ketika kita merasa Allah seolah-olah meninggalkan kita, itu hanya karena mata iman kita tak mampu melihat hal-hal baik di masa lalu.
Mari kita terus membangkitkan kenangan-kenangan saat berjalan bersama dengan Tuhan.
Memanggil kembali ingatan-ingatan tentang kebesaran TUHAN pada masa lalu.
Mengingat kembali satu per satu kebaikan Tuhan di sepanjang hidup kita.
Percayalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. la telah berbuat baik kepada kita sejak dulu, sekarang dan selamaNya. Amin.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pdt-dina-dethan-penpada-mth.jpg)